GINSI Minta Dilibatkan Sebagai Mitra Strategis Sektor Importasi

Rabu, 28 Agustus 2019 - 22:43 WIB
GINSI Minta Dilibatkan...
GINSI Minta Dilibatkan Sebagai Mitra Strategis Sektor Importasi
A A A
JAKARTA - Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI) mengajak pemerintah dan instansi terkait untuk melibatkan asosiasi sebagai mitra strategis, mengingat pendapatan negara dari kegiatan importasi yang berasal dari bea masuk dan pajak-pajak lainnya cukup besar.

Ketua BPD GINSI DKI Jakarta Capt. Subandi mengatakan, asosiasinya berkomitmen terus memberikan edukasi kepada para importir agar bisa mengembangkan jenis usahanya dengan peraturan-peraturan yang ada saat ini.

"Kami terus mengajak pemerintah agar mau melibatkan GINSI selaku asosiasi sebagai mitra strategis. Selama ini (yang kami rasakan) komitmen pemerintah masih kurang melibatkan asosiasi importir, sehingga seringkali kebijakan yang diterbitkan kurang tepat," ujar Subandi di dampingi Sekjen BPP GINSI Erwin Taufan, dalam keterangan resminya di Jakarta, Rabu (28/8/2019).

Subandi mengatakan, GINSI DKI Jakarta terus menginventaris manfaat kehadiran PLB di Indonesia. Oleh karenanya, ungkap dia, menggeneralisir importir nakal adalah anggapan yang salah. "Ke depan kita ingin menurunkan cost logistik nasional, maka kebijakan apa lagi yang akan diterbitkan pemerintah untuk hal itu. Kita akan terus pantau," ujarnya.

Kendati begitu, Subandi mengungkapkan sejumlah pungutan tak jelas atau kategori liar masih terjadi dilakukan oleh perusahaan agen pelayaran asing pengangkut ekspor impor pada aktivitas importasi. Pungutan liar itu antara lain; biaya EHS (equipment handling surcharges), biaya EHC (equipment handling cost), uang jaminan kontainer impor, biaya surveyor, administrasi impor, dokumen fee, dan lain sebagainya.

"Jika biaya-biaya itu enggak dibayar importir, maka dokumen delivery order (DO) enggak diberikan oleh agen pelayaran sehingga barang impor tidak bisa keluar dari pelabuhan.

Saat ini, terdaftar aktif sebanyak 400 perusahaan importir anggota GINSI DKI Jakarta. Pada kesempatan FGD itu juga dilakukan memorandum of understanding (MoU) antara pengurus GINSI DKI yang diwakili Ketua BPD GINSI DKI Jakarta Capt. Subandi dengan Petrus Tjandra selaku Presiden Direktur ICDX Logistik Berikat, salah satu perusahaan pengelola pusat logistik berikat.

Presdir PT ICDX Logistik Berikat Petrus Tjandra mengatakan, pengusaha Pusat Logistik Berikat (PLB) mengharapkan adanya kordinasi antarkementerian dan lembaga terkait guna menyukseskan fungsi dan peran PLB. "Fasilitas PLB sebagai solusi dalam memperbaiki performance logistik nasional yang kini merosot," ujarnya.

Berdasarkan data Bank Dunia, ujar Petrus, logistik performance indeks (LPI) Indonesia kini berada diposisi ke-46, jauh tertinggal dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia yang menempati urutan ke-41, Vietnam (39), China (26), Hong Kong (12) dan Singapura di urutan ke-7.
(fjo)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
GINSI Apresiasi Inpres...
GINSI Apresiasi Inpres Pembenahan Logistik dan Pengetatan Impor
GINSI Dukung Sikap Kemenperin...
GINSI Dukung Sikap Kemenperin Soal Importasi Baja
Banjir Impor Kosmetik...
Banjir Impor Kosmetik Ilegal, GINSI: Bikin Hancur Industri Lokal!
Ginsi Dorong Sosialisasi...
Ginsi Dorong Sosialisasi Perubahan Aturan Impor Baja
Produksi Baja Nasional...
Produksi Baja Nasional Belum Mampu Imbangi Kebutuhan Industri Pengguna
Tak Ada Faedah, GINSI...
Tak Ada Faedah, GINSI Tolak Biaya Survei Peti Kemas di Depo Empty
Berita Terkini
IHSG Ditutup Melemah...
IHSG Ditutup Melemah ke 6.315, 309 Saham Berakhir di Zona Merah
4 menit yang lalu
AREA Indonesia Siap...
AREA Indonesia Siap Perkuat Kolaborasi Dukung Program 3 Juta Rumah
22 menit yang lalu
EskaIasi Laut Merah...
EskaIasi Laut Merah Tekan Rupiah, Dolar AS Ditutup ke Rp17.936 Sore Ini
35 menit yang lalu
Mahasiswa Universitas...
Mahasiswa Universitas Paramadina Pelajari Investasi Syariah Bersama MNC Sekuritas
54 menit yang lalu
Kerugian Ekonomi Akibat...
Kerugian Ekonomi Akibat Obesitas Anak Capai Rp5.280 Triliun, Novo Nordisk Perluas Program Pencegahan
1 jam yang lalu
MNC Life, INKOPDIT dan...
MNC Life, INKOPDIT dan PANDAI Kolaborasi Perluas Akses Asuransi Jiwa bagi Anggota Koperasi Kredit
1 jam yang lalu
Infografis
Respons Donald Trump...
Respons Donald Trump usai Gambarnya sebagai Paus Viral
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved