Produksi Baja Nasional Belum Mampu Imbangi Kebutuhan Industri Pengguna
Kamis, 06 Mei 2021 - 13:16 WIB
loading...
Ilustrasi. FOTO/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Gabungan Importir Nasional (GINSI) mengemukakan pasokan komoditi produk besi, baja dan turunannya (BjLAS) dari China di awal tahun sampai tengah tahun 2020 terhenti, akibat Pandemi Virus Corona (Covid-19). BjLAS banyak digunakan sebagai bahan baku rangka atap baja ringan dan genteng metal, disamping juga digunakan pada sektor lain seperti otomotif dan elektronika. Dampaknya, kebutuhan baja nasional dari China sepanjang tahun lalu menurun drastis dan pasokan hanya berasal dari negara lain, seperti Vietnam, Korea, dan Jepang.
"Namum melemahnya perdagangan global pada tahun 2020 itupun berimbas terhadap perekonomian Indonesia. Bahkan aktivitas penurunan importasi sangat dirasakan, termasuk terhadap impor komoditi besi, baja dan turunannya tersebut," ujar Wakil Ketua Umum BPP GINSI bidang Logistik dan Kepelabuhanan,Erwin Taufan.
Baca Juga: Ginsi Dorong Sosialisasi Perubahan Aturan Impor Baja
Namun, imbuhnya, seiring mulai membaiknya perekonomian global termasuk di dalam negeri dengan tetap berjalannya aktivitas infrastruktur di berbagai wilayah, GINSI mencatat bahwa importasi produk BjLAS karbon pada periode Januari - Maret 2021 justru mengalami kenaikan 180% yakni dari 28.696 ton menjadi 80.371 ton jika periode yang sama 2020. Namun, kata Taufan, jika menggunakan benchmark 2019 (kondisi normal), impor BjLAS paduan Januri-Maret 2021 justru mengalami penurunan 47% (dari 167.501 ton menjadi 89.076 ton) dibandingkan Januari-Maret 2019.
Menurutnya, kenaikan importasi 2021 disebabkan naiknya permintaan didalam negeri seiring pemulihan ekonomi secara nasional, sementara disisi lain kapasitas produksi baja nasional masih lebih rendah ketimbang kapasitas sektor industri penggunanya. "Namun China juga telah menghapus fasilitas tax rebate sebesar 13% untuk produk BjLAS yang diekspor, sehingga kami memperkirakan dengan adanya kebijakan negara itu, maka impor BjLAS dari China justru akan menurun pada tahun 2021," ujar Taufan.
"Namum melemahnya perdagangan global pada tahun 2020 itupun berimbas terhadap perekonomian Indonesia. Bahkan aktivitas penurunan importasi sangat dirasakan, termasuk terhadap impor komoditi besi, baja dan turunannya tersebut," ujar Wakil Ketua Umum BPP GINSI bidang Logistik dan Kepelabuhanan,Erwin Taufan.
Baca Juga: Ginsi Dorong Sosialisasi Perubahan Aturan Impor Baja
Namun, imbuhnya, seiring mulai membaiknya perekonomian global termasuk di dalam negeri dengan tetap berjalannya aktivitas infrastruktur di berbagai wilayah, GINSI mencatat bahwa importasi produk BjLAS karbon pada periode Januari - Maret 2021 justru mengalami kenaikan 180% yakni dari 28.696 ton menjadi 80.371 ton jika periode yang sama 2020. Namun, kata Taufan, jika menggunakan benchmark 2019 (kondisi normal), impor BjLAS paduan Januri-Maret 2021 justru mengalami penurunan 47% (dari 167.501 ton menjadi 89.076 ton) dibandingkan Januari-Maret 2019.
Menurutnya, kenaikan importasi 2021 disebabkan naiknya permintaan didalam negeri seiring pemulihan ekonomi secara nasional, sementara disisi lain kapasitas produksi baja nasional masih lebih rendah ketimbang kapasitas sektor industri penggunanya. "Namun China juga telah menghapus fasilitas tax rebate sebesar 13% untuk produk BjLAS yang diekspor, sehingga kami memperkirakan dengan adanya kebijakan negara itu, maka impor BjLAS dari China justru akan menurun pada tahun 2021," ujar Taufan.
Lihat Juga :