Program Serasi Kalsel Bisa Jadi Penyangga Pangan Ibukota Baru

Minggu, 20 Oktober 2019 - 19:02 WIB
Program Serasi Kalsel...
Program Serasi Kalsel Bisa Jadi Penyangga Pangan Ibukota Baru
A A A
JAKARTA - Kalimantan Selatan (Kalsel) mulai tahun 2019 mengatur manajemen pertanian. Dengan program Serasi (Selamatkan Rawa, Sejahterakan Perani), Kalsel siap menjadi penyangga pangan ibukota negara yang baru di Kalimantan Timur (Kaltim).

Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kalimantan Selatan, Syamsir Rahman, optimis dengan bergulirnya program Serasi yang dimulai pada Masa Tanam Musim Hujan (Oktober 2019-Maret 2020) pada areal 250 ribu hektar, bisa meningkatkan produksi padi dari 2,15 juta ton menjadi 4 juta ton pada tahun 2020.

"Sasaran tersebut akan bisa dicapai karena sarana dan prasarana pendukung tahun 2019 bisa selesai. Khususnya pembuatan saluran buatan persediaan air di musim kemarau," kata Syamsir.

Selain itu, ungkap Syamsir, lahan tidur yang sebelumnya kurang maksimal dimanfaatkan sudah mulai dibuka dengan program Luas Tambah Tanam (LTT). Program tersebut menjadi pendongkrak percepatan tanam di lahan yang tidak memungkinkan, sehingga bisa diberdayakan dalam waktu singkat.

"Sebagai daerah penyangga pangan ibukota baru, Kalsel juga memproduksi pangan organik seluas 30 ribu ha sampai tahun 2020 dan akan terus ditambah luasannya," tuturnya.

Untuk mempercepat pengolahan lahan agar bisa selesai pada tahap awal, Syamsir mengatakan, pihaknya telah mengerahkan alat dan mesin pertanian (alsintan). Bahkan juga mengusulkan lagi tambahan 50 unit excavator dan 284 unit traktor roda empat ke Kementerian Pertanian (Kementan).

"Alat berat yang masih kurang perlu ditambah agar periode tanam Oktober-Maret dapat terealisasi," katanya.

Untuk kelancaran operasional di lapangan, Dinas TPH juga melatih calon operator seperti operator combine harvester (mesin pemanen) secara bertahap. Tahap pertama untuk pemula telah melatih 80 calon operator dari Kabupaten Tapin dan Hulu Sungai Tengah selama 3 hari.

Syamsir mengakui, meskipun di beberapa daerah program Serasi ada keterlambatan karena kekurangan alat berat seperti excavator. Namun petani bersama penyuluh dan perangkat lain yang terlibat seperti TNI terus bergerak berpacu dengan waktu, mengingat pengolahan lahan harus tuntas Oktober 2019.

Dalam Program Serasi di Kalsel, kawasan rawa yang potensial dapat ditanami dua kali setahun dengan dua jenis varietas yakni unggul dan lokal. Diharapkan Indek Pertanaman (IP) naik dari 100 ke 200,bahkan IP 300 termasuk untuk budidaya hortikultura.

Beberapa kawasan lahan rawa yang potensial yakni Kabupaten Tapin, Hulu Sungai Selatan (HSS), Hulu Sungai Tengah (HST), Hulu Sungai Utara (HSU), Balangan dan Tabalong.

"Lahan rawa lebak paling luas berada di kabupaten Tapin, HSS dan HSU yang mencapai ratusan ribu hektar, sehingga akan terus diberdayakan dengan dua pola. Yakni modernisasi teknologi mekanik dan pola kearifan lokal," tutur Syamsir.

Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan, Sarwo Edhy, mengatakan Kementan mengucurkan anggaran Rp600 miliar untuk program Serasi di Kalsel. Dengan program ini, lahan rawa yang selama ini nganggur diolah dan dieffektifkan menjadi lahan pertanian.

"Anggaran yang dikucurkan sendiri sesuai dengan luasan lahan yang dikelola. Di mana setiap hektarenya dianggarkan Rp4,3 juta," kata Sarwo Edhy, Minggu (20/10/2019).

Sarwo Edhy menambahkan, Kalsel memiliki lahan rawa hampir 80% dan merupakan potensi besar. Namun, untuk mengoptimalkan potensi tersebut tidak mudah. Bukan hanya tanahnya yang memerlukan waktu untuk proses perbaikan, sumber daya manusia (SDM), juga menjadi kendala.

"Contohnya, lahan yang sebelumnya sudah pemerintah buka untuk budidaya padi, ternyata wilayah itu tidak ada penduduknya, sehingga pemerintah kesulitan mencari yang akan bertanam," ungkapnya.

Karena itu kemudian, pemerintah memberikan contoh cara mengelola lahan rawa dan memfasilitasinya hingga berjalan di Jejangkit. Bahkan kini akses di lokasi Jejangkit sudah jauh lebih baik dan desanya pun terbangun.

"Awalnya akses jalanannya tidak bisa dilalui mobil karena hanya jalan kecil. Lalu dengan adanya optimalisasi lahan rawa tersebut akhirnya dibuat jalan untuk mobilisasi alat-alat berat. Jalannya sudah diaspal, listrik juga, pompa besar. Kini, lokasi ini juga ada integrasi ternak ayam, itik, ikan, juga komoditas pertanian lainnya seperti sayuran," pungkasnya.
(ven)
Berita Terkait
Urban Farming, Bertani...
Urban Farming, Bertani di Lahan Mini Solusi Ketahanan Pangan
Target Swasembada Pangan...
Target Swasembada Pangan 2027 Diyakini Mampu Diwujudkan
Pertanian Keluarga Solusi...
Pertanian Keluarga Solusi Ketahanan Pangan
Kementan Tingkatkan...
Kementan Tingkatkan Produksi Pangan Lewat Optimasi Lahan Rawa
Penyempitan Lahan Sawah...
Penyempitan Lahan Sawah Bisa Ancam Ketahanan Pangan
Penyuluh-Petani Dukung...
Penyuluh-Petani Dukung Program Kostratani untuk Kekuatan Pangan Nasional
Berita Terkini
Ditampar Tarif Impor...
Ditampar Tarif Impor Baru Trump, IHSG Diramal Ambruk Lagi ke 6.150
19 menit yang lalu
Eropa Butuh Rp182,5...
Eropa Butuh Rp182,5 Triliun demi Mengamankan Pasokan 250 Kargo Gas Alam Cair
1 jam yang lalu
Tarif Impor Terbaru...
Tarif Impor Terbaru Trump Hantam Negara-negara Termiskin, Bagaimana Nasibnya
3 jam yang lalu
KAI Group Angkut 16,3...
KAI Group Angkut 16,3 Juta Penumpang Selama Angkutan Lebaran 2025
5 jam yang lalu
Harga Minyak Ikut Lunglai...
Harga Minyak Ikut Lunglai Terpukul Tarif Resiprokal Trump
6 jam yang lalu
Pascalebaran, Harga...
Pascalebaran, Harga Beras, Bawang, Cabai, hingga Daging Mulai Turun
7 jam yang lalu
Infografis
Pewaris Kerajaan Inggris...
Pewaris Kerajaan Inggris Pangeran William Jadi Target Drone Rusia
Copyright ©2025 SINDOnews.com All Rights Reserved