Ekonom Ingatkan Tantangan Ekonomi ke Depan Semakin Kompleks

Senin, 28 Oktober 2019 - 22:49 WIB
Ekonom Ingatkan Tantangan...
Ekonom Ingatkan Tantangan Ekonomi ke Depan Semakin Kompleks
A A A
JAKARTA - Pelemahan dan resesi ekonomi dunia masih akan menjadi tantangan di era pemerintahan Joko Widodo dan Ma'ruf Amin yang telah dilantik sebagai presiden dan wakil presiden periode 2019-2024.

Menurut peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Andry Satrio Nugroho, pada periode kedua ini, presiden dihadapkan dengan tantangan ekonomi yang tidak mudah. Perang dagang Amerika Serikat (AS)-China kini dihadapkan pada kondisi kedua negara yang sama-sama mulai menanggung dampaknya.

"Alih-alih mendapatkan kesempatan dari diversi perdagangan, Indonesia malah menjadi korban perang dagang," ujarnya di Jakarta, Senin (28/10/2019).

Andry melanjutkan, perang dagang antara AS dan China mampu menekan pertumbuhan ekonomi pada kuartal ketiga China menjadi yang terendah selama 27 tahun. Pada September, pertumbuhan ekspor China menurun 3,2%, sementara impornya menurun hingga 8,5% dibanding tahun lalu.

"Tentunya penurunan pertumbuhan ekspor terbesar terjadi dengan Amerika Serikat dengan penurunan sebesar 7,8% dan impor menurun hingga sebesar 31,2%. Perdagangan China sudah mengarah pada perlambatan," jelasnya.

Menurutnya, pelemahan indikator perdagangan ini disebabkan oleh pengenaan tarif yang tinggi oleh AS terhadap komoditas impor dari China. Kondisi ini memaksa industri domestik China untuk mengencangkan ikat pinggang. Beberapa diantaranya memilih untuk relokasi pabrik serta basis produksinya ke beberapa negara sekitar seperti India, Vietnam, Thailand dan Malaysia demi tetap masuk ke pasar Amerika Serikat.

"Melambatnya perekonomian China bisa menjadi pertanda yang tidak cukup menggembirakan bagi perdagangan Indonesia. Alasannya, mitra dagang terbesar Indonesia adalah China dengan total perdagangan mencapai USD45,9 miliar sepanjang Januari hingga Agustus tahun ini. China juga menjadi negara tujuan ekspor terbesar asal Indonesia mencapai USD17,2 miliar," paparnya.

Beberapa komoditas yang diekspor seperti minyak sawit mentah (CPO), batu bara, besi dan baja, bijih tembaga, dan produk dari kayu diperkirakan rentan mengalami pelemahan dalam lima tahun ini akibat melemahnya permintaan dari China.

"Besarnya porsi perekonomian Indonesia ditopang oleh komoditas CPO. Jika terjadi penurunan permintaan dari pembeli terbesar seperti China, maka dipastikan perekonomian Indonesia akan melemah," kata Andry.

Ekonom Senior Indef Aviliani mengatakan, menteri perindustrian perlu melakukan arsitektur industri baru mengingat era liberalisasi telah berubah menjadi era proteksionisme yang menyebabkan model pengembangan industri juga berubah ke arah global value chain.

"Sehingga pengembangan industri ke depan harus fokus pada kebutuhan dari market yang ada. Tentunya dikaitkan dengan insentif agar memiliki daya saing yang berorientasi ekspor. Selain itu, skema insentif untuk substitusi impor sehingga nilai tambah lebih tinggi," ujarnya.

Kepala Ekonom DBS Indonesia Masyita Crystallin mengatakan, tantangan terbesar yang dihadapi Presiden Jokowi adalah terus melakukan reformasi, baik infrastruktur maupun infrastruktur lunak (kemudahan berbisnis).

Tantangan lainnya adalah menemukan mesin ekonomi yang dapat mendorong pertumbuhan di atas potensi sebesar 5% sambil mempertahankan stabilitas Rupiah. Dalam hal ini, manufaktur harus memberikan nilai tambah yang lebih tinggi dan diversifikasi jauh dari ekonomi berbasis komoditas.

"Dengan permintaan domestik yang stabil, Indonesia dapat dengan mudah tumbuh di sekitar 5%. Meskipun yang menjadi tantangan adalah meningkatkan potensi pertumbuhan ke target pemerintah sebesar 6%," ungkapnya.

Dalam jangka pendek, pertumbuhan global yang melambat mungkin berdampak pada pertumbuhan Indonesia. Meski begitu, stabilitas pertumbuhan Indonesia relatif lebih baik dibandingkan dengan emerging market Asia lainnya.

"Risiko utama dalam jangka pendek adalah terus menurunnya harga komoditas, pertumbuhan investasi swasta yang lambat Sedangkan dalam jangka menengah, untuk tumbuh di atas potensi, Indonesia perlu mengembangkan mesin pertumbuhan yang solid," tuturnya.
(ind)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Efek Perang Dagang,...
Efek Perang Dagang, Indef Revisi Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi RI di 2025 Jadi 4,87%
Negara-negara Ini Paling...
Negara-negara Ini Paling Tahan Terhadap Perang Dagang, RI Termasuk!
Sri Mulyani: Perang...
Sri Mulyani: Perang Dagang AS-China Bisa Berdampak ke Pemulihan Ekonomi
Indef Perkirakan Pertumbuhan...
Indef Perkirakan Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2022 Capai 4,3%
Uni Eropa Disarankan...
Uni Eropa Disarankan Melawan China, Perang Dagang Berikutnya?
Kinerja ALMI Terpukul...
Kinerja ALMI Terpukul Kondisi Perekonomian Global
Berita Terkini
Dukung Industri Kreatif,...
Dukung Industri Kreatif, Joshua Khubani Siapkan Investasi USD100 Juta
3 jam yang lalu
Jelajahi 197 Negara,...
Jelajahi 197 Negara, Peneliti Temukan Kesederhanaan Jadi Kunci Kebahagiaan
3 jam yang lalu
Pasar Keuangan Ambruk...
Pasar Keuangan Ambruk Lebih Dalam, Rupiah Diramal Tembus Rp19.000 Akhir Bulan Ini
3 jam yang lalu
BRIN Apresiasi Program...
BRIN Apresiasi Program Konservasi Astra Agro Dukung Target Biodiversitas
4 jam yang lalu
Harga Emas Antam Hari...
Harga Emas Antam Hari Ini Mager di Rp2,73 Juta per Gram, Berikut Rinciannya
4 jam yang lalu
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Perkuat Ketahanan Pangan Melalui Program CID
5 jam yang lalu
Infografis
Bakar Uang Demi Perang:...
Bakar Uang Demi Perang: Jejak Kelam Ekonomi Militer AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved