Harga Minyak Turun Akibat Keraguan Kesepakatan Dagang AS-China

Senin, 11 November 2019 - 13:41 WIB
Harga Minyak Turun Akibat...
Harga Minyak Turun Akibat Keraguan Kesepakatan Dagang AS-China
A A A
SINGAPURA - Harga minyak mentah dunia turun pada perdagangan Senin (11/11/2019), akibat keraguan atas prospek kesepakatan perdagangan antara Amerika Serikat dan China. Selain itu, jatuhnya harga si emas hitam juga disebabkan kelebihan pasokan yang membebani pasar.

Menilik dari Reuters, harga minyak mentah Brent International turun 55 sen alias 0,9% menjadi USD61,96 per barel pada pukul 03:50 GMT. Sedangkan pada sesi sebelumnya, harga Brent naik 1,3%.

Harga minyak mentah patokan AS, West Texas Intermediate berkurang 47 sen atau 0,8% ke level USD56,77 per barel, setelah naik 1,9% pada minggu lalu.

Presiden AS, Donald Trump, mengatakan pada Sabtu pekan lalu, bahwa pembicaraan perdagangan dengan China berjalan dengan "sangat baik," tetapi Amerika Serikat hanya akan membuat kesepakatan dengan Beijing jika waktunya tepat untuk Amerika.

Perang dagang 16 bulan antara dua ekonomi terbesar dunia telah memperlambat pertumbuhan ekonomi di seluruh dunia dan mendorong para analis untuk menurunkan perkiraan permintaan minyak, meningkatkan kekhawatiran kelebihan pasokan dapat berkembang di tahun 2020.

Trump mengkoreksi ada laporan yang salah tentang kesediaan AS untuk menaikkan tarif sebagai bagian dari perjanjian "fase pertama", berita yang telah mendorong pasar.

Menggarisbawahi dampak perang dagang, data selama akhir pekan menunjukkan harga produsen China turun paling tinggi dalam lebih dari tiga tahun pada Oktober lalu, dimana sektor manufaktur melemah terkena perselisihan dagang dan penurunan permintaan.

"Harga minyak direndam akibat meningkatnya kembali ketidakpastian perdagangan dan penguatan dolar AS," kata Margaret Yang, analis pasar di CMC Markets di Singapura.

Margaret melanjutkan pasokan minyak diperkirakan tetap cukup kuat dalam waktu dekat karena OPEC enggan melakukan pemotongan lebih lanjut. Sedangkan produksi minyak di Amerika Serikat terus meningkat.

Sekretaris Jenderal OPEC, Mohammad Barkindo, mengatakan OPEC tidak perlu lagi memangkas produksi karena prospek pasar minyak pada tahun depan, kemungkinan besar berpotensi naik.

Sementara itu, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya yang dipimpin Rusia akan bertemu pada Desember mendatang di Markas Besar OPEC di Wina, Austria. Aliansi OPEC+ berupaya untuk mendorong harga minyak, sejak Januari telah memangkas produksi sebesar 1,2 juta barel per hari hingga Maret 2020.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Harga Minyak Dunia Jatuh...
Harga Minyak Dunia Jatuh Dibayangi Ketegangan Hubungan AS-China
Harga Minyak Dunia Kembali...
Harga Minyak Dunia Kembali Jatuh Diterpa Ketegangan Perdagangan AS-China
China Kecam Blokade...
China Kecam Blokade Total Selat Hormuz Melawan Kepentingan Global, Dunia Bakal Chaos?
Harga Minyak Mentah...
Harga Minyak Mentah Meroket dalam Hitungan Jam usai AS Serang Iran Lagi
Ketegangan AS-China...
Ketegangan AS-China Memuncak Harga Minyak Kembali Jatuh
Menguak Transaksi Gelap...
Menguak Transaksi Gelap Minyak Rp9,7 Triliun Sebelum Tweet Trump Soal Iran
Berita Terkini
Bahlil Ungkap Penyebab...
Bahlil Ungkap Penyebab Pemadaman Listrik di Sejumlah Daerah, Janji Pulih Cepat
5 jam yang lalu
Indodax Diapresiasi...
Indodax Diapresiasi Atas Edukasi dan Pengembangan Pasar Aset Kripto
5 jam yang lalu
Harga Pertamax Naik...
Harga Pertamax Naik Rp16.250, Bahlil: Sudah Diperhitungkan Secara Bijak
5 jam yang lalu
Lewat Program Pondasi,...
Lewat Program Pondasi, Brahma Binabakti Renovasi Rumah Tak Layak di Muaro Jambi
5 jam yang lalu
Harga Pertamax Naik...
Harga Pertamax Naik Jadi Rp16.250, Bos Pertamina: Telah Mempertimbangkan Daya Beli Masyarakat
6 jam yang lalu
Janji Manis Ledakan...
Janji Manis Ledakan Ekonomi Piala Dunia 2026, Awas! Tensi Geopolitik Bisa Bikin Zonk
6 jam yang lalu
Infografis
7 Alasan Dunia Tak Menghukum...
7 Alasan Dunia Tak Menghukum Trump dan Netanyahu meski AS-Israel Bom Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved