Pengusaha Optimistis Perdagangan Berjangka pada 2020 Meningkat

Jum'at, 06 Desember 2019 - 10:29 WIB
Pengusaha Optimistis...
Pengusaha Optimistis Perdagangan Berjangka pada 2020 Meningkat
A A A
JAKARTA - CEO PT Mentari Mulia Berjangka Ofik Taufiqurohman optimistis tahun depan perusahaan yang dipimpinnya bisa masuk jajaran 10 besar. Untuk mencapai target tersebut, menurut Taufiq, perusahaan akan melanjutkan sosialisasi dan edukasi tentang derivatif dan perdagangan berjangka.

Hal tersebut diungkapkannya pada forum internasional bertajuk “Indonesia Derivative Reach International Market” Summit 2019 yang diselenggarakan di Hotel Mulia, Jakarta, kemarin. Selain edukasi dan sosialisasi, lanjutnya, juga bersinergi dengan menandatangani MoU antara PT Mentari Mulia Berjangka dengan First Gold sebagai penasihat dan konsultan di perdagangan berjangka.

"Mentari Mulia Berjangka bersinergi dan berkomitmen untuk terus melanjutkan edukasi tentang derivatif dan perdagangan berjangka demi mengembangkan potensi pasar derivatif di Indonesia hingga internasional," katanya.

Saat ini semakin tinggi minat masyarakat untuk terlibat dalam PBK. Ini ditandai dengan tren lonjakan volume transaksi kontrak multilateral dan kontrak Sistem Perdagangan Alternatif (SPA) baik di Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) maupun Bursa Berjangka Derivatif Indonesia (BKDI) dalam beberapa tahun terakhir.

Data Bappebti menunjukkan bahwa transaksi BBJ dan BKDI pada 2016 mencapai 7.012.220 lot atau meningkat 6,40% dari tahun sebelumnya. Pada 2018, peningkatannya mencapai 25,20% atau menjadi 8.821.762 lot. Adapun, volume transaksi kontrak berjangka pada Januari-Agustus 2019 tercatat sebesar 7.043.116 Lot. Jumlah itu diperkirakan terus meningkat seiring masifnya upaya sosialisasi dan edukasi terkait pilihan investasi PBK.

Forum “Indonesia Derivative Reach International Market” Summit 2019, jelas Taufiq melihat lebih jauh potensi PBK dan sebagai upaya mengedukasi masyarakat. "Kami berkomitmen membangun dan memperkuat SDM yang handal serta membuat inovasi baru dalam pelayanannya kepada nasabah, agar dapat lebih kompetitif di dunia perdagangan berjangka komoditi," tandasnya.

Harapan yang sama juga diungkapkan Direktur Utama PT Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) atau Jakarta Futures Exchange (JFX) Stephanus Paulus Lumintang. Menurut Paulus, tahun 2020 akan terjadi kenaikan volume transaksi dalam Perdagangan Berjangka Komoditi (PBK) sebanyak 15%. Di mana, emas dan minyak sawit menjadi komoditas yang akan paling banyak ditransaksikan oleh nasabah yang saat ini berjumlah 160.000 orang.

"Tahun 2019 di JFX merupakan tahun kebangkitan, saya prediksikan 17 hari sisa perdagangan ini bisa mencapai target, bahkan bisa naik 17%-21% tahun ini," ujar Paulus yang juga hadir dalam forum Indonesia Derivative Reach International Market Summit 2019 tersebut. Target tersebut, menurutnya, didorong faktor politik Indonesia yang sudah stabil dan pertumbuhan ekonomi Indonesia di atas Amerika Serikat.

Ditanya pengaruh perang dagang AS-Tiongkok terhadap gairah perdagangan berjangka, Paulus mengatakan, perang dagang juga menjadi faktor yang membuat harga komoditas menjadi fluktuatif. Namun, tambahnya, dirinya justru senang dengan kondisi tersebut. "I hate war, tapi saya suka situasinya. Dari situ banyak kesempatan untuk untung," katanya.

Potensi PBK di sejumlah negara Asia Tenggara pun terbuka. Apalagi, baik BBJ terus memperluas kerja sama dengan beberapa bursa berjangka luar negeri. Harapannya, investor asing akan semakin banyak masuk ke perdagangan berjangka dalam negeri.

Jika akhirnya minat investor asing membuat perdagangan bursa berjangka menjadi ramai, maka Indonesia semakin cepat mencapai mimpi untuk menjadi acuan harga komoditas dunia.

Seperti diketahui, Indonesia merupakan produsen dan eksportir terbesar di dunia untuk beberapa komoditas, seperti kelapa sawit, karet, nikel, dan timah sehingga potensi untuk menjadi harga acuan komoditas sangat besar.

"Meski belum menjadi referensi harga dunia, tapi sudah banyak dilirik pelaku usaha diluar negeri. Contohnya untuk pasar timah di BBJ, tiap hari jadi cerminan dari London dan Kuala Lumpur. Tapi, kami yakin dalam 5 tahun kedepan, Indonesia bisa jadi referensi harga dunia," ungkap Paulus.
(don)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
UU Cipta Kerja Gairahkan...
UU Cipta Kerja Gairahkan Investasi dan Perdagangan Internasional
Disetujui Jadi UU, Indonesia...
Disetujui Jadi UU, Indonesia Punya Jalan Tol Perdagangan Internasional
Neraca Perdagangan Indonesia...
Neraca Perdagangan Indonesia pada Januari 2025 Catat Surplus USD 3,45 Miliar
Penimbun Minyak Goreng...
Penimbun Minyak Goreng Lakukan Kejahatan Pangan, DPR: Harus Dijerat UU Perdagangan
Polda Jateng Ungkap...
Polda Jateng Ungkap 28 Kasus TPPO dalam 20 Hari, 29 Pelaku Ditangkap
Gagalkan Perdagangan...
Gagalkan Perdagangan Orang ke Malaysia, Ditpolair Amankan Satu Nahkoda Speed Boat
Berita Terkini
Pertamina EP Bukukan...
Pertamina EP Bukukan Produksi Migas 205 Ribu MBOEPD Sepanjang 2025
33 menit yang lalu
Diganjar Rating Negatif...
Diganjar Rating Negatif dari Moody's, Danantara Bilang Begini
48 menit yang lalu
Harga Emas Antam Naik...
Harga Emas Antam Naik Rp11.000 per Gram, Ini Rincian Lengkapnya
1 jam yang lalu
IHSG Pagi Ini Dibuka...
IHSG Pagi Ini Dibuka Hijau Sesaat, Lalu Ambruk Lebih dari 1%
2 jam yang lalu
Dirut BRI Hery Gunardi:...
Dirut BRI Hery Gunardi: Adopsi AI Jadi Kunci Perbankan Pertahankan Nasabah
2 jam yang lalu
Kebijakan Tambang RI...
Kebijakan Tambang RI Berubah-ubah, Investor China Mulai Alihkan Investasi Nikel ke Afrika
3 jam yang lalu
Infografis
3 Brigjen Dapat Promosi...
3 Brigjen Dapat Promosi Jabatan Jadi Irjen Pol pada Akhir Februari 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved