Kejatuhan Saham Apple Seret Wall Street Dekati Rekor Terendah

Selasa, 10 Desember 2019 - 09:34 WIB
Kejatuhan Saham Apple...
Kejatuhan Saham Apple Seret Wall Street Dekati Rekor Terendah
A A A
NEW YORK - Wall Street terkapar pada perdagangan Senin, waktu setempat usai terseret hingga mendekati rekor terendah di tengah kejatuhan saham Apple. Sementara saham sektor kesehatan turut mengalami kejatuhan dan investor tengah bersiap menghadapi titik balik potensial dalam perang perdagangan Amerika Serikat (AS) versus China.

Pada awal pekan, Dow Jones Industrial Average jatuh 105,46 poin atau 0,38% ke level 27.909,6 yang mengiringi kejatuhan indeks S&P 500 usai kehilangan 9,94 poin setara dengan 0,32% menjadu 3.135,97. Selanjutnya tren pelemahan juga menimpa komposit Nasdaq yang ambruk 34,70 poin atau 0,4% di posisi 8.621,83.

Kemerosotan 1,4% saham Apple (AAPL. O) yang sensitif terhadap perkembangan perdagangan, menjadi salah satu dengan pelemahan terbesar dari tiga indeks utama. Sebagian besar sektor 500 S&P lebih rendah, dengan teknologi dan kesehatan mengalami tekanan paling besar.

Terkait aksi korporasi, Merck & Co (MRK. N) mengatakan akan membeli obat kanker dari pengembang ArQule Inc (ARQL. O) senilai USD2.70 miliar, menyebabkan saham ArQule menggandakan nilainya. Sedangkan saham Merck tergelincir 0,1%. Saham konglomerat industri 3M Co (MMM. N) jatuh 1,0% setelah Citigroup memotong rating pada saham menjadi "netral" dari "membeli."

Para pelaku pasar tengah fokus kepada tanggal 15 Desember, ketika putaran berikutnya tarif AS terhadap impor China bakal diberlakukan apabila tidak kunjung mencapai kesepakatan. Sementara itu China berharap bisa mencapai kata sepakat terkait perdagangan dengan Amerika Serikat sesegera mungkin.

Investor berharap setidaknya sebuah perjanjian awal AS-China bisa tercapai untuk mendorong indeks saham utama ke level tertinggi. "Semua mata masih tertuju pada apa yang akan terjadi dalam perang tarif di 15 Desember," kata Chuck Carlson selaku Chief Executive Officer di Horizon Investment Services.

Selain peningkatan sentimen investor atas perdagangan, harapan US Federal Reserve bakal memangkas suku bunga awal tahun ini dan beberapa bantuan atas keuntungan perusahaan telah membantu mendorong indeks S&P 500 naik 25% sepanjang tahun 2019. Minggu ini, investor juga akan fokus pada pertemuan Kebijakan Fed, pemilihan di Britania Raya, dan perjanjian potensial yang berkaitan dengan pakta perdagangan Amerika Utara.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Wall Street Terdongkrak...
Wall Street Terdongkrak Diterpa Optimisme Pengembangan Vaksin Corona
Wall Street Berbalik...
Wall Street Berbalik Jatuh di Tengah Ancaman Trump Tutup Facebook dan Twitter
Wall Street Mixed Saat...
Wall Street Mixed Saat Dow dan S&P 500 Jatuh Dibayangi Kasus Baru Covid-19
Wall Street Turun Tajam...
Wall Street Turun Tajam Dihantam Aksi Jual Saham Teknologi
Microsoft Pikir-pikir...
Microsoft Pikir-pikir Beli TikTok Bikin Nasdaq Cetak Rekor, Wall Street Rebound
Wall Street Lebih Tinggi...
Wall Street Lebih Tinggi di Tengah Ancang-ancang Stimulus USD1 Triliun Gedung Putih
Berita Terkini
BCA Gelar BYC Fest 2026...
BCA Gelar BYC Fest 2026 Dukung Kolaborasi Pengusaha Muda
49 menit yang lalu
Sinergi Lintas Sektor...
Sinergi Lintas Sektor Percepat Penurunan Stunting menuju Indonesia Emas 2045
1 jam yang lalu
Sepekan ke Depan, Rupiah...
Sepekan ke Depan, Rupiah Masih Akan Dibayangi Tekanan
1 jam yang lalu
BRI Life Hadirkan Solusi...
BRI Life Hadirkan Solusi Perlindungan Kesehatan dan Finansial
4 jam yang lalu
IHSG Naik 0,34% dalam...
IHSG Naik 0,34% dalam Sepekan, Ini Daftar Saham Cuan dan Rugi Terbesar
4 jam yang lalu
Perkuat Ekonomi Daerah,...
Perkuat Ekonomi Daerah, Dana Bagi Hasil Tambang Perlu Dievaluasi
5 jam yang lalu
Infografis
Apple Kehilangan USD300...
Apple Kehilangan USD300 Miliar Akibat Tarif Trump
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved