Semangat Sabilulungan dan Toleransi Membuat Hidup Tak Lagi Pedas

Selasa, 31 Desember 2019 - 07:46 WIB
Semangat Sabilulungan dan Toleransi Membuat Hidup Tak Lagi Pedas
Semangat Sabilulungan dan Toleransi Membuat Hidup Tak Lagi Pedas
A A A
BERADA di dalam kepungan modernisasi tak membuat warga sebuah desa menjadi terbelakang. Hal itulah yang dibuktikan oleh warga Desa Lengkong Kulon, Pagedangan, Kabupaten Tangerang. Penduduk di desa yang dikenal dengan sebutan Kampung Sawah itu seolah tak mau terlibas oleh perkembangan zaman.

Yuyun (35) terlihat sibuk melayani pembeli bakso yang dijualnya. Tangannya tampak cekatan meracik bumbu, memasukkan mie ke dalam mangkok dan menuangkan kuah bakso dari panci. Usaha itu sudah dilakoninya selama lima tahun terakhir.

Sehari, dia bisa menjual 100 mangkok bakso ke warga sekitar. Rezeki yang didapatnya bakal bertambah saat proyek perumahan salah satu developer perumahan di Serpong, di sekitar Kampung Sawah sedang berlangsung. Biasanya, para pekerja melahap bakso yang dijualnya saat jam istirahat.

Sayangnya, menjelang tutup tahun, banyak pekerja proyek yang libur. Alhasil, pundi-pundi yang dikumpulkan Yuyun tak sebanyak hari-hari biasa. Meski tidak pula membuat panci pendapatannya kering kerontang. "Terkadang juga sepi pembeli. Tapi selalu ada," ujarnya saat ditemui di Kampung Sawah, Senin (30/12/2019).

Bagi Yuyun, Kampung Sawah memiliki kenangan tersendiri. Disinilah dia bertemu dengan suaminya, Yadi (45). Meskipun berasal dari Lampung, namun Yadi sudah merasa diahirkan di Kampung Sawah. Lima tahun lalu, Yadi masih memiliki pekerjaan sebagai buruh tani di desa itu. Namun, seiring dengan habisnya lahan persawahan, Yadi pun memutuskan untuk bekerja bersama istrinya.

"Sekitar tahun 2014 berhenti ke sawah karena lahannya sudah tidak ada. Sekarang kegiatannya jualan. Sayur dan cabai, cabai rawit yang pedas," ungkapnya terkekeh. Selain menjual Bakso, Yuyun dan Yadi juga menjual bahan-bahan kebutuhan pokok lainnya seperti sayuran, ikan, dan daging. Untuk menopang ekonomi keluarga, keduanya juga menyewakan sebagian rumah yang dimilikinya bagi para pekerja di proyek perumahan.

Wanita yang lahir dan menghabiskan seluruh waktunya di Kampung Sawah itu tak menyangka desa yang dulunya merupakan hamparan sawah yang luas kini berubah menjadi kota mandiri yang berisi hunian kelas menengah dengan beragam fasilitas modern. Lima tahun lalu, hembusan angin yang sejuk dan semerbak wangi padi masih melekat di penciuman warga desa ini. Sekarang, Kampung Sawah berada di tengah-tengah permukiman gedongan.

Semangat Sabilulungan dan Toleransi Membuat Hidup Tak Lagi Pedas


Warga desa Kampung Sawah sering berkelakar dengan menyebut desanya sebagai Kampung Perumahan bukan lagi Kampung Sawah. Desa ini dikelilingi tembok beton sebagai pembatas dengan kawasan perumahan. "Warga sering bercanda dan menyebutnya sebagai tembok Berlin," kata Yuli Sulastri, kader Posyandu Lengkong Kulon.

Kampung Sawah dihuni sekitar 570 kepala keluarga (KK) dengan jumlah penduduk sekitar 1.950-an jiwa. Meski berada di tengah-tengah permukiman mewah, warga desa ini memiliki semangat yang tinggi untuk maju dan tetap eksis di tengah modernisasi kawasan Serpong yang sangat masif.
Halaman :
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
berita/ rendering in 0.1609 seconds (11.252#12.26)