Penerimaan Pajak 2019 Meleset dari Target, Sri Mulyani Ungkap Penyebabnya

Selasa, 07 Januari 2020 - 20:55 WIB
Penerimaan Pajak 2019...
Penerimaan Pajak 2019 Meleset dari Target, Sri Mulyani Ungkap Penyebabnya
A A A
JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan, sektor mana saja yang mengalami tekanan hingga mempengaruhi penerimaan pajak tidak sesuai target dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2019. Realisasi penerimaan pajak mencapai Rp1.332,1 triliun sepanjang 2019, atau hanya 84,4% dari target APBN.

Lebih lanjut Sri Mulyani membeberkan, pajak sektor manufaktur dan pertambangan tercatat tumbuh negatif. “Sektor manufaktur dan pertambangan mengalami pertumbuhan negatif karena berhubungan langsung dengan harga komoditas dan perdagangan internasional," ujar Sri Mulyani di Kantor Kemenkeu, Selasa (7/1/2020).

Dia pun melanjutkan penerimaan pajak sektor manufaktur hingga akhir Desember 2019 mencapai Rp365,39 triliun. Jumlah realisasi tersebut tumbuh negatif 1,8% dan jauh dari capaian tahun lalu yang mampu tumbuh 10,9%. "Sektor ini menjadi penyumbang utama penerimaan pajak dengan kontribusi sebesar 29,4%," jelasnya

Mantan direktur bank dunia ini menerangkan sektor usaha manufaktur karena restitusi yang tumbuh hanya 18,05%. Selain itu, kinerja pajak penghasilan (PPh) dan pajak pertambahan nilai (PPN) Impor dari sektor manufaktur tumbuh negatif 9,2%.

"Sektor yang mengalami pukulan paling berat itu sektor pertambangan yang kontraksinya tahun lalu 19%. Ini menjadi salah satu penyebab tekanan kepada penerimaan pajak kita,” pungkasnya.

Realisasi penerimaan pajak hanya tumbuh 1,4% bila dibandingkan tahun sebelumnya, dengan shortfall sebesar Rp245,5 triliun. Penerimaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) tercatat mengalami kontraksi sebesar 0,8% dengan realisasi mencapai Rp532,9 triliun atau 81,3% dari target.

Komponen PPN yang mengalami kontraksi antara lain adalah PPN Impor yang tercatat terkontraksi 8,1% dengan realisasi Rp171,3 triliun. Sri Mulyani mengungkapkan kontraksi tersebut tidak lain disebabkan oleh adanya percepatan restitusi serta dampak perlambatan ekonomi.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Rasio Pajak Dipatok...
Rasio Pajak Dipatok 8,25% Tahun Depan, Terendah Sejak 2010
Target Penerimaan Pajak...
Target Penerimaan Pajak 2026 Tembus Rp2.692 Triliun, Ekonom: Bisa Jadi Pedang Bermata Dua
Penerimaan Pajak Seret...
Penerimaan Pajak Seret hingga Oktober, Realisasi Baru 70,2% dari Target 2025
APBN Punya Penyakit...
APBN Punya Penyakit Dalam, Ekonom Didik Rachbini Sebut Indonesia Mujur Disayang Tuhan
Penerimaan Negara Lesu,...
Penerimaan Negara Lesu, Defisit APBN Semester I 2025 Melebar Jadi Rp204,2 Triliun
Defisit APBN Melebar,...
Defisit APBN Melebar, Pengamat: Kurangi Belanja Enggak Penting
Berita Terkini
IHSG Hari Ini Dibuka...
IHSG Hari Ini Dibuka Menguat 0,17% ke 5.934
58 menit yang lalu
MSIG Life Kolaborasi...
MSIG Life Kolaborasi dengan Bank Sinarmas Meluncurkan Smile Critical Prime
1 jam yang lalu
Takeda Investasi Rp542...
Takeda Investasi Rp542 Miliar Bangun Ekosistem Plasma di Indonesia
2 jam yang lalu
AS-Iran Kembali Saling...
AS-Iran Kembali Saling Serang, Harga Minyak Dunia Melesat Lebih 3%
2 jam yang lalu
Teluk Kembali Memanas,...
Teluk Kembali Memanas, China Siaga Jaga Produksi BBM Tetap Tinggi
3 jam yang lalu
Jakarta Fair 2026 Diserbu...
Jakarta Fair 2026 Diserbu 6 Juta Pengunjung, Nilai Transaksi Cetak Rp8,2 Triliun
12 jam yang lalu
Infografis
7 Wilayah AS yang Diperoleh...
7 Wilayah AS yang Diperoleh dengan Membeli dan Merebut dari Negara Lain
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved