alexametrics

Ekonom: Defisit APBN Melebar Lebih Baik Ketimbang Krisis

loading...
Ekonom: Defisit APBN Melebar Lebih Baik Ketimbang Krisis
Defisit Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2020 menurut ekonom lebih baik ketimbang berujung kepada resesi atau bahkan krisis ekonomi. Foto/Dok
A+ A-
JAKARTA - Defisit Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2020 berpotensi terus melebar seiring dengan membengkaknya belanja negara sebagai upaya pemulihan ekonomi usai terdampak pandemi corona atau Covid-19. Meski begitu, Ekonom Core Piter Abdullah menerangkan pelebaran defisit APBN bukan isu besar.

(Baca Juga: Disentil Jokowi, Sri Mulyani Bongkar Penyebab Defisit APBN Melebar Rp1.039,2 T)

Dia menambahkan perlambatan pertumbuhan ekonomi yang bisa berujung kepada resesi atau bahkan krisis ekonomi, menjadi salah satu hal yang membuat defisit melebar. Hal ini seiring stimulus ekonomi dalam mencegah terjadinya resesi atau krisis.



"Defisit melebar masih Lebih baik ketimbang terjadi krisis yang bisa memakan korban berjuta-berjuta masyarakat miskin," kata Piter saat dihubungi SINDOnews di Jakarta, Rabu (3/6/2020).

(Baca Juga: Luhut Tantang Pengkritik Utang Negara untuk Diskusi)

Defisit APBN 2020 diproyeksi akan melebar ke posisi 6,34% atau setara Rp 1.039,2 triliun terhadap produk domestik bruto (PDB). Angka defisit yang paling baru ini akan dimasukkan dalam revisi Perpres Nomor 54 Tahun 2020. Di mana awalnya defisit anggaran dipasang pemerintah sebesar 5,07% atau setara 852,9 triliun terhadap PDB.

"APBN diperkirakan masih berpotensi untuk melebar lagi. Tetapi sesungguhnya pelebaran defisit bukan isu besar," kata Piter.

Sambung dia menambahkan, pelebaran defisit APBN terjadi tidak hanya di Indonesia tetapi juga terjadi di setiap negara yang terkena pandemi virus corona (Covid-19). "Dapat dikatakan pelebaran defisit APBN di Indonesia masih terlalu kecil. Apalagi mengingat rasio utang pemerintah yang masih sangat rendah," ungkapnya.
(akr)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak
Top