Pengusaha Sebut Industri Nikel Masih Hadapi Banyak Kendala

Jum'at, 28 Februari 2020 - 17:10 WIB
Pengusaha Sebut Industri...
Pengusaha Sebut Industri Nikel Masih Hadapi Banyak Kendala
A A A
JAKARTA - Nikel menjadi komoditas utama yang paling banyak dibicarakan saat ini baik domestik maupun di forum-forum dunia. Sebagaimana diketahui, saat ini terjadi pergeseran mode energi dari sumber energi tradisional menjadi energi masa depan yang lebih ramah lingkungan dengan menjadikan listrik dan baterai lithium sebagai penopang utamanya.

Namun, menurut Ketua Umum BPP Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Mardani Maming, industri nikel masih banyak mengalami kendala seiring larangan ekspor nikel yang diberlakukan sejak 1 Januari 2020. Adapun larangan itu membuat pengusaha tambang kebingungan menjual nikel dengan kadar 1,7%. Sedangkan smelter dalam negeri hanya menerima kualitas nikel dengan kadar 1,8%.

"Hal ini mengubah peta tata niaga nikel sehingga pengelolaan tata niaga nikel dalam negeri berikut kebijakan investasinya perlu diatur lebih baik dan berkeadilan agar industri nikel dapat tumbuh di Indonesia, dengan memberikan keuntungan kepada seluruh pihak, baik pemilik smelter, penambang dan terutama seluruh rakyat Indonesia," ujar Mardani dalam Forum Dialog Hipmi bertema "Prospek Industri Nikel Dalam Negeri" di Jakarta, Jumat (29/2/2020).

Dia meminta kepada pemerintah agar segera menetapkan harga nikel berdasarkan Harga Patokan Mineral (HPM). Pasalnya, HPM hendaknya diatur dengan memperhatikan prinsip kepastian dan keadilan, tanpa merugikan semua pihak, baik pemilik smelter, penambang, terutama negara dan bangsa Indonesia.

"Kita ingin mendorong pemerintah menetapkan HPM dan menjadikan HPM sebagai instrumen pengendalian harga disertai sanksi yang mengikat seluruh pihak," tegasnya.

Dia pun menambahkan penentuan kadar yang seringkali menjadi sumber perdebatan, diharapkan pemerintah dapat hadir dengan menentukan surveyor resmi dan profesional agar dapat menghasilkan keputusan yang tepat dan benar. Hipmi mengusulkan penggunaan dua surveyor, baik surveyor yang digunakan oleh penambang dan surveyor yang digunakan oleh pemilik smelter.

"Pemerintah diharapkan memberikan dukungan kemudahan berusaha seperti mempermudah regulasi izin smelter dan pemberian kenudahan dukungan pembiayaan perbankan kepada pengusaha dalam negeri agar dapat menjadi tuan rumah di negeri sendiri," jelasnya.
(fjo)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Akbar Buchari Resmi...
Akbar Buchari Resmi Terpilih Jadi Ketua Umum HIPMI Periode 2022-2025
5 Negara Pemilik Cadangan...
5 Negara Pemilik Cadangan Nikel Paling Banyak di Dunia
Refleksi Peran Wirausaha...
Refleksi Peran Wirausaha Bangun Bangsa, HIPMI Dorong 10 Juni Jadi Hari Kewirausahaan Nasional
Bursa Calon Ketum HIPMI,...
Bursa Calon Ketum HIPMI, Akbar Buchori Dapat Dukungan dari Bobby Nasution
Debat Ketiga Calon Ketua...
Debat Ketiga Calon Ketua Hipmi Menyoroti Investasi, Hilirisasi hingga Pasar Modal
HIPMI Punya Pemimpin...
HIPMI Punya Pemimpin Baru, Begini Pesan Bahlil Lahadalia
Berita Terkini
Tokenisasi Saham AI...
Tokenisasi Saham AI Diminati Investor, Bittime Catat Kepemilikan Naik 106%
37 menit yang lalu
Iran-AS Memanas Lagi,...
Iran-AS Memanas Lagi, Harga Minyak Dunia Melonjak Lebih dari 6%
52 menit yang lalu
Pertamina Manfaatkan...
Pertamina Manfaatkan Jakarta Fair Perkuat Daya Saing UMKM Lokal
1 jam yang lalu
Pasar Saham RI Terancam...
Pasar Saham RI Terancam Turun Kelas, Modal Asing Bisa Kabur Rp3,6 Triliun
1 jam yang lalu
Sertifikasi Influencer...
Sertifikasi Influencer Kripto Dinilai Jadi Langkah Positif Bangun Ekosistem Lebih Sehat
2 jam yang lalu
Rupiah Kian Krasan di...
Rupiah Kian Krasan di Kisaran Rp18.000, Apa Penyebabnya?
2 jam yang lalu
Infografis
10 Negara dengan Cadangan...
10 Negara dengan Cadangan Emas Terbesar Dunia, AS Masih Teratas
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved