alexametrics

Penurunan Suku Bunga Kredit Bisa Jaga Daya Beli Masyarakat

loading...
A+ A-
JAKARTA - Ekonom Indef Bhima Yudisthira menilai penurunan suku bunga kredit yang bakal dilakukan perbankan diyakini akan menjaga daya beli masyarakat di Indonesia. Hal ini seiring permintaan pemerintah kepada perbankan nasional agar menurunkan suku bunga kreditnya sebagai upaya meredam dampak wabah virus corona ke perekonomian.

"Jika bank serentak menurunkan bunga acuan sebesar 50-75 bps saja ini pastinya akan mendorong perekonomian dan menjaga daya beli masyarakat tetap stabil," ujar Bhima saat dihubungi SINDOnews di Jakarta, Jumat (6/3/2020).

(Baca Juga: Penurunan Suku Bunga Kredit Efektif Tangkal Dampak Virus Corona)



Lebih lanjut Ia menerangkan, tujuan adanya penurunan bunga acuan menunjukkan cost of borrowing bagi para pelaku usaha. Pasalnya para pelaku usaha bisa lebih murah mendapatkan penyaluran dana kredit. "Pengusaha dapat melakukan setidaknya ekspansi, dan menjaga cash flow dari dana kredit bank yang murah," jelasnya.

Sebelumnya Menteri Koordiantor (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto meminta, seluruh perbankan nasional bisa menurunkan suku bunga kreditnya untuk meredam dampak dari menyebarnya wabah virus corona atau Covid-19. Hal ini setelah pemerintah menggelar rapat bersama Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan perusahaan perbankan guna membicarakan implementasi stimulus perekonomian, seperti suku bunga, dalam menghadapi dampak dari Virus Corona.

(Baca Juga: Menko Airlangga Minta Bunga Kredit Hanya Satu Digit)

Lebih lanjut Ia menerangkan, bakal segera menerbitkan stimulus fiskal lainnya demi menangkis dampak serangan wabah Covid-19. Adapun stimulus fiskal atau insentif yang diterbitkan pemerintah, ditunjukkan untuk sektor pariwisata dan memberikan kemudahan ekspor-impor sesuai dengan instruksi Presiden sebelumnya.
(akr)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak
Top