Pengusaha susu kedelai ikut berhenti produksi
Rabu, 25 Juli 2012 - 15:11 WIB
Pengusaha susu kedelai ikut berhenti produksi
A
A
A
Sindonews.com – Tak hanya dirasakan oleh produsen, pengrajin, dan pedagang tahu tempe saja, namun kenaikan harga kedelai yang terus meroket juga memukul para pengusaha susu kedelai. Harga kedelai yang terus melonjak ke posisi Rp8.000 per kilogram dari harga Rp6.000, rupanya membuat para pengusaha susu kedelai kesulitan bergeliat.
Salah satunya dialami produsen susu kedelai di Jalan Raya Jonggol, Cileungsi, Bogor, Yossi Pratido. Biasanya, ia memasarkan produknya ke kawasan Cileungsi, Halim Perdanakusumah Jakarta Timur, Sudirman, dan Depok.
Namun karena harga kedelai terus naik sejak dua bulan terakhir, maka ia terpaksa menutup usahanya dan berhenti berproduksi. Ia akan kembali melanjutkan usahanya disaat harga kedelai kembali stabil.
“Awalnya harga kedelai hanya Rp5.500 per kilogram, sewaktu harga naik sampai di level Rp7.000 per kilogram saya masih sanggup, tapi saat sudah Rp8.000 per kilogram, saya memilih tutup,” tuturnya kepada wartawan, Rabu (25/7/2012).
Biasanya, ia mengambil bahan baku kedelai dari kawasan Cawang, Jakarta. Sehari ia membutuhkan 10 kilogram untuk membuat 300 bungkus susu kedelai. “Saat ini bertepatan bulan puasa juga, mungkin kalau harga sudah stabil habis Lebaran kembali berproduksi,” katanya.
Pengusaha susu kedelai lainnya, Ahmad Alawi di Jalan Kemiri Jaya 1, Beji, Depok mengaku kenaikan harga kedelai tidak terlalu memukul usahanya. Namun tetap saja kenaikan harga kedelai berdampak pada penambahan modal yang harus ia lakukan.
“Tak terlalu mempengaruhi, tapi saya tambah modal 20 persen untuk beli kedelai,” jelasnya.
Alwi juga tak akan menaikkan harga susu kedelai yang ia jual, agar pelanggannya tak lari kemana-mana. Setiap hari, ia membutuhkan 1,5 kilogram kedelai untuk 150 bungkus susu kedelai. Kenaikan harga gula pasir juga turut memberatkan Alwi.
“Tak hanya harga kedelai, harga gula pasir juga naik dari Rp10 ribu sekarang Rp14 ribu. Saya jual pakai gerobak keliling, ke wilayah Maharaja, Sawangan, Ciganjur, Tanah Baru Depok, ada juga yang dilempar ke warung,” tutupnya.
Salah satunya dialami produsen susu kedelai di Jalan Raya Jonggol, Cileungsi, Bogor, Yossi Pratido. Biasanya, ia memasarkan produknya ke kawasan Cileungsi, Halim Perdanakusumah Jakarta Timur, Sudirman, dan Depok.
Namun karena harga kedelai terus naik sejak dua bulan terakhir, maka ia terpaksa menutup usahanya dan berhenti berproduksi. Ia akan kembali melanjutkan usahanya disaat harga kedelai kembali stabil.
“Awalnya harga kedelai hanya Rp5.500 per kilogram, sewaktu harga naik sampai di level Rp7.000 per kilogram saya masih sanggup, tapi saat sudah Rp8.000 per kilogram, saya memilih tutup,” tuturnya kepada wartawan, Rabu (25/7/2012).
Biasanya, ia mengambil bahan baku kedelai dari kawasan Cawang, Jakarta. Sehari ia membutuhkan 10 kilogram untuk membuat 300 bungkus susu kedelai. “Saat ini bertepatan bulan puasa juga, mungkin kalau harga sudah stabil habis Lebaran kembali berproduksi,” katanya.
Pengusaha susu kedelai lainnya, Ahmad Alawi di Jalan Kemiri Jaya 1, Beji, Depok mengaku kenaikan harga kedelai tidak terlalu memukul usahanya. Namun tetap saja kenaikan harga kedelai berdampak pada penambahan modal yang harus ia lakukan.
“Tak terlalu mempengaruhi, tapi saya tambah modal 20 persen untuk beli kedelai,” jelasnya.
Alwi juga tak akan menaikkan harga susu kedelai yang ia jual, agar pelanggannya tak lari kemana-mana. Setiap hari, ia membutuhkan 1,5 kilogram kedelai untuk 150 bungkus susu kedelai. Kenaikan harga gula pasir juga turut memberatkan Alwi.
“Tak hanya harga kedelai, harga gula pasir juga naik dari Rp10 ribu sekarang Rp14 ribu. Saya jual pakai gerobak keliling, ke wilayah Maharaja, Sawangan, Ciganjur, Tanah Baru Depok, ada juga yang dilempar ke warung,” tutupnya.
(and)
Lihat Juga :