G-20 segera bahas kenaikan harga pangan
Selasa, 14 Agustus 2012 - 09:32 WIB
G-20 segera bahas kenaikan harga pangan
A
A
A
Sindonews.com - Kelompok 20 negara maju dan berkembang (G-20) berencana menggelar pertemuan untuk membahas melonjaknya harga pangan yang disebabkan kekeringan di Amerika Serikat (AS).
Panasnya cuaca di Paman Sam telah menyebabkan harga komoditas pangan andalan AS seperti gandum dan jagung mencapai rekor tertinggi.
Financial Times melaporkan, pejabat G-20 akan mengadakan konferensi via telepon pada Minggu (27/8) mendatang untuk membahas rencana pertemuan yang kemungkinan dihelat pada akhir September atau Oktober.
Patokan harga jagung Chicago naik ke posisi tertinggi pada Jumat (10/8) pekan lalu setelah Departemen Pertanian AS memangkas estimasi produksi sebesar 17 persen.
Hal tersebut meningkatkan kekhawatiran dunia mengenai akan terulangnya krisis pangan pada 2007–2008 lalu. Pemerintah AS menyatakan, kekeringan telah memaksa petani negara tersebut untuk meninggalkan ladang jagungnya.
Pertemuan G-20 akan menjadi yang pertama kalinya setelah Rapid Response Forum, yakni sebuah badan baru yang dibuat untuk mempromosikan pembicaraan awal antara keputusan pejabat mengenai tingkat normal kondisi pasar internasional.
Sekedar diketahui, forum tersebut merupakan bagian dari sistem G-20 yang dibuat tahun lalu oleh Pemerintah Prancis guna mendukung sistem informasi pasar pertanian. Pejabat G-20 mengatakan, saat ini pemimpin negara-negara G-20 tengah mendukung diadakannya pertemuan tersebut.
Kendati demikian, dipastikan bahwa pertemuan tersebut bukan karena telah terjadi kepanikan tetapi sebaliknya hal itu akan menjadi salah satu upaya untuk menghindari jenis kebijakan, termasuk pembatasan ekspor dan penimbunan seperti pada 2007–2008 silam.
“Saat itu terdapat kekurangan komoditas pertanian sehingga menjadi krisis pangan besar-besaran untuk kali pertama dalam 30 tahun,” imbuh pejabat tersebut dikutip Financial Times, Minggu (12/8) malam.
Sementara, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan akan menggunakan pertemuan tersebut untuk mendorong perdebatan global mengenai kebijakan bahan bakar nabati (biofuel), khususnya dengan meminta AS dan Uni Eropa serta negara-negara lain agar memberikan mandat kepada pemerintahannya mengenai target produksi.
Saat ini pembuat kebijakan pertanian semakin khawatir setelah harga jagung,kacang dan kedelai serta gandum melonjak antara 30–50 persen sejak Juni.
Panasnya cuaca di Paman Sam telah menyebabkan harga komoditas pangan andalan AS seperti gandum dan jagung mencapai rekor tertinggi.
Financial Times melaporkan, pejabat G-20 akan mengadakan konferensi via telepon pada Minggu (27/8) mendatang untuk membahas rencana pertemuan yang kemungkinan dihelat pada akhir September atau Oktober.
Patokan harga jagung Chicago naik ke posisi tertinggi pada Jumat (10/8) pekan lalu setelah Departemen Pertanian AS memangkas estimasi produksi sebesar 17 persen.
Hal tersebut meningkatkan kekhawatiran dunia mengenai akan terulangnya krisis pangan pada 2007–2008 lalu. Pemerintah AS menyatakan, kekeringan telah memaksa petani negara tersebut untuk meninggalkan ladang jagungnya.
Pertemuan G-20 akan menjadi yang pertama kalinya setelah Rapid Response Forum, yakni sebuah badan baru yang dibuat untuk mempromosikan pembicaraan awal antara keputusan pejabat mengenai tingkat normal kondisi pasar internasional.
Sekedar diketahui, forum tersebut merupakan bagian dari sistem G-20 yang dibuat tahun lalu oleh Pemerintah Prancis guna mendukung sistem informasi pasar pertanian. Pejabat G-20 mengatakan, saat ini pemimpin negara-negara G-20 tengah mendukung diadakannya pertemuan tersebut.
Kendati demikian, dipastikan bahwa pertemuan tersebut bukan karena telah terjadi kepanikan tetapi sebaliknya hal itu akan menjadi salah satu upaya untuk menghindari jenis kebijakan, termasuk pembatasan ekspor dan penimbunan seperti pada 2007–2008 silam.
“Saat itu terdapat kekurangan komoditas pertanian sehingga menjadi krisis pangan besar-besaran untuk kali pertama dalam 30 tahun,” imbuh pejabat tersebut dikutip Financial Times, Minggu (12/8) malam.
Sementara, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan akan menggunakan pertemuan tersebut untuk mendorong perdebatan global mengenai kebijakan bahan bakar nabati (biofuel), khususnya dengan meminta AS dan Uni Eropa serta negara-negara lain agar memberikan mandat kepada pemerintahannya mengenai target produksi.
Saat ini pembuat kebijakan pertanian semakin khawatir setelah harga jagung,kacang dan kedelai serta gandum melonjak antara 30–50 persen sejak Juni.
(gpr)