Bisnis parcel saat Lebaran masih menjanjikan
Sabtu, 18 Agustus 2012 - 14:00 WIB
Bisnis parcel saat Lebaran masih menjanjikan
A
A
A
Sindonews.com - Merelakan setiap jam di bulan Ramadan dengan bekerja keras. Meninggalkan pekerjaan sebelumnya demi mencoba peruntungan di zona yang berbeda.
Adalah Mahil, seorang pedagang parsel di stasiun Cikini, Menteng, Jakarta. Bersama istrinya Nyai, memberanikan diri untuk keluarkan modal yang cukup besar untuk berbisnis parsel. Mereka berdua memilih bekerja selama 24 jam selama bulan suci ini.
"Time is money," begitu ucapnya ketika dikunjungi sindonews ke lokasi kerjanya beberapa waktu lalu.
Sebelumnya, Mahil mencari nafkah setiap harinya pada sebuah bengkel di kawasan Jakarta Barat. Ketika memasuki Ramadan dirinya mengaku sengaja membidik bisnis parsel. Landasannya sederhana dan cukup kuat, yaitu pendapatan yang besar.
Di bengkel, dirinya hanya mampu meraup untung sekitar Rp4,5 juta per bulan. Sedangkan, dari parsel di satu bulan ini, Mahil mendapatkan laba bersih Rp10 juta.
"Dibanding bengkel, pendapatannya jauh berbeda. Paling sehari kalau di bengkel Rp150 ribu jadi sebulan Rp4,5 juta. Tapi kalau disini (bisnis parsel) bisa mencapai Rp10 juta, itu target dengan modal yang kita keluarkan maksimal Rp12 juta," paparnya.
Dari modal tersebut, dirinya mengeluarkan Rp1 juta untuk menyewa lapak untuk lahan kerjanya. Kemudian, Bapak 45 tahun tersebut menghubungi agen penjual kerangka parsel untuk segera memasok sesuai dengan pesanan dan membeli makanan serta beberapa souvenir untuk perlengkapan parsel.
Dibantu juga dengan dua orang pegawai, dia menyiapkan sekitar 25 jenis parsel sesuai dengan harga yang ditawarkan. "Kalau istri saya itu membantu untuk memperhatikan parsel, biasanya untuk melihat warna bagus atau gak, terus yang cantik itu seperti apa, begitulah," ujar Bapak dengan lima anak ini.
Satu parsel, hanya diselesaikan dalam waktu sekitar satu jam. Biasanya, Mahil menerima pesanan yang disertai dengan uang muka 30 persen sebelum diproduksi. Menurutnya, bisa melayani sesuai keinginan permintaan pelanggan adalah kewajiban sebuah usaha. Bahkan, kalaupun diminta untuk menyelesaikan 50 pesanan dalam waktu satu hari, dia pastikan itu selesai. Tentunya dengan harga yang berbeda pula.
"Kalau harga kita menawarkan mulai dari Rp150 ribu per parsel sampai dengan Rp1,5 juta. Mahal itu kita pakai lukisan, jadi pesen dulu ke Kota, baru dipasang di sini, lumayan sulit juga untuk bikinnya," lanjut Mahil.
Dirinya juga menjamin setiap makanan yang disediakan di dalam parsel. Setelah dibeli dari swalayan, sebelum dibungkus, dia mempersilahkan pemerintah daerah dan instansi terkait lainnya untuk memeriksa makanan. Makanan wajib yang disediakan, dalam sebuah parsel adalah cokelat, biskuit dan snack ringan. Soal kendala, menurutnya hanya persoalan teknis yang terjadi.
"Alhamdulillah lancar. Masih diridhoin. Kendala teknis aja. Kan ada makanan yang kurang, trus minta ke konsumen aja maunya apa, kita akan carikan, tau kalau gak ketemu ya kita kasih alternatif," lengkapnya.
Dia menambahkan, usaha yang dijalani ini akan berakhir pada malam takbiran. Sebab, selain perjanjian dengan penyewa lapak, di hari Lebaran, semua lokasi harus terbebas dari tenda-tenda yang dipakai untuk bekerja.
Adalah Mahil, seorang pedagang parsel di stasiun Cikini, Menteng, Jakarta. Bersama istrinya Nyai, memberanikan diri untuk keluarkan modal yang cukup besar untuk berbisnis parsel. Mereka berdua memilih bekerja selama 24 jam selama bulan suci ini.
"Time is money," begitu ucapnya ketika dikunjungi sindonews ke lokasi kerjanya beberapa waktu lalu.
Sebelumnya, Mahil mencari nafkah setiap harinya pada sebuah bengkel di kawasan Jakarta Barat. Ketika memasuki Ramadan dirinya mengaku sengaja membidik bisnis parsel. Landasannya sederhana dan cukup kuat, yaitu pendapatan yang besar.
Di bengkel, dirinya hanya mampu meraup untung sekitar Rp4,5 juta per bulan. Sedangkan, dari parsel di satu bulan ini, Mahil mendapatkan laba bersih Rp10 juta.
"Dibanding bengkel, pendapatannya jauh berbeda. Paling sehari kalau di bengkel Rp150 ribu jadi sebulan Rp4,5 juta. Tapi kalau disini (bisnis parsel) bisa mencapai Rp10 juta, itu target dengan modal yang kita keluarkan maksimal Rp12 juta," paparnya.
Dari modal tersebut, dirinya mengeluarkan Rp1 juta untuk menyewa lapak untuk lahan kerjanya. Kemudian, Bapak 45 tahun tersebut menghubungi agen penjual kerangka parsel untuk segera memasok sesuai dengan pesanan dan membeli makanan serta beberapa souvenir untuk perlengkapan parsel.
Dibantu juga dengan dua orang pegawai, dia menyiapkan sekitar 25 jenis parsel sesuai dengan harga yang ditawarkan. "Kalau istri saya itu membantu untuk memperhatikan parsel, biasanya untuk melihat warna bagus atau gak, terus yang cantik itu seperti apa, begitulah," ujar Bapak dengan lima anak ini.
Satu parsel, hanya diselesaikan dalam waktu sekitar satu jam. Biasanya, Mahil menerima pesanan yang disertai dengan uang muka 30 persen sebelum diproduksi. Menurutnya, bisa melayani sesuai keinginan permintaan pelanggan adalah kewajiban sebuah usaha. Bahkan, kalaupun diminta untuk menyelesaikan 50 pesanan dalam waktu satu hari, dia pastikan itu selesai. Tentunya dengan harga yang berbeda pula.
"Kalau harga kita menawarkan mulai dari Rp150 ribu per parsel sampai dengan Rp1,5 juta. Mahal itu kita pakai lukisan, jadi pesen dulu ke Kota, baru dipasang di sini, lumayan sulit juga untuk bikinnya," lanjut Mahil.
Dirinya juga menjamin setiap makanan yang disediakan di dalam parsel. Setelah dibeli dari swalayan, sebelum dibungkus, dia mempersilahkan pemerintah daerah dan instansi terkait lainnya untuk memeriksa makanan. Makanan wajib yang disediakan, dalam sebuah parsel adalah cokelat, biskuit dan snack ringan. Soal kendala, menurutnya hanya persoalan teknis yang terjadi.
"Alhamdulillah lancar. Masih diridhoin. Kendala teknis aja. Kan ada makanan yang kurang, trus minta ke konsumen aja maunya apa, kita akan carikan, tau kalau gak ketemu ya kita kasih alternatif," lengkapnya.
Dia menambahkan, usaha yang dijalani ini akan berakhir pada malam takbiran. Sebab, selain perjanjian dengan penyewa lapak, di hari Lebaran, semua lokasi harus terbebas dari tenda-tenda yang dipakai untuk bekerja.
(gpr)
Lihat Juga :