Valuasi IPO anak usaha Garuda mundur

Senin, 03 September 2012 - 10:15 WIB
Valuasi IPO anak usaha...
Valuasi IPO anak usaha Garuda mundur
A A A
Sindonews.com - PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) memperkirakan, kajian valuasi dari penasihat keuangan terkait rencana penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) dua anak usahanya baru akan rampung pada bulan ini.

Sebelumnya perseroan menargetkan hasil kajian dari penasihat keuangan akan rampung pada bulan lalu, namun mundur lantaran belum tuntas. Adapun dua anak usaha perusahaan penerbangan pelat merah tersebut yang akan dilepas sebagian sahamnya ke publik adalah PT Aero Wisata atau PT Garuda Maintenance Facility (GMF).

”Kita sedang menunggu hasil dari financial advisor-nya. Dalam mingguminggu ini sudah bisa ketahuan hasilnya,” kata Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar di Jakarta akhir pekan lalu.

Valuasi saham IPO saat ini masih dalam kajian PT Mandiri Sekuritas selaku penasihat keuangan yang ditunjuk Garuda. Menurut Emir, kedua anak usahanya Aero Wisata yang bergerak di bidang katering pesawat, perhotelan, dan penyewaan kendaraan serta GMF pada bidang jasa perawatan dan perbaikan pesawat sudah siap untuk melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI).

”Dua-duanya (GMF dan Aero Wisata) siap, tapi apakah valuasinya sudah optimal? Kita masih menunggu. Selain itu, ada aturan bahwa anak usaha yang mau IPO tidak boleh banyak bergantung Garuda,” ujarnya.

Seperti diketahui, pendapatan GMF saat ini sekitar 70% masih dikontribusi dari induk usaha, begitu juga pendapatan Aero Wisata mayoritas masih berasal dari emiten berkode GIAA tersebut. Sementara syarat anak usaha untuk bisa IPO adalah hanya separuh pendapatannya yang dikontribusi induk usaha.

Namun, kedua anak usahanya tersebut membutuhkan dana segar untuk bisa mengembangkan usahanya. Di singgung mengenai target dana dari gelaran IPO, Emir enggan mengungkapkan nilainya. Dia beralasan, masih menunggu laporan hasil kajian dari penasihat keuangan yang diharapkan keluar pada bulan ini. Dengan keluarnya hasil kajian tersebut, dia berharap ada satu anak usaha perseroan yang bisa menjadi perusahaan terbuka pada 2013.

Ketua Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) Airlangga Hartato menilai, saham anak usaha Garuda tersebut memiliki prospek positif pada saat IPO.Menurut dia, saham anak usaha Garuda akan diminati pasar ketika dilepas ke publik lantaran kinerjanya yang positif.

Mengenai IPO anak usaha Garuda yang terkendala untuk IPO lantaran kontribusi pendapatannya saat ini mayoritas dari induk usaha, dia menilai, justru IPO bisa dilaksanakan untuk memperoleh pendapatan di luar induk usaha.

Menurut Airlangga, IPO akan menguntungkan perusahaan karena akan mendapatkan dana segar yang bisa dialokasikan untuk modal usaha guna meningkatkan kinerja perseroan.

“Meski pendapatan mayoritas dari induk usaha, IPO anak usaha Garuda bisa dilakukan.Tidak ada larangan sejauh transaksi merupakan armlength transaction dan jelas dalam paparan publiknya,” imbuh Airlangga.

Hingga semester I/2012,Garuda berhasil meraih pendapatan usaha sebesarUSD1,512 miliar dan membukukan laba usaha sebesar USD10,8 juta. Pendapatan semester I/2012 tersebut meningkat sebesar 17,7% dibanding periode yang sama tahun lalu yang sebesar USD1,285 miliar dan laba usaha meningkat sebesar 131% dibanding periode yang sama tahun lalu (rugi sebesar USD34,8 juta).

Pada semester I/2012 Garuda berhasil mengangkut 9.617.568 penumpang atau meningkat 22,4% dibanding periode yang sama tahun lalu yang sebesar 7.858.142 penumpang. Kapasitas produksi (availability seat kilometer/ASK) juga meningkat sebesar 13,9% menjadi 17,78 miliar, dari 15,6 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Selain itu, yield penumpang juga meningkat sebesar 4,1% menjadi USC9,4 dibanding periode yang sama tahun lalu yang sebesar USC9,03.

Frekuensi penerbangan semester I/2012 ini juga meningkat sebesar 18,6% menjadi 72.693 penerbangan, dibanding periode yang sama tahun lalu yang sebanyak 61.286 penerbangan. Selain itu Garuda Indonesia juga berhasil meningkatkan tingkat isian penumpang (Seat Load Factor/ SLF) menjadi 74,8%, dari 73,5% pada periode yang sama tahun lalu.
(gpr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Tak Mampu Bayar Hutang,...
Tak Mampu Bayar Hutang, PT Garuda Indonesia Bangkrut
Intip 5 Siasat Garuda...
Intip 5 Siasat Garuda Indonesia Saat Beban Utang Terus Membengkak
Menakar Skema Penyelamatan...
Menakar Skema Penyelamatan Garuda Indonesia di Tengah Lilitan Utang Jumbo
Dirut Garuda Indonesia...
Dirut Garuda Indonesia Irfan Setiaputra: Garuda Siap Mengembalikan Kepercayaan Publik
Sanggupkah Garuda Indonesia...
Sanggupkah Garuda Indonesia Selamat, Ini Kata Dirutnya!
Selamatkan Garuda Indonesia,...
Selamatkan Garuda Indonesia, Pengamat Penerbangan Minta Semua Pihak Satu Bahasa
Berita Terkini
Prabowo Bakal Resmikan...
Prabowo Bakal Resmikan Groundbreaking Proyek Masela Senilai Rp375 Triliun Hari Ini
13 menit yang lalu
MNC Sekuritas dan MNC...
MNC Sekuritas dan MNC Asset Bahas Strategi Cerdas Investasi Lewat IG Live Sore Ini
1 jam yang lalu
Harga Emas Antam Turun...
Harga Emas Antam Turun Tipis Hari Ini, Segram Jadi Rp2,63 Juta
2 jam yang lalu
Cyber Breaker Season...
Cyber Breaker Season 3 Jembatani Kebutuhan SDM Digital Pemerintah dan Sektor Bisnis
2 jam yang lalu
IHSG Hari Ini Dibuka...
IHSG Hari Ini Dibuka Menguat 0,24% ke Level 6.056
2 jam yang lalu
Soal Hapus Pajak JHT,...
Soal Hapus Pajak JHT, Purbaya Masih Tunggu Data BPJS Ketenagakerjaan
3 jam yang lalu
Infografis
Sejarah Boikot Olahraga...
Sejarah Boikot Olahraga Dunia dan Ancaman Jerman Mundur dari Piala Dunia 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved