Harga jeblok, garam perlu tata niaga

Jum'at, 21 September 2012 - 11:36 WIB
Harga jeblok, garam...
Harga jeblok, garam perlu tata niaga
A A A
Sindonews.com - Anjlok harga garam dipengaruhi oleh tata niaga yang masih amburadul. Petani garam pun banyak yang mengeluh dengan masuknya garam impor sebagai garam konsumsi. Solusinya adalah pemerintah membuat tata niaga garam yang jelas dan berpihak kepada masyarakat kecil.

Demikian disampaikan Ketua Himpunan Masyarakat Petani Garam (HMPG) Jatim M Hasan. Menurutnya, upaya pemerintah untuk menghidupkan lagi PN Garam tidak begitu buruk. Namun yang perlu diperhatikan adalah mengelola tata niaga garam.

"Syukur-syukur kalau PT Garam yang ada saat ini menjadi lembaga seperti Bulog. Artinya, ada hubungan saling menguntungkan antara petani garam dan pemerintah," kata Hasan di Surabaya, Jumat (21/9/2012).

Ia mengatakan, saat ini PT Garam memiliki lahan seluas 5.700 hektare (ha) dan lahan milik petani seluas 7.200 ha. Dengan PT Garam menjadi Bulog maka lahan tersebut dikelola oleh petani dan bisa memberikan kontribusi kepada negara. Selain itu, Bulog khusus garam ini nantinya bisa meminimlisir masuknya garam impor kedalam garam konsumsi.

Kondisi saat ini, dalam hal produksi, PT Garam tidak maksimal. Dengan teknologi seadanya, petani garam mampu memproduksi garam sebanyak 100 ton hingga 150 ton per hektar. Sedangkan PT Garam dengan luas yang sama hanya mampu memproduksi 40 ton saja.

Ia menjelaskan, ada dua keuntungan ketika PT Garam menjadi Bulog Garam. Pemerintah dapat melindungi dan mensejahterakan para petani garam. Artinya, dari produksi yang ada maka petani dapat memberikan kontribusi kepada negara. Sedangkan Bulog yang dibentuk melindungi tata niaga garam. Dan ketika PT Garam menjadi Bulog, lahan yang ada hak garapnya diserahkan kepada petani.

"Ketika menjadi Bulog, PT Garam tidak perlu lagi bertani. Mereka cukup mengatur tata niaga dan memberdayakan masyarakat," ujarnya.

Lebih jauh ia mengatakan, dengan adanya tata niaga tersebut, pemerintah dapat melakukan stabilisasi harga. Kondisi harga garam saat ini sangat merugikan petani. Untuk Garam Kualitas (KW) dua sebesar Rp300 ribu per ton dan KW1 Rp450 ribu per ton. Jumlah tersebut tidak bisa menuntup ongkos produksi yang dikeluarkan petani.

"Idealnya adalah Rp550 ribu per ton untuk KW 2 dan Rp750 ribu per ton untuk KW 1," tandasnya.
(gpr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Produksi Garam Sulsel...
Produksi Garam Sulsel Terus Turun Dalam 2 Tahun Terakhir
Produksi dan Kebutuhan...
Produksi dan Kebutuhan Jomplang, RI Bakal Kecanduan Impor Garam
Pakar UI: Garam Bermutu...
Pakar UI: Garam Bermutu Dihasilkan Dari Panen di Atas Meja Garam
APGRI Beberkan Penyebab...
APGRI Beberkan Penyebab Indonesia Selalu Impor Garam
Industri Pengguna Garam...
Industri Pengguna Garam Bisa Tenang, Ada Jaminan Pasokan dari Kemenperin
KPPU Endus Ada potensi...
KPPU Endus Ada potensi Rente di Impor Garam
Berita Terkini
Italia Boncos, Bayar...
Italia Boncos, Bayar Rp500 Juta per Hari Cuma Buat Parkir Superyacht Sitaan Milik Miliarder Rusia
20 menit yang lalu
ADVAN Universe 2026...
ADVAN Universe 2026 Digelar di Bandung, Perkuat Ekosistem Talenta Digital
29 menit yang lalu
Obat Generik Bebas Tarif...
Obat Generik Bebas Tarif 2 Tahun, Lalu Melonjak Jadi 200%
2 jam yang lalu
Jasaraharja Putera Raih...
Jasaraharja Putera Raih Pertumbuhan Berkelanjutan dan RBC Capai 371,90%
2 jam yang lalu
Pelabuhan Patimban Resmi...
Pelabuhan Patimban Resmi Layani Impor Perdana, Komponen Mobil Listrik BYD Lanjut ke Pabrik Subang
3 jam yang lalu
Kinerja Positif 2025,...
Kinerja Positif 2025, Jasa Raharja Catatkan Laba Bersih Rp2,30 Triliun
4 jam yang lalu
Infografis
Ini Beda Spek dan Harga...
Ini Beda Spek dan Harga Motor Listrik Mahal BGN Emmo JVX GT vs JVH Max
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved