Perlunya alat deteksi untuk tekan konsumsi BBM
Sabtu, 20 Oktober 2012 - 15:56 WIB
Perlunya alat deteksi untuk tekan konsumsi BBM
A
A
A
Sindonews.com - Anggota Komisi VII DPR Satya Widya Yudha mengusulkan penggunaan alat berbasis teknologi informasi yang bisa mendeteksi penggunaan bahan bakar minyak (BBM) untuk membatasi konsumsi BBM mobil-mobil pribadi. Usulan ini sehubungan dengan semakin membengkaknya dana subsidi BBM.
"Menurut saya perlu action konkrit dari pemerintah, salah satunya adalah menggunakan teknologi IT. Kita meminta supaya volume BBM diatur menggunakan teknologi yang bisa mendeteksi konsumsi BBM mobil," kata Satya usai menghadiri Kongres Ikatan Alumni Teknik Elektro ITS di Hotel Sahid, Jakarta, Sabtu (20/10/2012).
Lebih jauh, alumni ITS ini menjelaskan, setiap mobil yang dipasangi alat deteksi akan diberi kuota konsumsi BBM bersubsidi. Jika kuota tersebut telah habis digunakan, mobil tersebut diharuskan membeli BBM nonsubsidi yang dijual dengan harga keekonomian.
"Kalau misalnya kita memberikan patokan satu mobil 20 liter untuk kendaraan pribadi atau dinas, begitu lebih dari 20 liter dia harus membeli BBM yg nonsubsidi," imbuhnya.
Saat ini, pemerintah tengah berusaha menekan subsidi BBM karena harga minyak yang terus melambung dan membengkaknya konsumsi BBM akibat terus bertambahnya jumlah kendaraan bermotor. Besarnya angka subsidi energi yang mencapai hampir Rp300 triliun membuat pembangunan berbagai infrastruktur menjadi terhambat lantaran anggaran pemerintah terserap untuk subsidi BBM.
"Menurut saya perlu action konkrit dari pemerintah, salah satunya adalah menggunakan teknologi IT. Kita meminta supaya volume BBM diatur menggunakan teknologi yang bisa mendeteksi konsumsi BBM mobil," kata Satya usai menghadiri Kongres Ikatan Alumni Teknik Elektro ITS di Hotel Sahid, Jakarta, Sabtu (20/10/2012).
Lebih jauh, alumni ITS ini menjelaskan, setiap mobil yang dipasangi alat deteksi akan diberi kuota konsumsi BBM bersubsidi. Jika kuota tersebut telah habis digunakan, mobil tersebut diharuskan membeli BBM nonsubsidi yang dijual dengan harga keekonomian.
"Kalau misalnya kita memberikan patokan satu mobil 20 liter untuk kendaraan pribadi atau dinas, begitu lebih dari 20 liter dia harus membeli BBM yg nonsubsidi," imbuhnya.
Saat ini, pemerintah tengah berusaha menekan subsidi BBM karena harga minyak yang terus melambung dan membengkaknya konsumsi BBM akibat terus bertambahnya jumlah kendaraan bermotor. Besarnya angka subsidi energi yang mencapai hampir Rp300 triliun membuat pembangunan berbagai infrastruktur menjadi terhambat lantaran anggaran pemerintah terserap untuk subsidi BBM.
(rna)
Lihat Juga :