GMF AeroAsia berencana IPO kuartal III/2013
Sabtu, 27 Oktober 2012 - 10:24 WIB
GMF AeroAsia berencana IPO kuartal III/2013
A
A
A
Sindonews.com – PT Garuda Maintenance Facility (GMF) Aero- Asia, anak usaha PT Garuda Indonesia Tbk (GGIA) berencana melepas sahamnya ke publik dengan menggelar penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) pada kuartal III/2013.
Direktur Utama GMF AeroAsia Richard Budihadianto mengungkapkan, setelah digelarnya IPO, komposisi pendapatan akan menjadi 70 persen berasal dari perusahaan dan sebesar 30 persen dari pihak ketiga.
“Karena kita juga punya pelanggan dari airline lain yang mendukung pendapatan,” ujar Richard saat ditemui usai paparan publik GGIA di Jakarta, Kamis (25/10).
Namun, dia belum bersedia mengungkapkan berapa kisaran saham yang akan dilepas ke publik. Dia mengatakan bahwa dana pendanaan IPO akan digunakan untuk memperoleh pendanaan dalam jangka waktu 15-20 tahun ke depan.
Diperkirakan, dana ini akan digunakan untuk mendukung pembangunan hanggar untuk merawat pesawat di wilayah Indonesia timur. “Akan kembangkan di Medan dan Makasar,” katanya.
Richard menambahkan, perbaikan fasilitas dan perbaikan Hanggar untuk memperbesar kapasitas pesawat yang porsi terbesarnya masih di Garuda. Porsi terbesar masih di Garuda sebesar 80 persen dan sisanya akan dikontribusikan oleh maskapai lainnya.
Perseroan berniat untuk menaikkan porsi maskapai lainnya sehingga menjadi seimbang.“Kami maunya fifty-fifty,” papar dia.
Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar mengatakan, tidak ada masalah dengan rencana IPO GMF AeroAsia walau diprediksi akan mengurangi pendapatan Garuda karena kontribusi signifikan berasal dari GMF.
“Treatment akuntingnya tetap nol dari net income, baik konsolidasi atau tidak. Maka, tidak ada masalah jika GMF IPO atau tidak,” paparnya.
Emirsyah menambahkan, GGIA pun berencana menerbitkan obligasi dalam bentuk dolar AS dan rupiah namun penerbitan surat utang tersebut masih menunggu hasil kinerja keuangan perseroan pada kuartal IV/2012. “Kami rencananya akan terbitkan obligasi pada semester I/2013,” tambahnya.
Menurut dia, obligasi ini sebagai salah satu alternatif untuk mendapatkan dana segar. Pasalnya, perseroan bersama konsultannya, yakni Standard Chartered tengah mempertimbangkan beberapa opsi pendanaan ini, termasuk penerbitan saham baru (rights issue).
“Hasil obligasi ini akan digunakan untuk pengembangan perusahaan dengan menambah pesawat,” paparnya.
Direktur Utama GMF AeroAsia Richard Budihadianto mengungkapkan, setelah digelarnya IPO, komposisi pendapatan akan menjadi 70 persen berasal dari perusahaan dan sebesar 30 persen dari pihak ketiga.
“Karena kita juga punya pelanggan dari airline lain yang mendukung pendapatan,” ujar Richard saat ditemui usai paparan publik GGIA di Jakarta, Kamis (25/10).
Namun, dia belum bersedia mengungkapkan berapa kisaran saham yang akan dilepas ke publik. Dia mengatakan bahwa dana pendanaan IPO akan digunakan untuk memperoleh pendanaan dalam jangka waktu 15-20 tahun ke depan.
Diperkirakan, dana ini akan digunakan untuk mendukung pembangunan hanggar untuk merawat pesawat di wilayah Indonesia timur. “Akan kembangkan di Medan dan Makasar,” katanya.
Richard menambahkan, perbaikan fasilitas dan perbaikan Hanggar untuk memperbesar kapasitas pesawat yang porsi terbesarnya masih di Garuda. Porsi terbesar masih di Garuda sebesar 80 persen dan sisanya akan dikontribusikan oleh maskapai lainnya.
Perseroan berniat untuk menaikkan porsi maskapai lainnya sehingga menjadi seimbang.“Kami maunya fifty-fifty,” papar dia.
Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar mengatakan, tidak ada masalah dengan rencana IPO GMF AeroAsia walau diprediksi akan mengurangi pendapatan Garuda karena kontribusi signifikan berasal dari GMF.
“Treatment akuntingnya tetap nol dari net income, baik konsolidasi atau tidak. Maka, tidak ada masalah jika GMF IPO atau tidak,” paparnya.
Emirsyah menambahkan, GGIA pun berencana menerbitkan obligasi dalam bentuk dolar AS dan rupiah namun penerbitan surat utang tersebut masih menunggu hasil kinerja keuangan perseroan pada kuartal IV/2012. “Kami rencananya akan terbitkan obligasi pada semester I/2013,” tambahnya.
Menurut dia, obligasi ini sebagai salah satu alternatif untuk mendapatkan dana segar. Pasalnya, perseroan bersama konsultannya, yakni Standard Chartered tengah mempertimbangkan beberapa opsi pendanaan ini, termasuk penerbitan saham baru (rights issue).
“Hasil obligasi ini akan digunakan untuk pengembangan perusahaan dengan menambah pesawat,” paparnya.
(rna)
Lihat Juga :