IHSG sepekan diprediksi menguat

Senin, 29 Oktober 2012 - 08:43 WIB
IHSG sepekan diprediksi...
IHSG sepekan diprediksi menguat
A A A
Sindonews.com - Setelah pada perdagangan pekan lalu indeks harga saham gabungan (IHSG) berhasil ditutup menguat tipis, diperkirakan IHSG pun kemungkinan masih akan bergerak variatif cenderung menguat tipis pada perdagangan selama sepekan ke depan.

"Sepekan depan, IHSG akan berada pada rentang support 4.278-4.308 dan resistance 4.362-4.385," ujar Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada kepada Sindonews, Senin (29/10/2012).

IHSG masih terlihat membentuk pola seperti shooting star dan masih mencoba mendekati upper bollinger bands. MACD bergerak naik tipis dengan histogram positif yang mendatar. RSI, William's %R, dan Stochastic masih bergerak mendatar di atas area overbought.

IHSG pada pekan kemarin kembali mempertahankan posisinya di zona hijau meskipun kemampuan bertahannya mulai berkurang. Selain karena posisi IHSG yang memang masih berada di atas area.

Overbought, keinginan pelaku pasar untuk profit taking pun juga masih ada sehingga menjadikan IHSG rentan terhadap pelemahan.

Pekan depan merupakan permulaan bulan November, yang biasanya akan dirilis data inflasi bulanan. "Kami perkirakan tekanan inflasi masih berkurang, sehingga rilis inflasi nanti tidak akan mengalami lonjakan," ujarnya.

Bila pada September 2012, inflasi tercatat sangat rendah 0,01 persen. Kemungkinan pada rilis inflasi Oktober 2012 nanti diperkirakan akan berada pada kisaran -0,04 persen hingga 0,06 persen dengan pertimbangan/asumsi tidak adanya lonjakan signifikan harga bahan pangan, listrik dan BBM.

Pada pekan depan, aksi-aksi profit taking kemungkinan masih akan kembali mewarnai perdagangan. "Akan tetapi, diharapkan dengan makin banyaknya rilis laporan keuangan domestik, terutama emiten-emiten besar/blue chip dan rilis data-data yang muncul (yang telah disebutkan di atas) bisa minimal sesuai dengan ekspektasi sehingga mampu mengurangi tekanan," simpulnya.

Pada perdagangan pekan sebelumnya, walaupun bursa saham Indonesia di akhir pekan mengalami libur memperingati Idul Adha dan juga beberapa bursa saham Asia seperti Filipina, Malaysia, dan Singapura juga mengalami libur, namun bursa saham global tetap buka dan mengalami penurunan karena memburuknya sentimen yang ada, terutama dari rilis laporan emiten global.

"Pada bursa saham Indonesia, bila kita hitung selama sepekan, IHSG masih dapat mencatatkan kenaikan menyusul kenaikan mingguan yang dicapai sebelumnya. Kali ini IHSG mengalami kenaikan mingguan lebih rendah dari pekan sebelumnya dimana hanya naik 7,90 poin atau naik 0,18 persen di level 4.339,15," tutur Reza.

Sementara pekan sebelumnya naik 19,86 poin atau 0,46 persen menjadi 4.331,25. Selama sepekan kemarin posisi tertinggi dicapai pada level 4.354,94 yang dicapai pada Selas (23/10).

Berbeda dengan pekan sebelumnya dimana mayoritas indeks utama mengalami penguatan, kali ini terdapat tiga indeks utama yang mengalami pelemahan diantaranya LQ45 -0,09 persen; JII -0,22 persen; dan IDX30 -0,12 persen. Begitu pun dengan indeks sektoral yang sebagian besar tercatat melemah.

Beberapa diantaranya, indeks konsumer -0,99 persen; indeks aneka industri -0,85 persen; indeks manufaktur -0,72 persen; dan indeks industri dasar -0,12 persen.

Penurunan yang terjadi kami perkiraan karena adanya aksi profit taking yang dibarengi dengan memburuknya data-data ekonomi yang dirilis, terutama dari rilis kinerja emiten global yang lebih banyak berada di bawah estimasi sehingga pelaku pasar memanfaatkan kondisi tersebut untuk melepas sebagian posisi saham.

Pelemahan terlihat saat rilis data surplus neraca lancar/current account (neraca perdagangan dan neraca jasa) Eropa yang dirilis turun menjadi 8,8 miliar euro untuk Agustus 2012 dari prediksi 11,3 miliar euro.

Pasar juga menanggapi negatif hasil KTT Uni Eropa dimana tidak ada kejelasan pembentukan Serikat Perbankan di Uni Eropa dan tidak adanya pembahasan mengenai bantuan untuk Spanyol.

Program rekapitalisasi perbankan melalui The European Stability Mechanism (ESM) kemungkinan paling cepat efektif di akhir tahun 2013 sehingga mengurangi harapan pasar terhadap bailout Spanyol lebih lanjut melalui kebijakan intervensi ESM di pasar obligasi primer.

Di sisi lain, di awal pekan sentimen negatif juga datang dari naiknya klaim pengangguran AS, penurunan existing home sales, rilis penurunan data investasi langsung China, dan rilis emiten-emiten teknologi AS seperti Google Inc. dan Microsoft Corp. yang mengalami penurunan kinerja.

Emiten AS lain yang merilis penurunan kinerja a.l Mc. Donald Corp.dan General Electric Co. Akan tetapi, rilis laporan keuangan Yahoo! Inc. yang di atas estimasi bisa direspon positif.

Adanya penurunan trade balance Jepang turut menambah sentimen negatif namun, sedikit tertahan dengan kabar positif bahwa PM Spanyol, Mariano Rajoy, mendapat persetujuan untuk program austerity-nya dan beredarnya spekulasi bank sentral, seperti BoJ dan PBoC akan memberikan tambahan stimulus.

Di sisi lain, juga beredar spekulasi bahwa Pemerintah China akan memperkenalkan langkah-langkah untuk meningkatkan likuiditas pasar ekuitas sebelum transisi kepemimpinan bulan depan.

Sentimen positif dari China dan Jepang tersebut kembali terhalangi seiring aksi Moody's yang memangkas peringkat kredit lima pemerintah daerah di Spanyol yakni Andalusia, Extremadura, Castile–La Mancha, Catalonia, dan Morrissey.

Selain itu, Bank Sentral Spanyol menyatakan, bahwa resesi di Spanyol masih akan berlanjut dan kemungkinan tidak akan bisa mencapai target defisit fiskalnya untuk 2012 di level 6,3 persen dari total PDB.

Di sisi lain, secara berturut-turut lebih banyak emiten global yang merilis penurunan kinerja a.l Acer Inc., GS Yuasa Corp., SMS Management & Technology Ltd., Anhui Conch Cement Co., dan Pacific Brands Ltd., Alfa Laval & D.E Master Blenders, Mulberry Group Plc., Nokia Oyj, dan Arkema SA. Tak ketinggalan 3M Co., Xerox Corp., Dupont Co., Freeport-McMoran Copper & Gold Inc., dan Halliburton Co. juga berkinerja di bawah estimasi

Adapun beberapa data-data ekonomi yang akan dirilis, antara lain:

AS : Personal Income, Personal Spending, Redbook (MoM), Indeks Perumahan, CB Consumer Confidence, ADP Nonfarm Employment Change.

Eropa : CPI bulanan & tahunan+Unemployment Rate+Retail Sales bulanan & tahunan Jerman; Retail Sales bulanan & tahunan+GDP (QoQ)

Spanyol : Mortgage Approvals+Mortgage Lending+Consumer Confidence

Inggris : Consumer Confidence Perancis; CPI bulanan & tahunan Italia.

Asia pasifik : Retail Sales (YoY)+Unemployment Rate+Industrial Production Jepang; Industrial Production bulanan & tahunan+CPI bulanan & tahunan+HSBC Manufacturing PMI KorSel; Building Approvals (MoM)

Australia :Trade Balance+Inflation bulanan & tahunan Indonesia.
(rna)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Siap Keluar dari Konsolidasi...
Siap Keluar dari Konsolidasi Wajar, IHSG Diprediksi Menguat
Pasar Modal Kembali...
Pasar Modal Kembali ke 5.000 dari Titik Terendah, Airlangga: Kita Punya Daya Tahan
Ada Libur Panjang, Gerak...
Ada Libur Panjang, Gerak IHSG Pekan Ini Bakal Terbatas
IHSG Diprediksi Bakal...
IHSG Diprediksi Bakal Menguat, Simak Nih 6 Saham Ini
IHSG Diprediksi Reli,...
IHSG Diprediksi Reli, Mainkan 6 Saham Berikut Ini
Masih Betah Konsolidasi...
Masih Betah Konsolidasi Wajar, Gerak IHSG Diprediksi Terbatas
Berita Terkini
Tokenisasi Saham AI...
Tokenisasi Saham AI Diminati Investor, Bittime Catat Kepemilikan Naik 106%
1 jam yang lalu
Iran-AS Memanas Lagi,...
Iran-AS Memanas Lagi, Harga Minyak Dunia Melonjak Lebih dari 6%
2 jam yang lalu
Pertamina Manfaatkan...
Pertamina Manfaatkan Jakarta Fair Perkuat Daya Saing UMKM Lokal
2 jam yang lalu
Pasar Saham RI Terancam...
Pasar Saham RI Terancam Turun Kelas, Modal Asing Bisa Kabur Rp3,6 Triliun
2 jam yang lalu
Sertifikasi Influencer...
Sertifikasi Influencer Kripto Dinilai Jadi Langkah Positif Bangun Ekosistem Lebih Sehat
3 jam yang lalu
Rupiah Kian Krasan di...
Rupiah Kian Krasan di Kisaran Rp18.000, Apa Penyebabnya?
3 jam yang lalu
Infografis
Diprediksi Puncak Arus...
Diprediksi Puncak Arus Mudik dan Arus Balik Lebaran 2025
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved