Pemerintah akan renegosiasi harga ekspor gas Tangguh
Selasa, 06 November 2012 - 14:28 WIB
Pemerintah akan renegosiasi harga ekspor gas Tangguh
A
A
A
Sindonews.com - Pemerintah sering mendapat kritik keras dari para pelaku industri di dalam negeri yang merasa kekurangan suplai gas. Pasalnya, mereka melihat pemerintah mengekspor gas dari Tangguh dengan harga murah ketika industri di dalam negeri sedang kekurangan gas.
Untuk mencegah kerugian negara yang lebih besar lagi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berencana melakukan negosiasi ulang terhadap harga ekspor gas dari Tangguh ke Fujian, China.
"Harga gas ke Fujian harus dinegosiasi. Kita harus berjuang. Sampai 2029 kalau tidak salah kontraknya," kata Menteri ESDM Jero Wacik di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (6/11/2012).
Jero mengaku, Kementerian ESDM telah mengirimkan tim ke China untuk melakukan renegosiasi. "Kita sudah kirim tim ke sana untuk renegosiasi," ujarnya.
Sebagai catatan, ekspor LNG Tangguh ke China hanya dihargai USD3,35 per juta british thermal unit (mmbtu). Padahal, harga pasaran gas dunia mencapai USD11 per mmbtu atau sekitar tiga kali lipatnya. Kontrak gas yang merugikan negara tersebut dibuat pada masa pemerintahan Megawati Soekarnoputri tahun 2002 silam.
Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) pun telah meminta pemerintah untuk menomorsatukan kebutuhan gas di dalam negeri demi kemajuan industri, bukan malah merugikan negara dengan ekpor gas murah.
"Kita lihat perkembangan industrialisasi butuh gas lebih banyak. Tapi mentalitas pejabat masih mementingkan ekspor. Harusnya gas dipakai ke dalam negeri dulu, bukan dapat sisa dari ekspor," keluh Ketua Umum Apindo Sofjan Wanandi beberapa hari yang lalu.
Untuk mencegah kerugian negara yang lebih besar lagi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berencana melakukan negosiasi ulang terhadap harga ekspor gas dari Tangguh ke Fujian, China.
"Harga gas ke Fujian harus dinegosiasi. Kita harus berjuang. Sampai 2029 kalau tidak salah kontraknya," kata Menteri ESDM Jero Wacik di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (6/11/2012).
Jero mengaku, Kementerian ESDM telah mengirimkan tim ke China untuk melakukan renegosiasi. "Kita sudah kirim tim ke sana untuk renegosiasi," ujarnya.
Sebagai catatan, ekspor LNG Tangguh ke China hanya dihargai USD3,35 per juta british thermal unit (mmbtu). Padahal, harga pasaran gas dunia mencapai USD11 per mmbtu atau sekitar tiga kali lipatnya. Kontrak gas yang merugikan negara tersebut dibuat pada masa pemerintahan Megawati Soekarnoputri tahun 2002 silam.
Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) pun telah meminta pemerintah untuk menomorsatukan kebutuhan gas di dalam negeri demi kemajuan industri, bukan malah merugikan negara dengan ekpor gas murah.
"Kita lihat perkembangan industrialisasi butuh gas lebih banyak. Tapi mentalitas pejabat masih mementingkan ekspor. Harusnya gas dipakai ke dalam negeri dulu, bukan dapat sisa dari ekspor," keluh Ketua Umum Apindo Sofjan Wanandi beberapa hari yang lalu.
(rna)
Lihat Juga :