Perikanan budidaya tutupi defisit perikanan tangkap
Jum'at, 09 November 2012 - 11:41 WIB
Perikanan budidaya tutupi defisit perikanan tangkap
A
A
A
Sindonews.com - Ketersediaan perikanan tangkap terus menurun hingga berpotensi menurunkan angka produksi perikanan. Sebagai langkah antisipasi, pemerintah berusaha meningkatkan produktivitas perikanan budidaya hingga mampu menggantikan kontribusi perikanan tangkap.
“Perikanan budidaya menjadi primadona untuk terus ditingkatkan produktivitasnya lantaran stok perikanan tangkap cenderung mengalami stagnasi,” ungkap Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif C Sutardjo dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Jumat (9/11/2012).
Sharif menjelaskan, perikanan budidaya dapat terus ditingkatan produksinya karena Indonesia telah memiliki teknologi, peralatan baru maupun probiotik, sehingga laju produksi perikanan tankap dapat dioptimalkan.
Tercatat, sampai dengan triwulan II/2012 produksi perikanan budidaya mencapai 10,89 juta ton atau 73,28 persen dari dari target tahun 2012 sebesar 14,86 juta ton. Sharif optimistis, produksi perikanan budidaya mampu melampaui target yang telah ditetapkan.
“Diperkirakan akhir tahun ini, produksi perikanan budidaya mampu menembus angka 14,8 juta ton yang dilakukan melalui revitalisasi perikanan budidaya,” sambungnya.
Laju pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) perikanan berdasarkan tren sejak 2009 diperkirakan akan tumbuh lebih tinggi dibanding dua tahun sebelumnya. Berdasarkan data KKP, laju pertumbuhan PDB perikanan sebesar 4,53 persen pada tahun 2011 dan 5,05 persen pada triwulan III tahun 2012.
Sedangkan, target pertumbuhan PDB perikanan sebesar 6,85 persen pada 2012, 7 persen pada 2013 dan 7,25 persen pada 2014. Menurut dia, ekspor hasil perikanan saat ini telah mengarah kepada produk bernilai tambah dan mengalami kenaikan nilai ekspor pada Januari-Juli 2012 sebesar 14,69 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. KKP menargetkan pada 2012 nilai ekspor hasil perikanan USD4,2 miliar.
Kendati demikian, Sharif mengakui, terjadi penurunan pangsa pasar utama yakni Amerika Serikat (AS), Jepang, dan Uni Eropa akibat resesi global. Tetapi, pangsa pasar potensial lainnya cenderung meningkat sebagai salah satu dampak dari diplomasi dan promosi pemasaran hasil perikanan.
Hal itu juga didukung dengan peningkatan jumlah UPI yang memenuhi persyaratan ekspor di negara tujuan utama dan terjadi diversifikasi pasar tujuan ekspor.
“Perikanan budidaya menjadi primadona untuk terus ditingkatkan produktivitasnya lantaran stok perikanan tangkap cenderung mengalami stagnasi,” ungkap Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif C Sutardjo dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Jumat (9/11/2012).
Sharif menjelaskan, perikanan budidaya dapat terus ditingkatan produksinya karena Indonesia telah memiliki teknologi, peralatan baru maupun probiotik, sehingga laju produksi perikanan tankap dapat dioptimalkan.
Tercatat, sampai dengan triwulan II/2012 produksi perikanan budidaya mencapai 10,89 juta ton atau 73,28 persen dari dari target tahun 2012 sebesar 14,86 juta ton. Sharif optimistis, produksi perikanan budidaya mampu melampaui target yang telah ditetapkan.
“Diperkirakan akhir tahun ini, produksi perikanan budidaya mampu menembus angka 14,8 juta ton yang dilakukan melalui revitalisasi perikanan budidaya,” sambungnya.
Laju pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) perikanan berdasarkan tren sejak 2009 diperkirakan akan tumbuh lebih tinggi dibanding dua tahun sebelumnya. Berdasarkan data KKP, laju pertumbuhan PDB perikanan sebesar 4,53 persen pada tahun 2011 dan 5,05 persen pada triwulan III tahun 2012.
Sedangkan, target pertumbuhan PDB perikanan sebesar 6,85 persen pada 2012, 7 persen pada 2013 dan 7,25 persen pada 2014. Menurut dia, ekspor hasil perikanan saat ini telah mengarah kepada produk bernilai tambah dan mengalami kenaikan nilai ekspor pada Januari-Juli 2012 sebesar 14,69 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. KKP menargetkan pada 2012 nilai ekspor hasil perikanan USD4,2 miliar.
Kendati demikian, Sharif mengakui, terjadi penurunan pangsa pasar utama yakni Amerika Serikat (AS), Jepang, dan Uni Eropa akibat resesi global. Tetapi, pangsa pasar potensial lainnya cenderung meningkat sebagai salah satu dampak dari diplomasi dan promosi pemasaran hasil perikanan.
Hal itu juga didukung dengan peningkatan jumlah UPI yang memenuhi persyaratan ekspor di negara tujuan utama dan terjadi diversifikasi pasar tujuan ekspor.
(rna)
Lihat Juga :