GLP bantah jual Blitzmegaplez ke perusahaan Korsel
Selasa, 09 April 2013 - 18:37 WIB
GLP bantah jual Blitzmegaplez ke perusahaan Korsel
A
A
A
Sindonews.com - PT Graha Layar Prima (GLP) sebagai pemilik bioskop Blitzmegaplex membantah telah dibeli oleh CJ, perusahaan asal Korea Selatan.
"Tidak ada pergantian kepemilikan di PT GLP sebagai pemilik Blitzmegaplex, maupun di Blitzmegaplex itu sendiri," tegas Direktur PT GLP, Brata Perdana dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Selasa (9/4/2013).
Dia menambahkan, hal ini bisa dikonfirmasikan lebih lanjut kepada Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. "Industri Bioskop termasuk dalam DNI (Daftar Negatif Investasi) dan kami paham betul dan sangat menghormati peraturan itu, sehingga tidak mungkin melanggarnya," tambah dia.
Saat ini perusahaannya sedang melakukan pengembangan dan perbaikan kinerja operasional dengan memakai beberapa tenaga ahli dari berbagai negara antara lain dari Singapura, India and Korea Selatan. Dalam lima bulan terakhir PT GLP sudah membuka bioskop baru di Batam dan Balikpapan, dan akan menambah bioskop baru di Bekasi dan Batam.
"Kami juga sedang mengkaji pembukaan bioskop di Solo dan Manado. Rencana jangka panjang kami adalah hadir di kota bahkan kabupaten yang belum menikmati akses bioskop yang jumlahnya mencapai 450 dari 497 kota/kabupaten di seluruh Indonesia," ujar Brata.
Sebagaimana diketahui, jumlah layar bioskop di Indonesia masih sangat sedikit dan hanya terkonsentrasi di kota-kota besar di Pulau Jawa, sementara minat menonton masyarakat Indonesia sangat besar. Pada 2012 saja hampir 19 juta penonton bioskop.
Berkaca dari India yang kekuatan bioskop dimulai dari semaraknya film nasional, Blitz berencana untuk mengadakan beberapa festival film untuk mendukung perfilman nasional.
"Tidak ada pergantian kepemilikan di PT GLP sebagai pemilik Blitzmegaplex, maupun di Blitzmegaplex itu sendiri," tegas Direktur PT GLP, Brata Perdana dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Selasa (9/4/2013).
Dia menambahkan, hal ini bisa dikonfirmasikan lebih lanjut kepada Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. "Industri Bioskop termasuk dalam DNI (Daftar Negatif Investasi) dan kami paham betul dan sangat menghormati peraturan itu, sehingga tidak mungkin melanggarnya," tambah dia.
Saat ini perusahaannya sedang melakukan pengembangan dan perbaikan kinerja operasional dengan memakai beberapa tenaga ahli dari berbagai negara antara lain dari Singapura, India and Korea Selatan. Dalam lima bulan terakhir PT GLP sudah membuka bioskop baru di Batam dan Balikpapan, dan akan menambah bioskop baru di Bekasi dan Batam.
"Kami juga sedang mengkaji pembukaan bioskop di Solo dan Manado. Rencana jangka panjang kami adalah hadir di kota bahkan kabupaten yang belum menikmati akses bioskop yang jumlahnya mencapai 450 dari 497 kota/kabupaten di seluruh Indonesia," ujar Brata.
Sebagaimana diketahui, jumlah layar bioskop di Indonesia masih sangat sedikit dan hanya terkonsentrasi di kota-kota besar di Pulau Jawa, sementara minat menonton masyarakat Indonesia sangat besar. Pada 2012 saja hampir 19 juta penonton bioskop.
Berkaca dari India yang kekuatan bioskop dimulai dari semaraknya film nasional, Blitz berencana untuk mengadakan beberapa festival film untuk mendukung perfilman nasional.
(gpr)
Lihat Juga :