Ketidakpastian kebijakan BBM sungkurkan IHSG

Selasa, 11 Juni 2013 - 08:09 WIB
Ketidakpastian kebijakan...
Ketidakpastian kebijakan BBM sungkurkan IHSG
A A A
Sindonews.com - Labilnya pemerintah dalam menetapkan kebijakan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) membuat kebijakan ini semakin berlarut-larut menjadi sentimen negatif kejatuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dari waktu ke waktu ditengah penguatan sejumlah bursa global.

Pada perdagangan hari ini, Selasa (11/6/2013), diperkirakan IHSG akan berada pada support 4.700-4.764 dan resistance 4.800-4.925. Berpola menyerupai lower big spinning di bawah lower bollinger bands (LBB). MACD bergerak turun dengan histogram negatif yang memanjang. RSI, William's %R, dan Stochastic masih di area oversold.

"Laju IHSG yang kembali ditutup di bawah target support kami (4.840-4.875) semakin membuat kondisi tidak nyaman. Meski IHSG dan hampir mayoritas saham-saham secara teknikal sudah berada di bawah area oversold namun, belum ada tanda-tanda upreversal hingga sentimen yang ada berbalik arah," kata Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada, Selasa (11/6/2013).

Dirinya berpendapat, pelaku pasar bisa mencermati volume perdagangan terhadap beberapa saham yang masih dalam posisi nett buy asing.

Menilik perdagangan kemarin, masih banyaknya sentimen negatif, terutama dari dalam negeri, membuat pelaku pasar masih menjauhi pasar. Apalagi untuk investor asing, dengan nilai akumulasi nett buy hingga pekan kemarin masih ada senilai Rp14,01 triliun, membuat mereka pun gencar melakukan aksi jual untuk mengurangi posisinya.

Pelaku pasar masih merasa tidak nyaman dengan kondisi pasar saham Indonesia saat ini. Kondisi ini berbanding terbalik dengan regional dimana masih mampu bergerak variatif cenderung mencoba menguat meskipun rilis data-data dari China kurang mendukung.

Tampaknya tekanan jual di dalam negeri mungkin lebih besar jika dibandingkan di sejumlah bursa saham regional yang sama-sama melemah.

"Beberapa faktor yang menyebabkan kondisi tidak nyaman antara lain masih rendahnya nilai tukar rupiah, turunnya nilai cadangan devisa dalam 5 bulan terakhir, belum jelasnya waktu kenaikan harga BBM, dan ketidakjelasan lainnya," tegasnya.

Sepanjang perdagangan, IHSG menyentuh level 4.915,93 (level tertingginya) di awal sesi I dan menyentuh level 4.750,95 (level terendahnya) di pertengahan sesi II dan berakhir di level 4.777,37.

Volume perdagangan naik dan nilai total transaksi turun. Investor asing mencatatkan nett sell dengan penurunan nilai transaksi beli dan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett buy.
(gpr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Covid Naik Bikin IHSG...
Covid Naik Bikin IHSG Tercekik, Analis: Tak Akan Separah 2020
Tren Jangka Pendek IHSG...
Tren Jangka Pendek IHSG Aman Jika Tak Sentuh Level 5.972
Dipicu Lonjakan Kasus...
Dipicu Lonjakan Kasus Covid-19, IHSG Berpeluang Terkonsolidasi
IHSG Berbalik Melemah...
IHSG Berbalik Melemah Pagi Ini Usai Kehilangan 3,41 Poin
187 Saham Menguat Bikin...
187 Saham Menguat Bikin IHSG Pagi Ini Dibuka Kokoh
Betah di Zona Hijau,...
Betah di Zona Hijau, IHSG Ditutup Naik Hampir 1% ke Level 6.107
Berita Terkini
Keamanan Jadi Faktor...
Keamanan Jadi Faktor Utama Nasabah Memilih Bank Digital
55 menit yang lalu
Ada Nilai Ekonomi Ratusan...
Ada Nilai Ekonomi Ratusan Triliun, Industri Tembakau Dipandang Diperlakukan Paling Tidak Adil
1 jam yang lalu
Kepala BPS Ungkap Progres...
Kepala BPS Ungkap Progres Sensus Ekonomi 2026 DKI Jakarta: Capai 45,17%
1 jam yang lalu
IHSG Cetak Rebound,...
IHSG Cetak Rebound, Kembali Lagi ke Level 6.000 usai Pengumuman S&P Global Ratings
2 jam yang lalu
S&P Rilis Peringkat...
S&P Rilis Peringkat Kredit Terbaru Indonesia: Outlook Stabil di BBB/A-2
2 jam yang lalu
Rupiah Ambruk Diterpa...
Rupiah Ambruk Diterpa Mega Korupsi hingga Konflik AS-Iran, Hari ini Tembus Rp18.109 per USD
2 jam yang lalu
Infografis
10 Negara Menaikkan...
10 Negara Menaikkan Harga BBM Akibat Perang AS-Iran, Banyak Tetangga RI
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved