Rupiah melemah, dua sektor ini paling diuntungkan

Kamis, 05 September 2013 - 11:54 WIB
Rupiah melemah, dua...
Rupiah melemah, dua sektor ini paling diuntungkan
A A A
Sindonews.com - PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menyebutkan emiten-emiten yang berbasis ekspor telah diuntungkan dengan kondisi makro ekonomi Indonesia saat ini salah satunya terkait melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD)

Analis Pefindo Niken Indriarsih mengungkapkan, keuntungan yang diperoleh perusahaan berbasis ekspor terutama karena adanya keuntungan selisih kurs akibat pelemahan rupia, sehingga bisa mengimbangi penurunan harga jual komoditi seperti batu bara.

"Dengan adanya pelemahan ini sektor yang diuntungkan adalah sektor-sektor berbasis ekspor, seperti perkebunan dan perdagangan. Dengan pelemahan nilai tukar dapat mengimbangi harga komoditas, seperti kelapa sawit (CPO) ataupun batu bara," terang Niken di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Kamis (5/9/2013).

Sebaliknya, lanjut Niken, perusahaan-perusahaan berbasis impor justru berpotensi mengalami pelemahan kinerja akibat kondisi makro ekonomi seperti saat ini. Secara spesifik, Niken menyebutkan, sektor yang akan terpengaruh negatif atas pelemahan nilai tukar mata uang tersebut adalah sektor farmasi dan automotif.

Pasalnya untuk jenis industri tersebut, bahan baku tidak ditemukan di Tanah Air dan mengharuskan perusahaan-perusahaan di sektor ini memenuhi kebutuhan bahan bakunya dari luar negeri alias impor.

"Yang terdampak negatif adalah industri berbasis impor, misalnya farmasi, automotif dan kimia karena sebagian besar bahan baku mereka haris diimpor," pungkasnya.

Sementara, sektor lain yang terpengaruh negatif namun tidak terlalu signifikan adalah telekomunikasi. "Untuk telekomunikasi banyak peralatan yang harus diimpor jadi mereka akan terdampak juga meskipun tidak terlalu banyak," pungkas Niken.

Untuk mengimbangi dampak negatif pelemahan nilai tukar mata uang tersebut, saran Niken, langkah yang bisa diambil perusahaan adalah dengan menyesuaikan harga jual produk. kendati demikian, harus mencermati daya beli dan daya saing sektor terkait agar langkah yang diambil justru semakin memperburuk keadaan.
(rna)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Ruarbiasah, Dalam Sepekan...
Ruarbiasah, Dalam Sepekan 5 Perusahaan Raup Dana Senilai Rp5,73 T
Rupiah Diprediksi Menguat,...
Rupiah Diprediksi Menguat, Efek Vaksin?
Efek Vaksin Pfizer,...
Efek Vaksin Pfizer, Rupiah Diramal Lanjutkan Penguatan
AP I Kembali Raih Peringkat...
AP I Kembali Raih Peringkat idAAA dari Pefindo
PT Soraya Berjaya Indonesia...
PT Soraya Berjaya Indonesia Resmi Melantai di Bursa Efek Indonesia
Rupiah Menguat Usai...
Rupiah Menguat Usai Tersungkur Kena Efek Demo Peringatan Darurat
Berita Terkini
Elnusa Petrofin Akselerasi...
Elnusa Petrofin Akselerasi Transformasi Digital Jasa Logistik Energi
10 menit yang lalu
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Kawal B50, Pakar Ekonomi: Solusi Cerdas Tekan Impor Minyak
20 menit yang lalu
HUT ke-54, Petrokimia...
HUT ke-54, Petrokimia Gresik Fokus Transformasi dan Keberlanjutan
1 jam yang lalu
Pemerintah Bakal Bangun...
Pemerintah Bakal Bangun Pusat Finansial di Bali, PP Ditargetkan Rampung Agustus
1 jam yang lalu
RANS Resmi Jadi Perusahaan...
RANS Resmi Jadi Perusahaan Terbuka, Investor Sambut Positif Debut di Bursa
4 jam yang lalu
Harga Emas Antam Hari...
Harga Emas Antam Hari Ini Naik Rp5.000 per Gram, Buyback Jadi Berapa?
6 jam yang lalu
Infografis
5 Pemain Paling Ikonik...
5 Pemain Paling Ikonik dalam Sejarah Piala Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved