IHSG berpotensi rebound di awal pekan
Senin, 11 November 2013 - 08:51 WIB
IHSG berpotensi rebound di awal pekan
A
A
A
Sindonews.com - Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini diperkirakan akan berada pada rentang support 4.440-4.460 dan resistance 4.492-4.498.
"Laju IHSG yang sempat berada diantara target support 4.438-4.457 dapat ditutup di atas target tersebut, sehingga memberikan harapan positif akan terbukanya harapan dan peluang untuk rebound. Dengan asumsi, laju IHSG mampu keluar dari batas atas garis tren pelemahan (4.480-4.485), maka diharapkan IHSG dapat kembali rebound," kata Reza, Senin (11/11/2013).
Laju anomali yang diperlihatkan IHSG sehari sebelumnya tampaknya gagal mempertahankannya di jalur hijau. Tampak di akhir pekan, laju IHSG kembali mengalami pelemahan seiring dengan laju bursa saham Asia yang masih di zona merahnya.
Masih adanya transaksi jual asing (nett sell) asing yang dibarengi dengan kembali melemahnya nilai tukar rupiah serta imbas pelemahan bursa saham global pasca masih beredarnya spekulasi percepatan tapering off The Fed membuat IHSG tidak kuasa menahan pelemahan yang terjadi. Selain itu, pelaku pasar juga menahan diri jelang rilis Rapat Dewan Gubernur BI pekan depan.
"Sepanjang perdagangan akhir pekan lalu, IHSG menyentuh level 4.484,98 (level tertingginya) jelang preclosing dan menyentuh level 4.446,48 (level terendahnya) di awal sesi 1 dan berakhir di level 4.476,72," ujarnya.
Volume perdagangan dan nilai total transaksi turun. Investor asing mencatatkan nett sell dengan penurunan nilai transaksi beli dan kenaikan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett buy.
Dari luar negeri, laju pelemahan bursa saham Asia masih berlanjut di akhir pekan. Apalagi setelah pelaku pasar merespon negatif rilis kenaikan GDP AS.
Begitupun dengan rilis klaim pengangguran AS yang juga menunjukkan penurunan turut menambah sentimen negatif. Dengan rilis data-data tersebut, juga menimbulkan spekulasi bahwa tapering off stimulus The Fed akan dipercepat.
Di sisi lain, adanya rilis positif kenaikan ekspor-impor dan trade balance China tertutupi oleh sentimen-sentimen negatif tersebut, termasuk sikap wait and see pelaku pasar jelang pertemuan Partai Komunis China dan jelang rilis data-data China lainnya di akhir pekan.
Setelah didera pelemahan pasca dirilisnya data kenaikan GDP dan penurunan klaim pengangguran, di perdagangan akhir pekan, laju bursa saham AS berbalik arah menguat.
Rilis kenaikan nonfarm payrolls yang diikuti dengan stabilnya rilis personal income memberikan harapan bahwa pasar tenaga kerja dapat bertahan di tengah pengurangan stimulus The Fed. Di sisi lain, rilis kenaikan tipis unemployment rate dan penurunan consumer spending belum banyak berimbas negatif pada bursa saham AS.
"Laju IHSG yang sempat berada diantara target support 4.438-4.457 dapat ditutup di atas target tersebut, sehingga memberikan harapan positif akan terbukanya harapan dan peluang untuk rebound. Dengan asumsi, laju IHSG mampu keluar dari batas atas garis tren pelemahan (4.480-4.485), maka diharapkan IHSG dapat kembali rebound," kata Reza, Senin (11/11/2013).
Laju anomali yang diperlihatkan IHSG sehari sebelumnya tampaknya gagal mempertahankannya di jalur hijau. Tampak di akhir pekan, laju IHSG kembali mengalami pelemahan seiring dengan laju bursa saham Asia yang masih di zona merahnya.
Masih adanya transaksi jual asing (nett sell) asing yang dibarengi dengan kembali melemahnya nilai tukar rupiah serta imbas pelemahan bursa saham global pasca masih beredarnya spekulasi percepatan tapering off The Fed membuat IHSG tidak kuasa menahan pelemahan yang terjadi. Selain itu, pelaku pasar juga menahan diri jelang rilis Rapat Dewan Gubernur BI pekan depan.
"Sepanjang perdagangan akhir pekan lalu, IHSG menyentuh level 4.484,98 (level tertingginya) jelang preclosing dan menyentuh level 4.446,48 (level terendahnya) di awal sesi 1 dan berakhir di level 4.476,72," ujarnya.
Volume perdagangan dan nilai total transaksi turun. Investor asing mencatatkan nett sell dengan penurunan nilai transaksi beli dan kenaikan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett buy.
Dari luar negeri, laju pelemahan bursa saham Asia masih berlanjut di akhir pekan. Apalagi setelah pelaku pasar merespon negatif rilis kenaikan GDP AS.
Begitupun dengan rilis klaim pengangguran AS yang juga menunjukkan penurunan turut menambah sentimen negatif. Dengan rilis data-data tersebut, juga menimbulkan spekulasi bahwa tapering off stimulus The Fed akan dipercepat.
Di sisi lain, adanya rilis positif kenaikan ekspor-impor dan trade balance China tertutupi oleh sentimen-sentimen negatif tersebut, termasuk sikap wait and see pelaku pasar jelang pertemuan Partai Komunis China dan jelang rilis data-data China lainnya di akhir pekan.
Setelah didera pelemahan pasca dirilisnya data kenaikan GDP dan penurunan klaim pengangguran, di perdagangan akhir pekan, laju bursa saham AS berbalik arah menguat.
Rilis kenaikan nonfarm payrolls yang diikuti dengan stabilnya rilis personal income memberikan harapan bahwa pasar tenaga kerja dapat bertahan di tengah pengurangan stimulus The Fed. Di sisi lain, rilis kenaikan tipis unemployment rate dan penurunan consumer spending belum banyak berimbas negatif pada bursa saham AS.
(rna)
Lihat Juga :