IHSG akhir pekan diprediksi reli di zona hijau
Jum'at, 15 November 2013 - 08:12 WIB
IHSG akhir pekan diprediksi reli di zona hijau
A
A
A
Sindonews.com - Kombinasi kenaikan tajam EIDO:US dan menguatnya Dow Jones menjadi katalis bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melanjutkan kenaikannya dalam perdagangan akhir pekan.
"Rentang IHSG berada pada kisaran 4.333-4.392. Pola white opening marubozu terbentuk atas IHSG mengindikasikan bullish reversal," kata Kepala Riset MNC Securities Edwin Sebayang, Jumat (15/11/2013).
Namun demikian, Edwin mengatakan, investor tetap perlu berhati-hati karena penguatan ini masih bersifat sementara karena dari asing sendiri masih saja mencatatkan net sell ditambah sentimen negatif masih lemahnya posisi nilai tukar rupiah (Rp) terhadap dolar Amerika Serikat (USD).
"Sekali lagi saya katakan, kenaikan IHSG tersebut sifatnya sementara alias hanya beberapa hari karena investor asing yang kembali melanjutkan net sell year to date mencapai Rp18,48 triliun dan nilai tukar rupiah terhadap USD yang masih duduk manis di atas level Rp11.500," tutur dia.
Sentimen positif datang dari luar negeri, dimana investor di Wall Street kembali berpesta pora setelah Dow Jones kembali menguat ke level tertinggi baru sepanjang masa, yakni naik 54,59 poin (0,34 persen) ditutup di level 15.876,22 disertai kejatuhan The Vix 1,2 persen ditutup di level 12,37 di tengah turunnya weekly jobless claim 2000 unit menjadi total 339.000 unit (lebih tinggi dari konsensus ekonom 330.000).
Penguatan didorong sentimen positif dari pernyataan Gubernur The Fed Janet Yellen yang mengatakan akan tetap melanjutkan paket kebijakan stimulus karena ekonomi AS masih rapuh, sebelum The Fed akan mengurangi paket Stimulusnya pada pertemuan The Fed 18-19 Maret 2014 menjadi USD70 miliar per bulannya dari USD85 miliar per bulan.
Sekitar 460 dari 500 emiten dalam Indeks S&P 500 yang telah merilis laba bersih LK Q3/2013, 75 persen diantaranya mengalahkan estimasi awal analis (lebih tinggi dibandingkan rata-rata 63 persen sejak tahun 1994), dimana saat ini analis memperkirakan laba bersih tumbuh rata-rata 4,2 persen (dengan asumsi sisanya setara kejadian di atas), tetapi masih dibawah ekspektasi 1 Juli 2013 sebesar 8,5 persen.
"Rentang IHSG berada pada kisaran 4.333-4.392. Pola white opening marubozu terbentuk atas IHSG mengindikasikan bullish reversal," kata Kepala Riset MNC Securities Edwin Sebayang, Jumat (15/11/2013).
Namun demikian, Edwin mengatakan, investor tetap perlu berhati-hati karena penguatan ini masih bersifat sementara karena dari asing sendiri masih saja mencatatkan net sell ditambah sentimen negatif masih lemahnya posisi nilai tukar rupiah (Rp) terhadap dolar Amerika Serikat (USD).
"Sekali lagi saya katakan, kenaikan IHSG tersebut sifatnya sementara alias hanya beberapa hari karena investor asing yang kembali melanjutkan net sell year to date mencapai Rp18,48 triliun dan nilai tukar rupiah terhadap USD yang masih duduk manis di atas level Rp11.500," tutur dia.
Sentimen positif datang dari luar negeri, dimana investor di Wall Street kembali berpesta pora setelah Dow Jones kembali menguat ke level tertinggi baru sepanjang masa, yakni naik 54,59 poin (0,34 persen) ditutup di level 15.876,22 disertai kejatuhan The Vix 1,2 persen ditutup di level 12,37 di tengah turunnya weekly jobless claim 2000 unit menjadi total 339.000 unit (lebih tinggi dari konsensus ekonom 330.000).
Penguatan didorong sentimen positif dari pernyataan Gubernur The Fed Janet Yellen yang mengatakan akan tetap melanjutkan paket kebijakan stimulus karena ekonomi AS masih rapuh, sebelum The Fed akan mengurangi paket Stimulusnya pada pertemuan The Fed 18-19 Maret 2014 menjadi USD70 miliar per bulannya dari USD85 miliar per bulan.
Sekitar 460 dari 500 emiten dalam Indeks S&P 500 yang telah merilis laba bersih LK Q3/2013, 75 persen diantaranya mengalahkan estimasi awal analis (lebih tinggi dibandingkan rata-rata 63 persen sejak tahun 1994), dimana saat ini analis memperkirakan laba bersih tumbuh rata-rata 4,2 persen (dengan asumsi sisanya setara kejadian di atas), tetapi masih dibawah ekspektasi 1 Juli 2013 sebesar 8,5 persen.
(rna)
Lihat Juga :