Aher klarifikasi isu Gunung Ciremai lewat Twitter
Selasa, 04 Maret 2014 - 10:39 WIB
Aher klarifikasi isu Gunung Ciremai lewat Twitter
A
A
A
Sindonews.com - Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan (Aher), menjawab rasa penasaran publik atas beredarnya isu penjualan Gunung Ciremai. Senin (3/3/2014) malam lewat akun twitter-nya, @aheryawan, ia memberi penjelasan dan klarifikasi soal isu tersebut.
"Ada berita di FB, BBM, dan lain-lain tentang penjualan Gunung Ciremai Rp60 triliun. Saya sudah baca, isinya hoax semua #HebohCiremai," kata Aher.
Menurutnya, tidak boleh ada pemanfaatan hutan Taman Nasional Gunung Ciremai selain untuk sektor kehutanan, apalagi dijual. Itu sesuai dengan SK Menhut Nomor 424 Tahun 2004 tentang Penetapan Kawasan Hutan Gunung Ciremai sebagai Taman Nasional.
SK tersebut bukan untuk membuka perusahaan asing masuk. Tapi SK itu justru untuk melindungi Gunung Ciremai sebagai Taman Nasional. Yang mungkin untuk dimanfaatkan dari Gunung Ciremai adalah kekayaan geothermal yang ada di luar Taman Nasional.
"Geothermal adalah sumber energi listrik yang paling ramah lingkungan, energi terbarukan, dan sangat diperlukan untuk kehidupan #HebohCiremai," ungkapnya.
Mengoptimalkan geothermal akan mengurangi ketergantungan kita pada energi fosil yang tidak terbarukan dan tidak ramah lingkungan. Itu karena geothermal menuntut kondisi hutan yang terpelihara dengan baik karena sangat tergantung pada suplai air.
"Geothermal sama sekali tidak mengeluarkan gas beracun seperti yang diisukan #HebohCiremai," tegas Aher.
Di Jawa Barat, geothermal menurutnya bukan barang baru. Sebab Jawa Barat adalah penghasil geothermal terbesar di Indonesia. Geothermal yang selama ini sudah berjalan adalah di Gunung Salak, Wayang Windu, Kawah Darajat, Kawah Kamojang, dan Kawah Bodas Patuha.
Ada juga pemanfaatan geothermal yang sedang dalam proses yaitu di Tangkubanparahu, Tampomas Sumedang, dan Cisolok Sukabumi. Aher juga menegaskan pemanfaatan geothermal tidak mengusir penduduk.
"Tidak ada pengusiran penduduk, geothermal jauh dari kawasan penduduk, justru akan memberi manfaat besar bagi masyarakat #HebobCiremai," jelasnya.
Manfaat yang justru dirasakan masyarakat sekitar adalah pengembangan ekonomi, pariwisata, pembangunan infrastruktur, serta lapangan kerja.
Aher juga menyatakan juga Gunung Ciremai dijaga CIA, BIN, USAID, dan lain-lain adalah bohong. Yang menjaga Gunung Ciremai adalah polisi hutan dan masyarakat pecinta hutan.
Pada kepemimpinan pertamanya, ada tiga tender geothermal yaitu di Tangkubanparahu, Tampomas, dan Cisolok. Semua pemenangnya adalah perusahaan dalam negeri.
Saat ini, pemanfataan pengolahan geothermal di Gunung Ciremai belum ada pemenang tender. Ia pun memastikan tidak ada penelitian yang menyatakan di Gunung Ciremai ada kandungan emas atau uranium.
"Untuk Ciremai siapapun pemenangnya harus bekerja sama dengan BUMD Jabar #HebohCiremai," ucapnya.
Di akhir twitnya, Aher pun mengingatkan kepada mereka yang menyebarkan isu. "Hati-hati yah, membuat dan menyebarkan berita bohong seperti ini bisa dijerat UU ITE Nomor 11 Tahun 2008," pungkasnya.
"Ada berita di FB, BBM, dan lain-lain tentang penjualan Gunung Ciremai Rp60 triliun. Saya sudah baca, isinya hoax semua #HebohCiremai," kata Aher.
Menurutnya, tidak boleh ada pemanfaatan hutan Taman Nasional Gunung Ciremai selain untuk sektor kehutanan, apalagi dijual. Itu sesuai dengan SK Menhut Nomor 424 Tahun 2004 tentang Penetapan Kawasan Hutan Gunung Ciremai sebagai Taman Nasional.
SK tersebut bukan untuk membuka perusahaan asing masuk. Tapi SK itu justru untuk melindungi Gunung Ciremai sebagai Taman Nasional. Yang mungkin untuk dimanfaatkan dari Gunung Ciremai adalah kekayaan geothermal yang ada di luar Taman Nasional.
"Geothermal adalah sumber energi listrik yang paling ramah lingkungan, energi terbarukan, dan sangat diperlukan untuk kehidupan #HebohCiremai," ungkapnya.
Mengoptimalkan geothermal akan mengurangi ketergantungan kita pada energi fosil yang tidak terbarukan dan tidak ramah lingkungan. Itu karena geothermal menuntut kondisi hutan yang terpelihara dengan baik karena sangat tergantung pada suplai air.
"Geothermal sama sekali tidak mengeluarkan gas beracun seperti yang diisukan #HebohCiremai," tegas Aher.
Di Jawa Barat, geothermal menurutnya bukan barang baru. Sebab Jawa Barat adalah penghasil geothermal terbesar di Indonesia. Geothermal yang selama ini sudah berjalan adalah di Gunung Salak, Wayang Windu, Kawah Darajat, Kawah Kamojang, dan Kawah Bodas Patuha.
Ada juga pemanfaatan geothermal yang sedang dalam proses yaitu di Tangkubanparahu, Tampomas Sumedang, dan Cisolok Sukabumi. Aher juga menegaskan pemanfaatan geothermal tidak mengusir penduduk.
"Tidak ada pengusiran penduduk, geothermal jauh dari kawasan penduduk, justru akan memberi manfaat besar bagi masyarakat #HebobCiremai," jelasnya.
Manfaat yang justru dirasakan masyarakat sekitar adalah pengembangan ekonomi, pariwisata, pembangunan infrastruktur, serta lapangan kerja.
Aher juga menyatakan juga Gunung Ciremai dijaga CIA, BIN, USAID, dan lain-lain adalah bohong. Yang menjaga Gunung Ciremai adalah polisi hutan dan masyarakat pecinta hutan.
Pada kepemimpinan pertamanya, ada tiga tender geothermal yaitu di Tangkubanparahu, Tampomas, dan Cisolok. Semua pemenangnya adalah perusahaan dalam negeri.
Saat ini, pemanfataan pengolahan geothermal di Gunung Ciremai belum ada pemenang tender. Ia pun memastikan tidak ada penelitian yang menyatakan di Gunung Ciremai ada kandungan emas atau uranium.
"Untuk Ciremai siapapun pemenangnya harus bekerja sama dengan BUMD Jabar #HebohCiremai," ucapnya.
Di akhir twitnya, Aher pun mengingatkan kepada mereka yang menyebarkan isu. "Hati-hati yah, membuat dan menyebarkan berita bohong seperti ini bisa dijerat UU ITE Nomor 11 Tahun 2008," pungkasnya.
(gpr)
Lihat Juga :