APBI nilai pengembangan PLTP belum optimal

Kamis, 03 April 2014 - 16:45 WIB
APBI nilai pengembangan...
APBI nilai pengembangan PLTP belum optimal
A A A
Sindonews.com - Assosiasi Panas Bumi Indonesia (APBI) menyatakan, pengembangan pembangkit listrik panas bumi (PLTP) di Indonesia belum optimal. Hal itu disebabkan karena masih banyak terkendala perizinan lahan.

Ketua APBI, Abadi Purnomo menuturkan, masih banyak kendala terkait pengembangan energi panas bumi. Salah satunya dengan pengadaan lahan yang pada umumnya terdapat di daerah terisolir. Belum lagi, lanjut dia, proses perizinan yang berbelit serta kurang koordinasi antara pemerintah daerah dengan pusat membuat pengembangan PLTP jauh panggang dari api.

"Harapan mendukung energi bersih (energi baru terbarukan) menjadi suram," kata dia saat dihubungi di Jakarta, Kamis (3/4/2014).

Abadi meragukan, jika proyek percepatan 10.000 megawatt tahap II ini dapat terpenuhi jika ketidakpastian aspek legal dan koordinasi lintas sektoral tidak dibenahi. Selain itu, kurangnya sumber daya manusia yang mumpuni akan menjadi kendala pencapaian target pengembangan pembangkit listrik panas bumi.

"Potensi panas bumi 28.617 megawatt. Tapi kapasitas terpasang baru sekitar 1.341 megawatt atau setara 4,7 persen," ujarnya.

Selain itu, masalah harga jual listrik panas bumi yang masih rendah juga menjadi kendala utama investor mengembangkan energi ini. Sehingga, para investor panas bumi meminta agar pemerintah segera merealisasikan penyesuaian harga. "Masalah ini sebenarnya sederhana, tinggal dinaikkan saja," kata dia.

Namun, mengakui penyesuaian harga akan menjadi sangat dilematis lantaran pemerintah berhubungan langsung dengan PT PLN (persero). Adapun biaya produksi perseroan hanya USD8 sen mix antara batu bara, panas bumi, gas dan bahan bakar minyak. "Tentu kalau harga jualnya tinggi PLN nantinya yang kena salah," jelas Abadi.

Sementara menanggapi rekomendasi harga dari Asian Development Bank (ADB) dan Bank Dunia (World Bank) selaku konsultan independent pemerintah dalam menentukan tarif listrik panas bumi berdasarkan celling price, tidak menjadi masalah.

Meski demikian, dia meminta agar pembanding harga tidak hanya menggunakan batu bara, tapi dibandingkan dengan harga gas. "Kalau dibandingkan dengan batu bara celling price-nya terlalu rendah tapi kalau dinaikan bisa fast bidding," pungkasnya.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Koordinasi Intensif...
Koordinasi Intensif Mengurai Tantangan Pengembangan Panas Bumi
Garap Proyek PLTP Dieng...
Garap Proyek PLTP Dieng Unit 2 dan PLTP Patuha 2, GeoDipa Ditopang PT PII
Pengeboran Segera Dimulai,...
Pengeboran Segera Dimulai, Megaproyek PLTP Patuha 2 Topang Pasokan Listrik Jawa-Bali
Resmi Beroperasi, PLTP...
Resmi Beroperasi, PLTP Sorik Marapi Unit 2 Kapasitas 45 MW
Buntut Kebocoran Gas,...
Buntut Kebocoran Gas, Kementerian ESDM Setop Operasi PLTP Sorik Marapi
Bangun PLTP Mataloko...
Bangun PLTP Mataloko 20 MW di NTT, PLN Kucurkan Rp101,8 Miliar
Berita Terkini
PLN EPI, PLN Puslitbang...
PLN EPI, PLN Puslitbang dan ITERA Kolaborasi Kembangkan Tanaman Energi
41 menit yang lalu
Pelindo Sinergi Lokaseva...
Pelindo Sinergi Lokaseva Catat Kinerja Operasional Positif di Awal 2026
46 menit yang lalu
BRI Life Ungkap Peran...
BRI Life Ungkap Peran Mitra Stategis Selama 4 Dekade
1 jam yang lalu
Pjs Dirut BEI Sebut...
Pjs Dirut BEI Sebut Fundamental Pasar Saham RI Masih Bagus, Ini Buktinya
1 jam yang lalu
Pupuk Kaltim Dorong...
Pupuk Kaltim Dorong Kemandirian Ekonomi Lewat Beragam Program TJSL
2 jam yang lalu
Penjelasan BEI soal...
Penjelasan BEI soal MSCI Turunkan Kasta Pasar Modal RI ke Frontier Market
2 jam yang lalu
Infografis
Wilayahnya Berdekatan,...
Wilayahnya Berdekatan, Negara-negara Ini Belum Serang Israel di 2024
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved