Rawan Profit Taking, IHSG Diprediksi Melemah Tipis
Jum'at, 14 November 2014 - 08:51 WIB
Rawan Profit Taking, IHSG Diprediksi Melemah Tipis
A
A
A
JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini diprediksi akan melemah tipis karena masih dibayangi aksi ambil untung (profit taking).
Kepala Riset MNC Securities Edwin Sebayang mengatakan, pola bearish three star terbentuk atas IHSG mengindikasikan rawan profit taking lanjutan. Dia memprediksi, IHSG akan bergerak pada kisaran 5.021-5.066.
"Kondisi perdagangan Jumat ini di Bursa Indonesia akan berjalan sepi dalam kisaran sempit dan cenderung melemah tipis," kata dia, Jumat (14/11/2014).
Kondisi tersebut diperkirakan tidak akan jauh berbeda dibandingkan kemarin. Kemarin, emiten penerbangan pelat merah, PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) merilis kinerja keuangan GIAA kuartal III/2014 lebih buruk dibanding periode yang sama tahun lalu.
GIAA mengalami rugi sebesar USD219,54 juta atau setara 14 kali lipat ketimbang kerugian di periode sama 2013 sebesar USD15,01 juta. Kerugian tersebut disumbang dari naiknya beban usaha GIAA 13,38% dari USD2,69 miliar menjadi USD3,05 miliar, di mana beban operasional penerbangannya sendri naik 17,61% (yoy) USD1,87 miliar.
"Itu artinya pemegang saham GIAA harus bersabar beberapa tahun lagi untuk bisa harga sahamnya berbalik ke harga IPO pada tiga tahun yang lalu," ujarnya.
Kepala Riset MNC Securities Edwin Sebayang mengatakan, pola bearish three star terbentuk atas IHSG mengindikasikan rawan profit taking lanjutan. Dia memprediksi, IHSG akan bergerak pada kisaran 5.021-5.066.
"Kondisi perdagangan Jumat ini di Bursa Indonesia akan berjalan sepi dalam kisaran sempit dan cenderung melemah tipis," kata dia, Jumat (14/11/2014).
Kondisi tersebut diperkirakan tidak akan jauh berbeda dibandingkan kemarin. Kemarin, emiten penerbangan pelat merah, PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) merilis kinerja keuangan GIAA kuartal III/2014 lebih buruk dibanding periode yang sama tahun lalu.
GIAA mengalami rugi sebesar USD219,54 juta atau setara 14 kali lipat ketimbang kerugian di periode sama 2013 sebesar USD15,01 juta. Kerugian tersebut disumbang dari naiknya beban usaha GIAA 13,38% dari USD2,69 miliar menjadi USD3,05 miliar, di mana beban operasional penerbangannya sendri naik 17,61% (yoy) USD1,87 miliar.
"Itu artinya pemegang saham GIAA harus bersabar beberapa tahun lagi untuk bisa harga sahamnya berbalik ke harga IPO pada tiga tahun yang lalu," ujarnya.
(rna)
Lihat Juga :