Raih Sukses meski Sosoknya Disebut Kurang Menarik
Rabu, 08 April 2015 - 22:20 WIB
Raih Sukses meski Sosoknya Disebut Kurang Menarik
A
A
A
MENJADI orang sukses tidak semudah membalikkan tangan. Setiap orang harus tahan banting dan memiliki tekad kuat untuk berhasil. Hal inilah yang membuat Tendean Rustandy merengkuh sukses.
CEO perusahaan keramik PT Arwana Citramulia Tbk ini menuturkan, semasa kecil dan remaja tidak disukai orang karena sosoknya tidak menarik. Di bagian kepala penuh luka (korengan). Bahkan, ibu kandungnya sempat menegur.
"Ibu saya bilang, kamu jelek, mata kamu sipit, kepala kamu korengan. Kamu enggak disukai orang. Kemudian setelah itu saya termotivasi, karena beliau bilang, kalau kamu mau disukai orang, kamu harus berubah dari segi pendidikan," ujarnya dalam Talk Show CEO Oneintwenty Movement di Balai Kartini, Jakarta, Senin (6/4/2015)
Tendean pun bertekad untuk bekerja keras agar sukses di tengah keterbatasan ekonomi keluarga. "Saya lahir di Pontianak, bukan dari keluarga yang cukup. Ayah saya harus bekerja dan belum tentu bisa makan 3 kali sehari. Karena hidup kita ditepi sungai, makan ikan asin deh tiap hari. Tapi, tetap bisa sekolah," ujarnya.
Begitu lulus dari Sekolah Dasar (SD), lanjut dia, perekonomian mulai membaik. Pria keturunan etnis Tionghoa tersebut ikut teman ayahnya untuk melanjutkan sekolah menengah pertama di Singapura.
"Tapi saya enggak bisa santai-santai. Ya, mentang-mentang ikut temannya Papa. Saya bangun pagi, saya bersihkan rumah teman Papa saya. Tapi, itu tidak disuruh, kesadaran sendiri. Karena saya sadar, saya harus kerja keras buat disukai orang," terangnya.
Perjuangan Tendean tak sampai di sana, selesai sekolah menengah, sang ibu menyuruh dia untuk kuliah di luar negeri. Keinginan Tendean waktu itu adalah di Inggris. Namun, tidak bisa dilakukan begitu saja. Karena mata uang di Inggris waktu itu sangat tinggi.
"Jadi saya kuliah di Colorado. Di kampus yang paling standar karena saya harus bekerja juga. Kemudian tahun pertama saya bekerja. Tahun kedua perekonomian keluarga jelek. Saya harus kerja keras lagi. Itulah saya harus mandiri. Hidup tidak boleh bersandar kepada siapa pun," terangnya.
Sampai akhirnya pada 1987, dia lulus perguruan tinggi dan harus kembali ke Indonesia. Namun, waktu itu dia 'galau' karena ingin bekerja di luar negeri.
"Akhirnya saya pulang, karena Ibu saya bilang, kamu mesti pulang. Ibu saya juga menyadarkan saya, kalau saya tidak pulang, saya akan dinikmati Amerika. Terus kapan kamu dinikmati Indonesia? Jadi, meskipun kita dididik di luar, kita harus tahu bahwa Tanah Air kita di sini. Kalau mau berhasil, buat berhasil dulu di dalam negeri, baru di luar," pungkasnya.
CEO perusahaan keramik PT Arwana Citramulia Tbk ini menuturkan, semasa kecil dan remaja tidak disukai orang karena sosoknya tidak menarik. Di bagian kepala penuh luka (korengan). Bahkan, ibu kandungnya sempat menegur.
"Ibu saya bilang, kamu jelek, mata kamu sipit, kepala kamu korengan. Kamu enggak disukai orang. Kemudian setelah itu saya termotivasi, karena beliau bilang, kalau kamu mau disukai orang, kamu harus berubah dari segi pendidikan," ujarnya dalam Talk Show CEO Oneintwenty Movement di Balai Kartini, Jakarta, Senin (6/4/2015)
Tendean pun bertekad untuk bekerja keras agar sukses di tengah keterbatasan ekonomi keluarga. "Saya lahir di Pontianak, bukan dari keluarga yang cukup. Ayah saya harus bekerja dan belum tentu bisa makan 3 kali sehari. Karena hidup kita ditepi sungai, makan ikan asin deh tiap hari. Tapi, tetap bisa sekolah," ujarnya.
Begitu lulus dari Sekolah Dasar (SD), lanjut dia, perekonomian mulai membaik. Pria keturunan etnis Tionghoa tersebut ikut teman ayahnya untuk melanjutkan sekolah menengah pertama di Singapura.
"Tapi saya enggak bisa santai-santai. Ya, mentang-mentang ikut temannya Papa. Saya bangun pagi, saya bersihkan rumah teman Papa saya. Tapi, itu tidak disuruh, kesadaran sendiri. Karena saya sadar, saya harus kerja keras buat disukai orang," terangnya.
Perjuangan Tendean tak sampai di sana, selesai sekolah menengah, sang ibu menyuruh dia untuk kuliah di luar negeri. Keinginan Tendean waktu itu adalah di Inggris. Namun, tidak bisa dilakukan begitu saja. Karena mata uang di Inggris waktu itu sangat tinggi.
"Jadi saya kuliah di Colorado. Di kampus yang paling standar karena saya harus bekerja juga. Kemudian tahun pertama saya bekerja. Tahun kedua perekonomian keluarga jelek. Saya harus kerja keras lagi. Itulah saya harus mandiri. Hidup tidak boleh bersandar kepada siapa pun," terangnya.
Sampai akhirnya pada 1987, dia lulus perguruan tinggi dan harus kembali ke Indonesia. Namun, waktu itu dia 'galau' karena ingin bekerja di luar negeri.
"Akhirnya saya pulang, karena Ibu saya bilang, kamu mesti pulang. Ibu saya juga menyadarkan saya, kalau saya tidak pulang, saya akan dinikmati Amerika. Terus kapan kamu dinikmati Indonesia? Jadi, meskipun kita dididik di luar, kita harus tahu bahwa Tanah Air kita di sini. Kalau mau berhasil, buat berhasil dulu di dalam negeri, baru di luar," pungkasnya.
(dmd)
Lihat Juga :