Masalah Ekonomi China Bertambah, Raksasa Properti Country Garden Rugi Rp114,8 Triliun

Sabtu, 12 Agustus 2023 - 10:15 WIB
Sebelumnya pada hari Kamis, lembaga pemeringkat Moody's menurunkan peringkat perusahaan, mengutip "peningkatan likuiditas dan risiko pembiayaan kembali". Kondisi ini terjadi ketika China menghadapi sejumlah tantangan ekonomi, yang telah menimbulkan pertanyaan tentang laju pemulihan pascapandemi.

Awal pekan ini, angka resmi menunjukkan ekspor China turun lebih besar dari perkiraan 14,5% pada Juli dibandingkan dengan tahun sebelumnya, sementara impor turun 12,4%. Sedangkan pengangguran kaum muda, yang berada pada rekor tertinggi, juga diawasi ketat karena rekor 11,58 juta lulusan universitas diperkirakan akan memasuki pasar kerja tahun ini.

Tekanan yang dialami Beijing juga menjadi perhatian Presiden AS, Joe Biden yang mengatakan, bahwa masalah ekonomi China yang berkembang membuatnya menjadi "bom waktu'. Pada acara penggalangan dana di negara bagian barat Utah, Biden juga mengatakan "China dalam masalah" saat ia menyoroti tingginya pengangguran dan tenaga kerja yang menua.

Negara ini juga tengah menghadapi tantangan dalam mengatasi utang pemerintah daerah yang membengkak dan tantangan di pasar perumahan. Bulan lalu, Evergrande, yang pernah menjadi perusahaan real estat terbesar di China, mengungkapkan bahwa total kerugian yang dialami sepanjang periode tahun 2021 dan 2022 mencapai sebesar USD81,1 miliar.

Apa yang dialami Evergrande, terjadi saat perusahaan gagal membayar utangnya pada akhir 2021. Evergrande telah berjuang untuk bertahan dengan beban utang mencapai USD300 miliar.Kerugian besar pengembang menjadi sorotan, sejauh mana mereka mengalami guncangan dalam beberapa tahun terakhir oleh krisis pasar properti di China.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!