AS Resesi, Indonesia Berharap Kuartal III Tumbuh

Sabtu, 01 Agustus 2020 - 06:45 WIB
Seperti dilansir Reuters, penurunan kinerja ekonomi AS merupakan yang terbesar sejak 1945 ketika data ekonomi pertama kali direkam negara itu. Kontraksi ekonomi hingga 32,9% itu sejalan dengan survei ekonom Dow Jones yang memperkirakan kontraksi 34,7%. (Baca juga: AS Ledek Iran karena Merudal Replika Kapal Induk Amerika)

“Data ini menggarisbawahi betapa dalam dan gelapnya ekonomi pada kuartal II. Kami akan keluar dari lubang itu, tetapi akan memakan waktu lama,” ujar Chief Economist Moody’s Analitics Mark Zandi seperti dikutip CNBC.

Menurut laporan Kementerian Perdagangan AS, kontraksi tajam perekonomian AS disebabkan anjloknya konsumsi pribadi, ekspor, investasi, dan pengeluaran pemerintah negara bagian. Di AS, konsumsi pribadi secara historis menyumbang sekitar dua pertiga dari semua aktivitas ekonomi negara itu, sedangkan sektor lainnya berasal dari jasa dan manufaktur.

Di bagian lain, pengamat ekonomi dari CORE Indonesia Piter Abdullah mengatakan resesi yang terjadi di AS bukanlah kabar buruk bagi perekonomian nasional. Pasalnya pengaruh perlambatan ekonomi global sudah dirasakan sejak ekspor menurun jauh beberapa bulan lalu sehingga diperkirakan tidak akan berdampak lebih besar lagi di masa mendatang.

Dia melanjutkan, semua negara tinggal menunggu waktu untuk menyatakan secara resmi mengalami resesi. Hal ini karena secara kasatmata proses resesi tersebut sudah berlangsung sejak awal tahun.

"Negara-negara tertentu yang sangat bergantung pada ekspor akan terseret lebih dalam karena selain terjadi wabah di domestik, ekspornya juga turun akibat penurunan ekonomi global. Tapi Indonesia bukan negara seperti itu, kita tidak bergantung ekspor," tandasnya.

Adapun Ekonom Indef Bhima Yudhistira menilai resesi ekonomi AS bisa mengubah kepercayaan investor untuk berinvestasi di setiap negara, termasuk Indonesia. Di antaranya pada sektor investasi berisiko tinggi seperti saham. “Perubahan prilaku investor semakin mengincar safe haven seperti emas dan government bond," ujar Bhima.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!