Dedolarisasi BRICS Terancam Jadi Pepesan Kosong, Penyebabnya dari Dalam Sendiri

Rabu, 04 Oktober 2023 - 10:40 WIB
Sayangnya, sebulan kemudian, hubungan tersebut kembali dipertanyakan ketika Xi Jinping tak nongol di KTT G20 New Delhi--pertama kalinya sejak tahun 2008 ketika Xi tidak menghadiri konferensi tersebut. Beijing tidak menjelaskan ketidakhadiran Xi, dan Perdana Menteri Li Qiang malah memimpin delegasi China.

Lalu bagaimana dengan mata uang BRICS? Menciptakan mata uang bersama tidaklah mudah, dan negara-negara BRICS yang beragam harus bersatu dalam beberapa isu, termasuk pembentukan bank sentral dan penghapusan mata uang mereka secara bertahap.

Euro memerlukan waktu persiapan puluhan tahun di Eropa, dan penggunaan mata uang tersebut secara global juga masih kalah dibandingkan dolar. Pada Agustus, greenback menyumbang 48% pembayaran global melalui sistem pesan SWIFT, jauh lebih tinggi dibandingkan euro yang hanya 23%.

KTT BRICS baru-baru ini juga berakhir tanpa adanya mata uang baru dan kelima anggota mengeluarkan komentar yang kontradiktif mengenai de-dolarisasi. Tampaknya hanya Rusia dan Brasil yang benar-benar mendorong mata uang bersama BRICS. China belum mengomentari gagasan tersebut, sementara India dan Afrika Selatan mengatakan isu itu tidak ada dalam agenda KTT.

Mata uang BRICS, jika memang terjadi hanya memiliki kegunaan yang sempit. Amitendu Palit, kepala peneliti ekonomi di National University of Singapore, mengatakan ada permasalahan lebih besar yang menghalangi mata uang BRICS. Di antaranya, lingkungan peraturan yang beragam dan mata uang semua anggotanya tidak dapat dengan mudah diperdagangkan di pasar valuta asing.

Baca juga: Bos Aston Martin Sedih Hypercar Mewah Cuma Jadi Pajangan Orang Kaya

Mengenai perbedaan politik, Palit berpendapat bahwa setiap negara pada akhirnya bersifat rasional. "Baik China maupun India sadar bahwa mereka adalah pesaing,” kata Palit.
(uka)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!