Hindari Jurang Resesi, Percepat Penyerapan Anggaran PEN
Selasa, 11 Agustus 2020 - 09:36 WIB
Akibat lambannya implementasi PEN inilah yang membuat Presiden Jokowi akhirnya memangkas sejumlah program untuk langkah efisiensi yang awalnya ada lima program, dipangkas menjadi tiga program. "Tadinya awalnya ada lima program, tapi Pak Presiden (Joko Widodo) bilang tiga saja, yang penting jalan. Ngapain program tebal-tebal, implementasinya payah," tegas Erick. (Baca juga: Anies Baswedan Bikin Keok Kang Emil, Ganjar, dan Khofifah)
Padahal, Erick yakin jika implementasi program-program tersebut berjalan akan memberi efek bagi pertumbuhan ekonomi dalam negeri. Bahkan, dia mengklaim akan pulih secara cepat 100% yang diikuti oleh pertumbuhan sejumlah sektor bisnis pada kuartal I/2021. Erick mencontohkan, recovery ekonomi di China terjadi akibat program pemulihan ekonomi mereka tidak muluk-muluk.
Agaknya Erick dan jajarannya harus lebih bekerja keras lagi. Pasalnya, data yang dipaparkan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebutkan realisasi pembiayaan program PEN hingga 6 Agustus 2020, baru mencapai Rp151,25 triliun atau 21,8% dari pagu sebesar Rp695,2 triliun.
"Dari Rp695,2 triliun itu, DIPA sudah dikeluarkan Rp313,2 triliun. Anggaran yang tanpa pakai DIPA Rp155,9 triliun yaitu insentif perpajakan, sedangkan yang masih belum di-DIPA-kan sebanyak Rp226,1 triliun," kata Sri Mulyani.
Sri Mulyani memerinci untuk bidang kesehatan dengan alokasi Rp87,55 triliun realisasinya baru Rp7,1 triliun atau 14,4% dari anggaran, sedangkan untuk program perlindungan sosial dengan alokasi Rp203,91 triliun telah terealisasi Rp86,45 triliun atau 48,8% dari anggaran. Kemudian untuk sektor kementerian/lembaga dan pemda dengan alokasi Rp106,5 triliun, yang sudah realisasi Rp8,6 triliun atau 25,7% dari anggaran.
Selanjutnya, insentif dunia usaha alokasi anggaran Rp120,61 triliun dengan realisasi Rp16,6 triliun atau 13,7% dari pagu; sedangkan untuk dukungan bagi UMKM dengan alokasi Rp123,47 triliun, realisasinya Rp32,5 triliun atau 27,1% dari anggaran. (Baca juga: Negara Teluk Minta PBB Perpanjang Embargo Senjata, Iran Kesal)
Padahal, Erick yakin jika implementasi program-program tersebut berjalan akan memberi efek bagi pertumbuhan ekonomi dalam negeri. Bahkan, dia mengklaim akan pulih secara cepat 100% yang diikuti oleh pertumbuhan sejumlah sektor bisnis pada kuartal I/2021. Erick mencontohkan, recovery ekonomi di China terjadi akibat program pemulihan ekonomi mereka tidak muluk-muluk.
Agaknya Erick dan jajarannya harus lebih bekerja keras lagi. Pasalnya, data yang dipaparkan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebutkan realisasi pembiayaan program PEN hingga 6 Agustus 2020, baru mencapai Rp151,25 triliun atau 21,8% dari pagu sebesar Rp695,2 triliun.
"Dari Rp695,2 triliun itu, DIPA sudah dikeluarkan Rp313,2 triliun. Anggaran yang tanpa pakai DIPA Rp155,9 triliun yaitu insentif perpajakan, sedangkan yang masih belum di-DIPA-kan sebanyak Rp226,1 triliun," kata Sri Mulyani.
Sri Mulyani memerinci untuk bidang kesehatan dengan alokasi Rp87,55 triliun realisasinya baru Rp7,1 triliun atau 14,4% dari anggaran, sedangkan untuk program perlindungan sosial dengan alokasi Rp203,91 triliun telah terealisasi Rp86,45 triliun atau 48,8% dari anggaran. Kemudian untuk sektor kementerian/lembaga dan pemda dengan alokasi Rp106,5 triliun, yang sudah realisasi Rp8,6 triliun atau 25,7% dari anggaran.
Selanjutnya, insentif dunia usaha alokasi anggaran Rp120,61 triliun dengan realisasi Rp16,6 triliun atau 13,7% dari pagu; sedangkan untuk dukungan bagi UMKM dengan alokasi Rp123,47 triliun, realisasinya Rp32,5 triliun atau 27,1% dari anggaran. (Baca juga: Negara Teluk Minta PBB Perpanjang Embargo Senjata, Iran Kesal)
Lihat Juga :