Ekonomi Indonesia Jalan di Tempat dalam 10 Tahun Terakhir, Ekonom Ungkap Masalahnya
Jum'at, 13 September 2024 - 19:28 WIB
Menurutnya, pembangunan infrastruktur memang penting dilakukan untuk meningkatkan konektivitas, tapi tidak serta merta bisa mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Sehingga perlu penguatan dari sisi industri manufaktur untuk lebih menggairahkan pertumbuhan ekonomi.
"Indonesia itu begitu luas, sehingga pembangunan infrastruktur yang masif itu masih meninggalkan lubang lubang, dalam artian tidak semua titik-titik itu terhubung antar satu kota atau kawasan," kata Ryan.
Baca Juga: Ekonomi Global Diramal Stagnan, Sri Mulyani Cs Waswas
"Sekalipun kita masih heavy di pembangunan infrastruktur , mestinya harus ada sektor ekonomi atau bidang usaha yang bisa kita petik hasilnya, misal manufaktur, itu karakternya padat modal dan padat karya," sambungnya.
Lemahnya pembangunan manufaktur membuatnya menyoroti S&P Global merilis Purchasing Manager’s Index atau PMI Manufaktur Indonesia bulan Juli 2024 sebesar 49,3. Level tersebut turun dibandingkan Juni 2024 sebesar 50,7.
"Indonesia itu begitu luas, sehingga pembangunan infrastruktur yang masif itu masih meninggalkan lubang lubang, dalam artian tidak semua titik-titik itu terhubung antar satu kota atau kawasan," kata Ryan.
Baca Juga: Ekonomi Global Diramal Stagnan, Sri Mulyani Cs Waswas
"Sekalipun kita masih heavy di pembangunan infrastruktur , mestinya harus ada sektor ekonomi atau bidang usaha yang bisa kita petik hasilnya, misal manufaktur, itu karakternya padat modal dan padat karya," sambungnya.
Lemahnya pembangunan manufaktur membuatnya menyoroti S&P Global merilis Purchasing Manager’s Index atau PMI Manufaktur Indonesia bulan Juli 2024 sebesar 49,3. Level tersebut turun dibandingkan Juni 2024 sebesar 50,7.
Lihat Juga :