Menakar Efek Tren Kendaraan Listrik dalam Pertumbuhan Ekonomi dan Pemanfaatan Mineral

Senin, 21 Oktober 2024 - 18:35 WIB
“Ketersediaan mineral kritis di Indonesia memberikan keuntungan strategis bagi pengembangan industri EV lokal,” kata Ketua Dewan Pembina Organisasi Diaspora Anak Muda Amankan Nusantara (AMAN), Feiral Rizky Batubara.

Namun, ada ironi di balik transisi ini. Meskipun kendaraan listrik digadang-gadang sebagai solusi ramah lingkungan, sumber energi untuk pengisian baterai di Indonesia sebagian besar masih berasal dari pembangkit listrik berbasis batu bara. Indonesia, sebagai salah satu produsen batu bara terbesar di dunia, masih mengandalkan batu bara untuk mendukung kebutuhan energi domestik.

“Pengembangan EV di Indonesia masih bergantung pada batu bara, namun kita perlu melihat kondisi ini sebagai jembatan menuju kemandirian energi sebelum energi terbarukan dapat memiliki peran yang lebih dominan dalam komposisi bauran energi Indonesia,” ujar Feiral.

Pemerintah juga tidak mengabaikan potensi energi terbarukan, seperti matahari, angin, dan biomassa, yang berlimpah di Indonesia. Pengembangan infrastruktur pengisian baterai berbasis energi terbarukan menjadi salah satu fokus utama dalam mendorong ekosistem EV yang lebih berkelanjutan.

“Infrastruktur pengisian berbasis energi terbarukan akan menjadi pendorong utama dalam menciptakan siklus energi bersih,” jelas Feiral.

Dengan semua potensi mineral yang dimiliki, Indonesia dapat menjadi pusat produksi baterai EV dunia. Hyundai dan LG Chem, misalnya, berencana berinvestasi sekitar USD1,1 miliar untuk membangun pabrik baterai di Indonesia, yang diperkirakan akan menciptakan lebih dari 20.000 lapangan kerja.

“Investasi besar ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki potensi dan sedang bersiap menjadi pemain utama dalam industri EV dunia,” ungkap Feiral.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!