Rubel Keok Lawan Dolar AS, Orang Terkaya Rusia Sebut Masih Masuk Akal
Rabu, 18 Desember 2024 - 18:14 WIB
Seperti diketahui rubel terus merosot ke level terendah sejak Maret 2022, setelah AS menjatuhkan sanksi kepada sekitar 50 bank Rusia pada 21 November, lalu. Meski perlahan mulai merangkak naik, rubel masih berada di kisaran 103,4305 per dolar AS.
Depresiasi mata uang menambah tekanan terhadap bank sentral untuk terus menaikkan suku bunga pinjaman utamanya, yang sudah mencapai rekor 21%. Di sisi lain Potanin mengatakan, sanksi Barat semakin memperumit transaksi keuangan dan logistik bagi eksportir Rusia.
Kondisi tersebut membuat modal kerja Nornickel, penambang terbesar Rusia, semakin membengkak menjadi hampir USD4 miliar seiring meningkatnya biaya akibat dihantam sanksi, dibandingkan tahun-tahun sebelumnya senilai USD1 miliar.
Baca Juga: Rubel Merosot Tajam, Putin Minta Warga Rusia Tidak Panik
Potatin yang menjabat Presiden MMC Norilsk Nickel PJSC berharap, langkah-langkah anti-krisis bisa membantu kas penambang kembali ke arus positif tahun depan. "Perusahaan tidak akan mendistribusikan dividen sampai melakukannya," ungkapnya.
Depresiasi mata uang menambah tekanan terhadap bank sentral untuk terus menaikkan suku bunga pinjaman utamanya, yang sudah mencapai rekor 21%. Di sisi lain Potanin mengatakan, sanksi Barat semakin memperumit transaksi keuangan dan logistik bagi eksportir Rusia.
Kondisi tersebut membuat modal kerja Nornickel, penambang terbesar Rusia, semakin membengkak menjadi hampir USD4 miliar seiring meningkatnya biaya akibat dihantam sanksi, dibandingkan tahun-tahun sebelumnya senilai USD1 miliar.
Baca Juga: Rubel Merosot Tajam, Putin Minta Warga Rusia Tidak Panik
Potatin yang menjabat Presiden MMC Norilsk Nickel PJSC berharap, langkah-langkah anti-krisis bisa membantu kas penambang kembali ke arus positif tahun depan. "Perusahaan tidak akan mendistribusikan dividen sampai melakukannya," ungkapnya.
(akr)
Lihat Juga :