Neraca Pembayaran Tekor, Apakah Indonesia Masih Mampu Bayar Utang?
Kamis, 22 Mei 2025 - 11:34 WIB
Transaksi berjalan pada kuartal I-2025 mencatat defisit sebesar USD0,2 miliar, atau 0,1% dari produk domestik bruto (PDB). Angka ini lebih rendah dibandingkan kuartal IV-2024 yang mengalami defisit USD1,1 miliar atau 0,3% dari PDB.
Surplus neraca perdagangan barang memang mengalami peningkatan, terutama karena masih positifnya neraca perdagangan nonmigas. Namun, pelemahan ekspor nonmigas terjadi akibat turunnya harga komoditas global serta melemahnya permintaan dari mitra dagang utama.
Di sisi lain, impor nonmigas justru turun lebih dalam, terutama pada kelompok bahan baku dan barang penolong. Kondisi ini mencerminkan perlambatan aktivitas produksi di dalam negeri dan permintaan domestik yang belum pulih sepenuhnya.
Neraca jasa juga mencatat peningkatan defisit, seiring menurunnya jumlah wisatawan mancanegara ke Indonesia. Hal ini membuat surplus dari jasa perjalanan menurun. Selain itu, pembayaran imbal hasil investasi luar negeri yang meningkat memperburuk neraca pendapatan primer.
Untuk transaksi modal dan finansial, meski masih defisit USD0,3 miliar, aliran investasi langsung tetap mencatat surplus. Hal ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi nasional dan stabilitas iklim investasi Indonesia yang tetap terjaga.
Surplus neraca perdagangan barang memang mengalami peningkatan, terutama karena masih positifnya neraca perdagangan nonmigas. Namun, pelemahan ekspor nonmigas terjadi akibat turunnya harga komoditas global serta melemahnya permintaan dari mitra dagang utama.
Di sisi lain, impor nonmigas justru turun lebih dalam, terutama pada kelompok bahan baku dan barang penolong. Kondisi ini mencerminkan perlambatan aktivitas produksi di dalam negeri dan permintaan domestik yang belum pulih sepenuhnya.
Neraca jasa juga mencatat peningkatan defisit, seiring menurunnya jumlah wisatawan mancanegara ke Indonesia. Hal ini membuat surplus dari jasa perjalanan menurun. Selain itu, pembayaran imbal hasil investasi luar negeri yang meningkat memperburuk neraca pendapatan primer.
Untuk transaksi modal dan finansial, meski masih defisit USD0,3 miliar, aliran investasi langsung tetap mencatat surplus. Hal ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi nasional dan stabilitas iklim investasi Indonesia yang tetap terjaga.
Lihat Juga :