Bos Telegram Wariskan Hartanya Rp227 Triliun ke 100 Anak, Termasuk dari Hasil Donor Sperma
Minggu, 22 Juni 2025 - 09:15 WIB
CEO klinik sperma Give Legacy, Khaled Kteily, menjelaskan, verifikasi anak-anak tersebut bergantung pada status donor Durov, apakah diketahui orang tua atau anonim. "Jika ada yang mengklaim, tes paternitas bisa mengonfirmasi," katanya.
Namun, warisan ini tak bisa dinikmati dalam waktu dekat. Durov menegaskan, anak-anaknya harus hidup mandiri dulu. "Saya ingin mereka membangun diri sendiri, tidak bergantung pada uang," tegasnya.
Kebijakan ini kontras dengan sejumlah miliarder lain seperti Bill Gates yang hanya mewariskan kurang dari 1% kekayaannya untuk anak-anaknya. Durov, 40 tahun, dikenal sebagai sosok kontroversial.
Setelah mendirikan Telegram pada 2013, ia kabur dari Rusia karena menolak permintaan pemerintah memblokir kelompok oposisi di VKontakte, jejaring sosial sebelumnya. Kini, ia menetap di Dubai dengan kewarganegaraan ganda.
Baca Juga: Breaking News: AS Resmi Serang Iran, Bombardir 3 Situs Nuklir
Telegram, platform yang mengusung kebebasan berekspresi, kerap dituding menjadi sarana kejahatan. Agustus 2024, Durov diselidiki otoritas Prancis atas dugaan keterlibatan dalam transaksi narkoba dan penyebaran konten ilegal, termasuk eksploitasi anak. Meski dibatasi bepergian, ia akhirnya diizinkan kembali ke Dubai.
Namun, warisan ini tak bisa dinikmati dalam waktu dekat. Durov menegaskan, anak-anaknya harus hidup mandiri dulu. "Saya ingin mereka membangun diri sendiri, tidak bergantung pada uang," tegasnya.
Kebijakan ini kontras dengan sejumlah miliarder lain seperti Bill Gates yang hanya mewariskan kurang dari 1% kekayaannya untuk anak-anaknya. Durov, 40 tahun, dikenal sebagai sosok kontroversial.
Setelah mendirikan Telegram pada 2013, ia kabur dari Rusia karena menolak permintaan pemerintah memblokir kelompok oposisi di VKontakte, jejaring sosial sebelumnya. Kini, ia menetap di Dubai dengan kewarganegaraan ganda.
Baca Juga: Breaking News: AS Resmi Serang Iran, Bombardir 3 Situs Nuklir
Telegram, platform yang mengusung kebebasan berekspresi, kerap dituding menjadi sarana kejahatan. Agustus 2024, Durov diselidiki otoritas Prancis atas dugaan keterlibatan dalam transaksi narkoba dan penyebaran konten ilegal, termasuk eksploitasi anak. Meski dibatasi bepergian, ia akhirnya diizinkan kembali ke Dubai.
Lihat Juga :