Tak Hati-hati Salurkan Rp200 Triliun, Purbaya: Dirut Bank Himbara Harusnya Dipecat

Selasa, 16 September 2025 - 21:21 WIB
Menkeu juga menepis anggapan bahwa permintaan kredit sedang lesu saat pemerintah memutuskan untuk mengalihkan dana segar tersebut. Ia menyindir pihak yang meragukan kebijakan ini. "Siapa bilang? Anda ada ekonom yang bilang begitu kan? Dia mesti belajar lagi ekonomi," seloroh Purbaya.

Lebih lanjut, Purbaya menjelaskan pengalaman empiris pemerintah saat mengatasi pertumbuhan kredit yang rendah pada tahun 2021. Menurutnya, saat itu banyak pihak menyatakan bahwa kredit tidak dapat tumbuh sebelum kondisi ekonomi membaik. Namun, pemerintah mengambil langkah strategis dengan menyuntikkan dana segar ke dalam sistem keuangan pada medio Mei 2021.

"Cukup signifikan, M0 (uang beredar) tumbuh double digit. Dalam waktu yang hampir bersamaan, kredit juga tumbuh," jelas Purbaya.

Purbaya menambahkan, secara teori, kondisi ini berhubungan dengan biaya peluang uang (opportunity cost of money). "Kalau opportunity cost of money turun, bunga turun, uang ada, orang yang punya uang jadi nggak sayang belanja lagi," lanjutnya.

Menurut Menkeu, situasi ini juga menjadi momentum bagi perusahaan untuk berekspansi bisnis, karena mereka tidak lagi takut meminjam uang dengan bunga yang mencekik. Ia meyakini, dengan perilaku sistem perekonomian yang tidak berubah, kebijakan terbaru ini akan menghasilkan respons yang sama, yakni pertumbuhan kredit yang kembali.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!