Realisasi Impor Sapi Perah Baru 11.500 Ekor hingga September 2025

Jum'at, 19 September 2025 - 22:29 WIB
Nada serupa disampaikan CEO N9 Dairy Farm, Syafeezan, yang menekankan perlunya reformasi ekosistem susu nasional. Menurut dia, impor sapi hanyalah pintu masuk. “Jika industri pengolahan susu masih nyaman dengan bubuk impor, sebanyak apa pun sapi yang didatangkan tidak akan memberi dampak signifikan,” ucapnya.

Dari sisi peternak, Bayu Aji dari Sapiperahfarm.id menuturkan persoalan harga susu segar yang kerap rendah. “Kami ingin sapi impor benar-benar diiringi dengan penyerapan maksimal susu lokal. Kalau tidak, perjuangan peternak akan sia-sia,” katanya.

Data Kementerian Pertanian mencatat, produksi susu segar dalam negeri baru mampu memenuhi sekitar 20 persen kebutuhan nasional, sementara 80 persen sisanya dipenuhi impor. Kondisi ini semakin mengkhawatirkan seiring program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Minum Susu Gratis yang menargetkan lebih dari 80 juta siswa di seluruh Indonesia.

Program MBG diperkirakan membutuhkan 16 juta liter susu per hari, atau 3,2 miliar liter per tahun. Sementara itu, produksi susu nasional baru sekitar 1 miliar liter per tahun. Kesenjangan inilah yang membuat target kemandirian gizi sulit terwujud tanpa tambahan populasi sapi perah dalam jumlah signifikan.

Seekor sapi perah rata-rata menghasilkan 15–20 liter susu per hari. Untuk memenuhi kebutuhan MBG saja, Indonesia memerlukan 800 ribu hingga 1 juta ekor sapi produktif. Saat ini populasi sapi perah nasional masih sekitar 600 ribu ekor, sehingga defisit ratusan ribu ekor harus segera diatasi.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!