Kartu Prakerja Jadi Harapan Penopang Ekonomi Saat Pandemi

Senin, 14 September 2020 - 09:03 WIB
Menurut Bhima, Kartu Prakerja dalam bentuk pelatihan dinilai belum tepat sasaran sebab masyarakat saat ini membutuhkan insentif dalam bentuk tunai. “Tapi tidak semua diberi pelatihan. Ada yang setelah diberi pelatihan, kemudian diberi insentif dana. Nah, insentif inilah saya kira yang sangat dibutuhkan,” ungkapnya.

Dia menambahkan, program Kartu Prakerja juga bukan solusi atas tingginya pengangguran akibat pandemi. “Saya kira bukan solusi juga. Mengatasi pengangguran itu, harus dibantu stimulus pada perusahaan yang mau bangkrut. Dengan begitu, perusahaan yang dibantu setidaknya masih bisa bernapas sehingga tidak memilih opsi merumahkan ataupun PHK,” ungkapnya.

Adapun maksud pemerintah memberikan Kartu Prakerja dalam rangka menumbuhkan minat sebagai wiraswasta, dinilainya belum tepat dalam kondisi seperti ini. “Kalau kondisi seperti ini saya kira tidak tepat. Karena hampir semua masyarakat dipastikan menahan konsumsinya,” katanya.

Menurut Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah, dalam masa pandemi Covid-19 ini program Kartu Prakerja jelas tidak akan bisa menjadi solusi menekan angka pengangguran apalagi menciptakan wirausaha. (Baca juga: PSBB Jilid II ala Anies Kantongi Dukungan dari Kadin)

"Pemerintah berasumsi pelatihan ini efektif meningkatkan kualitas tenaga kerja. Namun sejatinya, permintaan terhadap tenaga kerja menurun akibat pandemi maka penyerapan tenaga kerja tetap tidak terjadi," ujar Piter.

Apalagi, tambah dia, hingga saat ini masyarakat juga bisa pahami belum ada bukti pelatihan yang diselenggarakan dengan bantuan Kartu Prakerja benar-benar efektif meningkatkan kualitas tenaga kerja. "Belum ada bukti pelatihan prakerja berdampak efektif," ujarnya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!