Setahun Prabowo-Gibran, 37 Proyek Strategis Ketenagalistrikan Beroperasi
Senin, 20 Oktober 2025 - 17:27 WIB
Bambang mencontohkan inisiatif ekosistem baterai di Karawang yang diresmikan sebagai bagian dari hilirisasi industri baterai nasional. Langkah ini menunjukkan bahwa pemerintahan mencoba menyusun rantai nilai energi hijau dari pembangkitan hingga hilirisasi industri.
"Respons tokoh masyarakat dan organisasi lingkungan pun terlihat positif, meski penuh catatan teknis. Organisasi lingkungan dan akademisi menyambut baik penempatan proyek EBT dan jaringan transmisi sebagai langkah awal untuk menurunkan emisi dan mendorong investasi hijau dengan catatan perlunya transparansi, analisis dampak lingkungan, dan pelibatan masyarakat lokal dalam proses pengambilan keputusan," tandasnya.
Direktur Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa, mengingatkan bahwa target ambisius tersebut memerlukan peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan kelembagaan untuk memastikan bahwa proyek tidak hanya “diresmikan” tetapi juga beroperasi optimal dan berkelanjutan.
"Tentu terdapat tantangan nyata diantaranya sinkronisasi antara pembangkit dan jaringan transmisi, pembiayaan berkelanjutan, manajemen sosial-lingkungan, serta kebutuhan regulasi pasar tenaga listrik yang mengakomodasi variabilitas EBT," paparnya.
Langkah Prabowo-Gibran menempatkan energi sebagai prioritas strategis dengan memperbesar pasokan, memperkuat jaringan, dan membuka ruang bagi EBT serta hilirisasi industri. Hal tersebut akan menjadi kesuksesan jangka panjang akan bergantung pada konsistensi implementasi, keterbukaan regulasi, dan kemampuan negara menjaga keseimbangan antara pembangunan cepat dan keberlanjutan lingkungan-sosial.
"Respons tokoh masyarakat dan organisasi lingkungan pun terlihat positif, meski penuh catatan teknis. Organisasi lingkungan dan akademisi menyambut baik penempatan proyek EBT dan jaringan transmisi sebagai langkah awal untuk menurunkan emisi dan mendorong investasi hijau dengan catatan perlunya transparansi, analisis dampak lingkungan, dan pelibatan masyarakat lokal dalam proses pengambilan keputusan," tandasnya.
Direktur Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa, mengingatkan bahwa target ambisius tersebut memerlukan peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan kelembagaan untuk memastikan bahwa proyek tidak hanya “diresmikan” tetapi juga beroperasi optimal dan berkelanjutan.
"Tentu terdapat tantangan nyata diantaranya sinkronisasi antara pembangkit dan jaringan transmisi, pembiayaan berkelanjutan, manajemen sosial-lingkungan, serta kebutuhan regulasi pasar tenaga listrik yang mengakomodasi variabilitas EBT," paparnya.
Langkah Prabowo-Gibran menempatkan energi sebagai prioritas strategis dengan memperbesar pasokan, memperkuat jaringan, dan membuka ruang bagi EBT serta hilirisasi industri. Hal tersebut akan menjadi kesuksesan jangka panjang akan bergantung pada konsistensi implementasi, keterbukaan regulasi, dan kemampuan negara menjaga keseimbangan antara pembangunan cepat dan keberlanjutan lingkungan-sosial.
(nng)
Lihat Juga :