Jaga Terus Optimisme
Selasa, 15 September 2020 - 05:59 WIB
Selain konsumsi, kata dia, sebenarnya ada sektor lain yang juga mengungkit perekonomian yakni belanja pemerintah. Untuk itu, dia mendesak agar realisasi belanja dipercepat serta melakukan realokasi anggaran ke sektor yang lebih membutuhkan, misalnya kesehatan dan bantuan sosial.
"Semakin banyak cash transfer khususnya ke kelompok kelas menengah rentan miskin seperti pekerja informal, guru honorer, dan korban PHK, maka pemulihan di sisa kuartal III dan IV lebih cepat," ucapnya. (Baca juga: Kenali Gejala Kanker Payudara Sejak Dini)
Kembali ke Jalur Hijau
Di bagian lain, Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan sejatinya PSBB DI DKI Jakarta belum pernah dicabut. Dia pun berharap agar ke depan tidak ada kejutan yang bisa memengaruhi pasar keuangan setelah PSBB kembali diperketat di Ibu Kota mulai kemarin.
Menurut Airlangga, pasar keuangan yang sempat jatuh ke zona merah akhir pekan lalu, pada perdagangan kemarin sudah kembali ke jalur hijau. Hal itu seiring dengan jaminan dari pemerintah terkait tersedianya pelayanan kesehatan dan fasilitas rumah sakit. Selain itu, anggaran yang disediakan untuk percepatan penanganan pandemi Covid-19 juga sangat besar dan bisa segera disalurkan.
Diketahui, dalam program PEN yang dicanangkan sejak terjadinya pandemi, pemerintah menyediakan anggaran total Rp695 triliun yang dialokasikan untuk sektor kesehatan dan ekonomi. Dari jumlah tersebut, realisasinya hingga pekan lalu baru mencapai 34,1%.
Sementara terkait optimisme Presiden Jokowi terhadap pertumbuhan ekonomi kuartal III/2020, peneliti Indef Nailul Huda menilai apa yang disampaikan Kepala Negara terlampau optimistis. (Lihat videonya: DKI Jakarta Mulai Berlakukan PSBB Jilid II Mulai Hari Ini)
"Saya sangat yakin kita menghadapi resesi di kuartal III ini," kata Huda saat dihubungi di Jakarta kemarin.
Menurutnya, optimisme Jokowi berdasarkan pada daya beli. Padahal, ujar dia, jika melihat kondisi sekarang maka daya beli masyarakat sangat terpuruk. “Kita tahu sendiri pengangguran naik akibat berhentinya produksi,” ujarnya. (Kunthi Fahmar Sandy/Rina Anggraeni/Fahreza Rizky)
"Semakin banyak cash transfer khususnya ke kelompok kelas menengah rentan miskin seperti pekerja informal, guru honorer, dan korban PHK, maka pemulihan di sisa kuartal III dan IV lebih cepat," ucapnya. (Baca juga: Kenali Gejala Kanker Payudara Sejak Dini)
Kembali ke Jalur Hijau
Di bagian lain, Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan sejatinya PSBB DI DKI Jakarta belum pernah dicabut. Dia pun berharap agar ke depan tidak ada kejutan yang bisa memengaruhi pasar keuangan setelah PSBB kembali diperketat di Ibu Kota mulai kemarin.
Menurut Airlangga, pasar keuangan yang sempat jatuh ke zona merah akhir pekan lalu, pada perdagangan kemarin sudah kembali ke jalur hijau. Hal itu seiring dengan jaminan dari pemerintah terkait tersedianya pelayanan kesehatan dan fasilitas rumah sakit. Selain itu, anggaran yang disediakan untuk percepatan penanganan pandemi Covid-19 juga sangat besar dan bisa segera disalurkan.
Diketahui, dalam program PEN yang dicanangkan sejak terjadinya pandemi, pemerintah menyediakan anggaran total Rp695 triliun yang dialokasikan untuk sektor kesehatan dan ekonomi. Dari jumlah tersebut, realisasinya hingga pekan lalu baru mencapai 34,1%.
Sementara terkait optimisme Presiden Jokowi terhadap pertumbuhan ekonomi kuartal III/2020, peneliti Indef Nailul Huda menilai apa yang disampaikan Kepala Negara terlampau optimistis. (Lihat videonya: DKI Jakarta Mulai Berlakukan PSBB Jilid II Mulai Hari Ini)
"Saya sangat yakin kita menghadapi resesi di kuartal III ini," kata Huda saat dihubungi di Jakarta kemarin.
Menurutnya, optimisme Jokowi berdasarkan pada daya beli. Padahal, ujar dia, jika melihat kondisi sekarang maka daya beli masyarakat sangat terpuruk. “Kita tahu sendiri pengangguran naik akibat berhentinya produksi,” ujarnya. (Kunthi Fahmar Sandy/Rina Anggraeni/Fahreza Rizky)
(ysw)
Lihat Juga :