Rupiah Dekati Rp17.000 per Dolar AS, Purbaya Klaim Efek ke Ekonomi Minim

Rabu, 21 Januari 2026 - 07:55 WIB
“Ini berapa persen Rupiah melemah dibanding sebelumnya? Year to date berapa? 2-3 persen. Anda importir ada kenaikan 2-3 persen, masih bisa dikendalikan enggak? Saya pikir sih masih bisa,” ujarnya.

Mengenai dampaknya terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), terutama subsidi energi, Purbaya memastikan posisi fiskal masih aman karena kenaikan nilai tukar diimbangi oleh harga minyak dunia yang masih berada di bawah asumsi makro.

“Dolarnya naik berapa sih, enggak jauh beda dengan asumsi APBN kita dan harga minyaknya kan di bawah asumsi APBN. Jadi subsidinya ya gampangnya relatif terkendali selama ini,” katanya.

Purbaya menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa koordinasi melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) terus diperkuat, meski otoritas kebijakan nilai tukar sepenuhnya berada di tangan Bank Indonesia.

“Tanya saja ke Bank Sentral apa yang terjadi, karena saya enggak bisa intervensi untuk kebijakan nilai tukar, itu otoritas Bank Sentral,” pungkasnya.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!