KKP Pastikan Program MBG Bukan Pemicu Kenaikan Harga Ikan
Kamis, 19 Februari 2026 - 20:46 WIB
"Ke depan dengan adanya program strategis yang dikembangkan seperti BINS yang akan banyak, kemudian juga ada reklamasi Pantura, sumber protein ikan kita juga akan semakin banyak. Sehingga kalau nanti kebutuhan untuk MBG yang 82,9 juta, kalau nanti (dibutuhkan) ikan kita siap," jelasnya.
Sementara itu, Direktur Kepelabuhan Perikanan KKP, Ady Candra, mengakui adanya kenaikan harga pada sejumlah komoditas ikan di beberapa daerah. Namun menurutnya, secara nasional harga masih dalam level aman dan wajar menjelang bulan Ramadan.
Ady merinci, kenaikan harga tercatat pada komoditas ikan cakalang di sejumlah wilayah Sulawesi, namun secara nasional masih tergolong stabil. Kenaikan terbatas juga terjadi pada komoditas cumi di Jakarta dan Jawa Tengah, serta ikan kakap di Jawa Timur, Jawa Tengah, Gorontalo, dan Jakarta. Untuk komoditas tongkol, kenaikan hanya terjadi di Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Utara. "Tuna dominan stabil, kenaikan hanya di Sulawesi Utara. Ya memang dominan tuna di sana dan juga dominan dikonsumsi oleh masyarakat lokal di sana," jelas Ady.
Baca Juga: Disikat Balik Trenggono soal Anggaran Kapal, Ini Jawaban Purbaya
Dari sisi produksi, Ady memprediksi adanya penurunan produksi perikanan tangkap pada periode Januari hingga Maret 2026. Penurunan tersebut dipengaruhi faktor musim dan kondisi cuaca yang kurang bersahabat. Prognosa produksi perikanan tangkap hingga Maret 2026 diperkirakan mencapai sekitar 7,3 juta ton, lebih rendah dibandingkan periode normal. "Ini sedikit agak turun memang karena pola musim dan juga pola penangkapan yang memang sangat tergantung dengan faktor cuaca," ungkap Ady.
Sementara itu, Direktur Kepelabuhan Perikanan KKP, Ady Candra, mengakui adanya kenaikan harga pada sejumlah komoditas ikan di beberapa daerah. Namun menurutnya, secara nasional harga masih dalam level aman dan wajar menjelang bulan Ramadan.
Ady merinci, kenaikan harga tercatat pada komoditas ikan cakalang di sejumlah wilayah Sulawesi, namun secara nasional masih tergolong stabil. Kenaikan terbatas juga terjadi pada komoditas cumi di Jakarta dan Jawa Tengah, serta ikan kakap di Jawa Timur, Jawa Tengah, Gorontalo, dan Jakarta. Untuk komoditas tongkol, kenaikan hanya terjadi di Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Utara. "Tuna dominan stabil, kenaikan hanya di Sulawesi Utara. Ya memang dominan tuna di sana dan juga dominan dikonsumsi oleh masyarakat lokal di sana," jelas Ady.
Baca Juga: Disikat Balik Trenggono soal Anggaran Kapal, Ini Jawaban Purbaya
Dari sisi produksi, Ady memprediksi adanya penurunan produksi perikanan tangkap pada periode Januari hingga Maret 2026. Penurunan tersebut dipengaruhi faktor musim dan kondisi cuaca yang kurang bersahabat. Prognosa produksi perikanan tangkap hingga Maret 2026 diperkirakan mencapai sekitar 7,3 juta ton, lebih rendah dibandingkan periode normal. "Ini sedikit agak turun memang karena pola musim dan juga pola penangkapan yang memang sangat tergantung dengan faktor cuaca," ungkap Ady.
(nng)
Lihat Juga :