Perang AS-Iran Makin Memanas, Ketua Kadin Peringatkan 3 Risiko Global Ini Perlu Diwaspadai
Senin, 09 Maret 2026 - 22:59 WIB
Dari sisi energi, Anindya mengingatkan bahwa kenaikan harga minyak dunia berpotensi memberikan tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Jika harga minyak menembus USD100 per barel, defisit anggaran berpotensi meningkat signifikan.
"Kalau harga minyak terus naik bahkan menembus 100 dolar AS per barel, tentu ini menjadi tekanan besar bagi APBN kita. Saat ini APBN kita di Rp600 triliun kurang lebih defisit yang dianggarkan, tentu angkanya bisa naik sampai 40–50 persen," jelasnya.
Meski demikian Ia menyebut ketahanan energi di DKI Jakarta relatif aman, khususnya dalam hal pasokan gas dan bahan bakar minyak yang penting bagi aktivitas ekonomi, termasuk sektor perikanan.
Selain energi, Anindya juga menyoroti pentingnya menjaga ketahanan pangan, terutama untuk menekan laju inflasi menjelang momentum Lebaran. Ia mengapresiasi inisiatif Kadin DKI Jakarta yang membantu stabilisasi harga melalui program pasar murah.
"Kita mulai melihat inflasi sedikit demi sedikit merangkak naik, apalagi menjelang periode Lebaran," katanya.
Aspek ketiga yang menjadi perhatian adalah stabilitas nasional, khususnya stabilitas Jakarta sebagai pusat kegiatan ekonomi Indonesia. Menurutnya, peran Jakarta dalam perekonomian nasional sangat besar dengan kontribusi Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai 16,8% serta pertumbuhan ekonomi 5,21%, yang berada di atas rata-rata nasional.
"DKI Jakarta sekarang bukan lagi ibu kota negara, tetapi justru terlihat transformasinya menjadi pusat servis industri yang baik," ujar Anindya.
"Kalau harga minyak terus naik bahkan menembus 100 dolar AS per barel, tentu ini menjadi tekanan besar bagi APBN kita. Saat ini APBN kita di Rp600 triliun kurang lebih defisit yang dianggarkan, tentu angkanya bisa naik sampai 40–50 persen," jelasnya.
Meski demikian Ia menyebut ketahanan energi di DKI Jakarta relatif aman, khususnya dalam hal pasokan gas dan bahan bakar minyak yang penting bagi aktivitas ekonomi, termasuk sektor perikanan.
Selain energi, Anindya juga menyoroti pentingnya menjaga ketahanan pangan, terutama untuk menekan laju inflasi menjelang momentum Lebaran. Ia mengapresiasi inisiatif Kadin DKI Jakarta yang membantu stabilisasi harga melalui program pasar murah.
"Kita mulai melihat inflasi sedikit demi sedikit merangkak naik, apalagi menjelang periode Lebaran," katanya.
Aspek ketiga yang menjadi perhatian adalah stabilitas nasional, khususnya stabilitas Jakarta sebagai pusat kegiatan ekonomi Indonesia. Menurutnya, peran Jakarta dalam perekonomian nasional sangat besar dengan kontribusi Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai 16,8% serta pertumbuhan ekonomi 5,21%, yang berada di atas rata-rata nasional.
"DKI Jakarta sekarang bukan lagi ibu kota negara, tetapi justru terlihat transformasinya menjadi pusat servis industri yang baik," ujar Anindya.
Lihat Juga :