Energi Menjadi Medan Perang AS-China di Abad Ini
Minggu, 07 Juni 2026 - 21:00 WIB
AS yang mengukuhkan posisinya sebagai produsen minyak mentah terbesar sejak abad ke-19 kini mampu memproduksi 13,6 juta barel minyak per hari dan lebih dari 30 triliun kaki kubik gas alam per tahun. Sistem domestik Paman Sam sangat bersandar pada bahan bakar fosil yang memasok hampir 80 persen kebutuhan energi mereka, dikombinasikan dengan kekuatan armada maritim guna mengamankan jalur perdagangan hidrokarbon global.
Di sisi lain, China menyadari bahwa listrik adalah penggerak utama ekonominya dan secara strategis telah mendiversifikasi sumber energinya ke sektor non-fosil seperti surya, angin, hidro, dan nuklir. Melalui perencanaan matang, kapasitas listrik non-fosil Beijing kini telah melampaui fosil untuk pertama kalinya, menjadikannya pemimpin global dalam teknologi panel surya, turbin angin, baterai, hingga kendaraan listrik.
Namun, rapuhnya rantai pasok energi global kembali teruji oleh dampak penutupan Selat Hormuz yang mengerek harga minyak mentah melewati ambang batas 100 dolar AS per barel. Penutupan jalur krusial yang mengontrol 25 persen perdagangan minyak lintas laut dunia ini sangat memukul China karena Negeri Tirai Bambu tersebut mengimpor 90 persen kebutuhan minyaknya dari Iran melalui rute tersebut.
Bagi Washington, resolusi atas krisis Selat Hormuz sangat penting guna menstabilkan harga minyak domestik agar tidak membebani konsumen Amerika. Lonjakan harga minyak global akibat penutupan jalur maritim ini justru dinilai menguntungkan negara produsen minyak lain seperti Rusia, yang memperoleh sebagian besar devisa dari ekspor minyak dan gas.
Kendati bersaing ketat, aspek saling ketergantungan membuat AS dan China tidak dapat sepenuhnya memutuskan hubungan ekonomi secara sepihak. AS tetap membutuhkan China yang saat ini menguasai rantai pasok energi bersih dunia serta pemrosesan mineral kritis seperti litium, kobalt, dan tanah jarang (rare earths).
Baca Juga: Penasihat Militer Mojtaba Khamenei: Iran Siap Ubah Israel Jadi Neraka Jika Beirut Diinvasi
Di sisi lain, China menyadari bahwa listrik adalah penggerak utama ekonominya dan secara strategis telah mendiversifikasi sumber energinya ke sektor non-fosil seperti surya, angin, hidro, dan nuklir. Melalui perencanaan matang, kapasitas listrik non-fosil Beijing kini telah melampaui fosil untuk pertama kalinya, menjadikannya pemimpin global dalam teknologi panel surya, turbin angin, baterai, hingga kendaraan listrik.
Namun, rapuhnya rantai pasok energi global kembali teruji oleh dampak penutupan Selat Hormuz yang mengerek harga minyak mentah melewati ambang batas 100 dolar AS per barel. Penutupan jalur krusial yang mengontrol 25 persen perdagangan minyak lintas laut dunia ini sangat memukul China karena Negeri Tirai Bambu tersebut mengimpor 90 persen kebutuhan minyaknya dari Iran melalui rute tersebut.
Bagi Washington, resolusi atas krisis Selat Hormuz sangat penting guna menstabilkan harga minyak domestik agar tidak membebani konsumen Amerika. Lonjakan harga minyak global akibat penutupan jalur maritim ini justru dinilai menguntungkan negara produsen minyak lain seperti Rusia, yang memperoleh sebagian besar devisa dari ekspor minyak dan gas.
Kendati bersaing ketat, aspek saling ketergantungan membuat AS dan China tidak dapat sepenuhnya memutuskan hubungan ekonomi secara sepihak. AS tetap membutuhkan China yang saat ini menguasai rantai pasok energi bersih dunia serta pemrosesan mineral kritis seperti litium, kobalt, dan tanah jarang (rare earths).
Baca Juga: Penasihat Militer Mojtaba Khamenei: Iran Siap Ubah Israel Jadi Neraka Jika Beirut Diinvasi
Lihat Juga :