Energi Menjadi Medan Perang AS-China di Abad Ini

Minggu, 07 Juni 2026 - 21:00 WIB
Rvalitas sengit antara China sebagai kekuatan baru berbasis listrik melawan Amerika Serikat sebagai hegemon hidrokarbon dunia. FOTO/iStock Photo
JAKARTA - Perebutan kendali atas sektor energi yang memperkuat status negara adidaya kini telah mengubah kontestasi abad ini menjadi rivalitas sengit antara China sebagai kekuatan baru berbasis listrik (electrostate) melawan Amerika Serikat sebagai hegemon hidrokarbon dunia.

Ketegangan ini diprediksi menjadi penentu utama arah persaingan kedua raksasa ekonomi tersebut dalam beberapa dekade mendatang, terutama di tengah ambisi pengembangan kecerdasan buatan (AI) yang membutuhkan pasokan daya listrik dalam jumlah yang sangat besar.



"Gangguan serius pada pasokan energi akan menjadi determinan mendasar dari hasil persaingan AS-China di masa depan," demikian kutipan laporan analisis geopolitik energi global yang dirilis baru-baru ini dikutip dari South China Morning Post, Minggu (7/6/2026).

Baca Juga: Bos Raksasa Minyak Rusia: AS Untung Besar di Balik Penutupan Selat Hormuz

Laporan tersebut menyoroti ketergantungan kedua negara terhadap rantai pasok global masih sangat tinggi meskipun kebijakan energi mereka saling bertolak belakang. Guna memenangi kompetisi teknologi masa depan seperti robotika, drone, dan peralatan militer, kedua negara membutuhkan kepastian pasokan listrik, di mana AS sendiri masih memerlukan waktu untuk membangun kapasitas pembangkitan baru demi memenuhi kebutuhan pusat data AI mereka.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!